BOPTN Naik, Biaya Kuliah Turun

Sabtu, 16/02/2013

Dibandingkan tahun lalu, Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) naik dua kali lipat menjadi Rp2,7 Triliun. Dengan semakin tingginya BOPTN, maka biaya kuliah untuk PTN semestinya tidak lagi mahal

NERACA

Persepsi sebagian besar masyarakat saat ini menyatakan bahwa kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) adalah suatu hal yang memerlukan biaya besar. Pasalnya, sejak memasuki era Otonomi Daerah, masuk perguruan tinggi negeri pun tidak lagi menjadi garansi bahwa si mahasiswa bisa berasal dari kalangan pra sejahtera.

Ya, untuk masuk PTN prestasi saja tidak mencukupi. Buktinya, secerdas apapun siswa ketika lulus dalam jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) atau jalur prestasi (Undangan) mereka akan menghadapi masalah biaya kuliah yang kisarannya tidak sedikit.

Terlebih lagi biaya pendaftaran awal di Perguruan Tinggi yang dibebankan para orang tua calon mahasiswa dengan jumlah hingga puluhan juta. Tak pelak, dengan keadaan seperti ini akan semakin menjauhkan masyarakat pra sejahtera dari yang namanya akses terhadap pendidikan.

Padahal, Pendidikan merupakan suatu kebutuhan dan hak asasi manusia. Di setiap negara, masyarakat terdidik adalah investasi dan aset yang sangat berharga bagi masa depan bangsa dan negara, khususnya di Indonesia.

Berangkat dari hal tersebut, di pertengahan Juli 2012 lalu, Peraturan Menteri No.58 Tentang Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) disahkan oleh Muhammad Nuh. Ini bertujuan untuk meringankan beban biaya kuliah mahasiswa.

Selain itu, BOPTN juga digunakan untuk meningkatkan pelayanan perguruan tinggi dalam menunjang kegiatan belajar mengajar seperti pelaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, biaya pemeliharaan pengadaan, penambahan bahan praktikum/kuliah, bahan pustaka, penjaminan mutu, pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan, pembiayaan langgan daya dan jasa, pelaksanaan kegiatan penunjang, pengembangan TIK, honor dosen dan tenaga kependidikan non PNS, pengadaan dosen tamu dan kegiatan lain yang merupakan prioritas dalam Renstra tiap PTN.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud Djoko Santoso mengatakan, dana BOPTN yang berasal dari APBN 2013 naik dua kali lipat. Jika pada tahun lalu dana BOPTN mencapai Rp 1,5 triliun maka pada tahun ini dana tersebut dialokasikan sebesar Rp 2,7 triliun.

“itu masih belum apa-apa jika mengacu BOPTN bagi 92 perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia yang kira-kira total anggaran BOPTN 2013 mencapai Rp 12 triliun," kata Direktur Jenderal Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Djoko Santoso kepada Neraca.

Terkait iuran UKT yang dibebankan kepada mahasiswa, Dikti tengah menyusun Unit cost yang ditentukan berdasarkan program studi, kemahalan wilayah, dan karakteristik dan rencananya akan rampung dan diumumkan di akhir Februari ini. Djoko menjelaskan, nantinya unit cost itu yang akan dijadikan patokan PTN untuk menentukan besaran UKT. “Setiap PTN unit costnya berbeda-beda. Besaran UKT itu tidak boleh lebih dari unit cost. Jika ada PTN yang melanggar, akan diberikan teguran,” sambungnya.

UKT sudah meliputi seluruh beban biaya mahasiswa yang harus dibayar per semester, seperti biaya praktikum sampai biaya wisuda. Kekurangan dari unit cost akan ditanggung oleh pemerintah melalui Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN).

Semakin tinggi UKT yang ditetapkan kampus kepada setiap mahasiswa, akan semakin kecil BOPTN yang diterima. Namun, jika PTN-PTN tersebut dapat menekan UKT dan mampu bekerja sama dengan banyak pihak luar, akan ada reward yang diberikan pemerintah.

Pada tahun ini, dibandingkan dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lain yang ada di Indonesia, Universitas Indonesia (UI) memperoleh Bantuan Operasional PTN (BOPTN) paling besar dengan jumlah Rp 220 miliar. Besarnya BOPTN ini dikarenakan jumlah mahasiswa dan dosen yang bernaung di bawah UI juga tercatat lebih banyak dibandingkan PTN lain yang ada di Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud, Djoko Santoso, mengatakan bahwa alokasi BOPTN ini akan terus naik mengingat besarnya APBN juga terus meningkat tiap tahun anggaran. Dengan semakin tingginya BOPTN, maka biaya kuliah untuk PTN semestinya tidak lagi mahal termasuk UI.

“Oleh karena itu, uang pangkal tidak perlu ditarik kembali,” ujar Djoko.

Ia juga menegaskan bahwa peniadaan uang pangkal ini tidak terbatas pada mahasiswa yang diterima lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) saja. Bagi mahasiswa yang masuk PTN melalui jalur tertulis maupun jalur mandiri juga mendapat hak yang sama, yaitu tidak perlu membayar uang pangkal ini.

Selain Universitas Indonesia (UI), beberapa PTN terkemuka seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dikabarkan akan menghapuskan uang pangkal pada mahasiswa barunya mulai tahun akademik 2013/2014 ini. Dengan demikian, PTN ini terjangkau oleh semua pihak terutama kalangan menengah ke bawah.