Pasar Ban 2013 Kian Menggeliat

Sabtu, 16/02/2013

Perkembangan industri otomotif membuat industri ban mendapatkan keuntungan luar biasa, akibatnya persaingan di industri ini makin ketat. Apalagi banyak perusahaan ban asing yang masuk ke pasar Indonesia.

NERACA

Industri otomotif dalam negeri nampaknya sedang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Ini terlihat dari persaingan pasar ban nasional semakin ketat lantaran banyak produsen ban Internasional seperti Hankook dan Pirelli yang menyerbu pasar ban domestik. Hankook bahkan telah membangun pabrik di Indonesia.

General Manager Marketing PT Gajah Tunggal Arijanto Notorahardjo mengatakan pesaingan ban akan semakin sengit di Indonesia dan perusahaan akan terus meluncurkan produk-produk ban yang berkualitas dan bernilai tinggi dengan harga yang kompetitif. “Serbuan produsen ban asing akan membuat pasar ban semakin atraktif dan harga akan semakin kompetitif,” katanya.

Arijanto mengatakan pasar ban Indonesia menjadi magnet perusahaan-perusahaan ban asing lantaran penjualan mobil Indonesia terus meningkat dan pertumbuhan industri otomotif Indonesia semakin besar.

Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil Indonesia mencapai angka satu juta unit pada tahun lalu. Gaikindo menargetkan angka penjualan mobil tahun ini tembus 1,2 juta unit.

Saat ini PT Gajah Tunggal menguasai pangsa pasar sekitar 26% setelah Bridgestone di urutan pertama dan Michelin di urutan kedua. Perusahaan memproduksi 45 ribu unit ban setiap harinya dan 15.5 juta ban pertahun.

Terus Meningkat

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia Azis Pane mengatakan industri ban di Indonesia diprediksi akan mengalami peningkatan.

Azis mengatakan kinerja industri ban tahun ini cukup terpengaruh dengan pasar ekspor Indonesia. Menurut dia, pasar ekspor ban Indonesia pada tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Untuk pasar ekspor memang ada penurunan saat ini,” katanya.

Meski begitu, Azis mengatakan, kinerja industri ban tahun ini cukup baik di tengah pasar ekspor yang menurun. Kinerja industri ban disebutnya tertolong oleh pasar domestik yang cukup baik. “Ini karena permintaan pasar dalam negeri cukup baik,” katanya.

Dia mengatakan permintaan ban yang cukup tinggi itu karena pengaruh tingginya penjualan di sektor otomotif pada tahun lalu. “Jadi orang-orang yang beli mobil tahun lalu sekarang sudah harus ganti ban,” katanya.

Azis mengatakan industri ban bisa mencapai kinerja pertumbuhan yang cukup baik karena proses penggantian ban dari konsumen itu. “Industri ban itu jadi tertolong oleh faktor replacement dari konsumen,” katanya.

Ban Vulkanisir

Sementara itu Marketing Director BTI Shinya Hisada menambahkan, keberadaan perusahaannnya di Tanah Air guna memfasilitasi permintaan ban-ban vulkanisir dari kalangan kendaran komersial seperti bus, bus ringan, truk, truk ringan, hingga pikap.

Menurut Hisada, citra sebuah ban vulkanisir saat ini masih sangat buruk di masyarakat, "Padahal kalau kualitas pembuatan vulkanisir itu sangat diperhatikan, maka kualitas ban vulkanisir juga tak kalah dngan ban original," kata dia.

Ia juga tak menampik jika suatu saat penualan untuk ban vulkanisir ini meningkat tajam. Mengingat ban jenis tersebut sangat mampu menekan secara ekonomi. "Karena orang tinggal bawa ban bekas, lalu kita buat casing ban baru, maka ban tersebut bisa digunakan kembali," paparnya.

Kondisi ini kata dia, juga terjadi pada penggunaan ban-ban pesawat berukuran besar seperti Boing 747 yang divulkanisir sampai empat kali.

Mengenai kualitas ban-ban vulkanisir dari Bandag, BTI, kata dia tidak menetapkan standar yang sama dengan standar kualitas ban keluaran Bridgestone. "Semua ketetapan kualitas ban vulkanisir itu kita serahkan kepada Bandag sendiri," ujar dia.