Puluhan Investor Jepang "Serbu" Indonesia

Selasa, 12/02/2013

NERACA

Jakarta – Menteri Perindustrian M.S Hidayat menjelaskan ada sekitar 40 investor asal negeri sakura yang akan menanamkan modalnya di Indonesia. Hidayat mengatakan hingga kini investor asal Jepang tersebut akan menanamkan modalnya di sektor infrastruktur, pabrik pengolahan mineral atau smelter, otomotif dan elektronik. Menurut dia, dengan adanya investor yang masuk ke Indonesia maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan akan menyerap tenaga kerja.

“Kami mencatat ada sekitar 40 pelaku usaha asal Jepang yang akan menanamkan modalnya di Indonesia. Selain itu, investor tersebut sangat berminat pada proyek Metropolitan Priority Area (MPA),” kata Hidayat usai menerima kunjungan delegasi Jepang di Jakarta, Senin (11/2).

Pemerintah, lanjut Hidayat, telah menyiapkan lahan seluas 3.000 hektar di kawasan industri Kerawang. “Nantinya investasi asal Jepang di sektor elektronik dan otomotif akan diarahkan untuk membangun pabrik di wilayah Karawang. Tak hanya itu, para investor juga meminta agar pemerintah mempercepat pembangunan pelabuhan Cimalaya. Karena menurut mereka dengan membangun pelabuhan tersebut maka akan mempercepat distribusi barang sehingga menjadi efisien,” katanya.

Terkait dengan insentif yang akan diberikan oleh pemerintah, kata Hidayat, nanti akan dilihat dari besarnya nilai investasi di Indonesia. “Jika investasinya besar dan menyerap tenaga kerja, maka investor akan mendapatkan insentif pengurangan pajak tax holiday,” ujarnya.

Peringkat Ke 2 Terbesar

Jumlah realisasi investasi Perusahaan asal Jepang di Indonesia pada tahun 2012 menduduki peringkat kedua, di bawah Singapura, dengan nilai US$2,5 miliar atau 10% dari keseluruhan investasi asing yang sebesar US$24.6 miliar, setara dengan Rp221.0 triliun. Di tahun 2012, realisasi investasi perusahaan Jepang di Indonesia ditujukan untuk perluasan bisnis perusahaan yang sudah beroperasi di Indonesia, khususnya guna memenuhi naiknya jumlah permintaan, dan juga perusahaan manufaktur skala menengah, untuk memasok komponen pabrikan besar, yang telah lebih dulu beroperasi di Indonesia.

Mengenai lokasi investasi baru, untuk perusahaan Jepang yang menjadi pemasok, sebagian besar tidak terlalu jauh jaraknya dari lokasi pabrikan besar, yakni berada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi, dan sekitarnya. Namun sumber di kalangan pengusaha Jepang mengungkapkan, tren dua sampai tiga tahun kedepan menunjukkan banyak perusahaan skala kecil dan menengah asal Jepang berencana membuka anak perusahaan di Propinsi Jawa Timur, mengingat harga lahan dan upah buruh yang lebih murah dibanding, Jawa Barat dan Banten, serta fasilitas infrastruktur lebih memadai, seperti mudahnya akses ke pelabuhan.

Sementara untuk keseluruhan realisasi investasi periode Januari-Desember 2012, dalam dokumen yang dirilis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) disebutkan melonjak tajam, karena merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah investasi di Indonesia. Pada tahun 2001, jumlah keseluruhan realisasi investasi sebesar Rp 251.3 triliun, dengan perincian Penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 76.0 triliun, dan Penanaman modal asing (PMA) Rp 175.3 triliun. Sedangkan di tahun 2012 jumlahnya senilai Rp 313.2 triliun dengan komposisi PMDN Rp 92.2 triliun, dan PMA Rp 221.0 triliun.

"Jumlah ini merupakan nilai terbesar di sepanjang sejarah investasi di Indonesia, dan melampui target nilai investasi 2012, yang sebesar Rp 283.5 triliun. Jumlah ini juga menunjukkan peningkatan sebesar 24,6% dibanding tahun 2011, dengan nilai investasi Rp 251.3 triliun," ujar Kepala BKPM, Chatib Basri.

Selama tahun 2012, realisasi PMA tersebar di lima sektor usaha yakni pertambangan US$4.3 miliar, transportasi-telekomunikasi-gudang US$2.8 miliar, industri kimia dasar-barang kimia dan farmasi US$2.8 miliar, dan industri alat angkutan dan transportasi lainnya US$1.8 miliar. Untuk lokasi investasi PMA, Jawa Barat di peringkat pertama dengan nilai US$4.2 miliar, DKI Jakarta US$4.1 miliar, Banten US$2.7 miliar, Jawa Timur US$2.3 miliar, dan Kalimantan Timur US$2.0 miliar. Sedangkan berdasarkan asal negara, realisasi PMA dari Singapura menduduki posisi pertama sebesar US$4.9 miliar, Jepang US$2.5 miliar, Korea Selatan US$1.9 miliar, Amerika Serikat US$1.2 miliar dan Mauritius US$1.1 miliar.

Pusat Investasi di Asean

Lebih lanjut dikatakan Chatib, Ia bertekad menjadikan Indonesia sebagai pusat investasi di Asia Tenggara (ASEAN) dengan melakukan berbagai upaya terobosan untuk menarik investor dan memperbaiki iklim investasi. "Fokus kami adalah menarik investasi dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Forum Investasi ASEAN yang Indonesia sebagai penggagasnya berusaha meyakinkan investor bahwa ASEAN, khususnya Indonesia, adalah tempat yang tepat untuk berinvestasi," katanya.

Menurut Chatib, salah satu cara memperbaiki iklim investasi dan mendobrak hambatannya adalah dengan cara memberlakukan sistem tracking pada proses perizinan. Dengan adanya sistem tracking ini, setiap investor bisa memantau langsung sampai sejauh mana proses perizinan itu statusnya, ada di meja mana, dan berapa lama lagi akan selesai atau keluar izinnya. "Ini upaya BKPM memangkas birokrasi dan sekaligus transparansi sehingga investor mendapat kejelasan dan kepastian. Sistim tracking perizinan ini akan diberlakukan tahun ini juga," katanya.

Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara, kata Chatib, akan terus menjadi tempat penanaman investasi. Meski krisis utang terus mendera kawasan di Eropa, kondisi itu diharapkan tidak mengurangi minat investor menanamkan modalnya di kawasan ASEAN.

Insentif utama ASEAN adalah investor akan memasuki pasar dengan 600 juta orang penduduk, dengan pendapatan total 10 negara ASEAN mencapai 1,85 triliun dolar AS atau hampir Rp16.500 triliun tahun lalu. Apalagi dengan jumlah penduduk yang hampir 250 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara. "Tapi ingat, globalisasi dan perdagangan bebas ASEAN ini jangan diartikan kita adalah pasar asing saja, tetapi kita juga bisa bisa menarik keuntungan dari integrasi perekonomian ASEAN," katanya.

Menurut Chatib, tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa kini banyak pengusaha Indonesia melakukan investasi di negara lain seperti di Kamboja atau perusahaan Indonesia membeli perusahaan asing. "Sesuai Undang-undang, BKPM juga bertugas untuk memfasilitasi investasi nasional di luar negeri. Bagaimana mengamankan investasi Indonesia di luar negeri itu jadi agenda dalam pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN ini. Kita buat kesepakatan-kesepakatannya di Forum Investasi ASEAN," kata Chatib lagi.