Internet Seluler Jadi Penyelamat Industri Telekomunikasi

Kamis, 07/02/2013

NERACA

Jakarta - Pasar industri telekomunikasi terselamatkan dengan maraknya konsumen pengguna internet seluler (internet mobile). Pasalnya hampir 70% pengguna internet adalah menggunakan handphone. "Pasar industri telekomunikasi akan cenderung melambat, akan tetapi bisa diselamatkan dengan pengguna internet mobile. Dimana hampir 70% pengguna internet adalah menggunakan handphone," ungkap Chairman Masyarakat Telematika Indonesia dalam pemaparan Prospek Industri Telekomunikasi Indonesia di Jakarta, Rabu (6/2).

Dengan maraknya pengguna internet mobile yang mengandalkan wifi, maka hal ini berpengaruh dengan kecepatan menggunakan layanan internet. "Penggunaan broadband di Indonesia masih kecil, sehingga yang paling mendominasi layanan internet masih mengandalkan wifi. Makanya agak lama untuk mengakses internet. Lain hal nya dengan broadband yang justru kecepatannya melebihi kecepatan wifi," tambahnya.

Lebih lanjut dikatakannya, pendidikan SMA menjadi yang terbesar dalam memanfaatkan layanan internet di Indonesia. Karena sekitar 47% diakses oleh yang berpendidikan SMA, disusul dengan jenjang S1 sekitar 20,8% dan SMP sekitar 11,3%. Sementara itu, kata dia, jika dilihat dari sisi penghasilannya maka yang berpenghasilan Rp1-2 juta perbulan menjadi pengakses internet yang tertinggi dengan menyumbang 39% diikuti oleh penghasilan Rp2-3 juta sekitar 33% dan lebih dari Rp3 juta yang menyumbang sekitar 28%.

Terkait dengan perangkat yang digunakan dalam mengakses internet, tambah Setyanto, penggunaan smartphone menjadi yang terlaris. Pasalnya hampir 70% pengguna smartphone adalah pengakses internet, lalu diikuti pengguna personal netbook sebesar 45%, dan tablet 3,4%. "Secara usia, pengakses internet di Indonesia adalah mereka-mereka yang usia produktif yaitu antara 20-34 tahun. Makanya, usia-usia produktif di Indonesia itu sangat tertarik dengan internet di mobile phone. Ini juga menjadi daya tarik provider untuk memberikan layanan yang lebih," jelasnya.

Kontribusi Besar

Di tempat yang sama, Head of Consulting ICT Practice Frost and Sullivan, Dev Yusmananda menjelaskan mobile internet akan membuka cakrawala baru diluar segmen komunikasi data. Pasalnya demam mobile internet akan berkontribusi pada pertumbuhan industri telekomunikasi Indonesia. Tak hanya itu, kata dia, harga ponsel smartphone juga akan semakin kompetitif dan tingginya tingkat adopsi jejaring sosial yang juga akan mendorong pertumbuhan tersebut.

Untuk itu, Dev memaparkan bahwa para pelaku industri telekomunikasi Indonesia perlu bertransformasi sebagai upaya mempertahankan pertumbuhan. "Layanan data mobile yang menawarkan nilai tambah, semakin lama akan menjadi sumber pertumbuhan pendapatan yang penting bagi operator-operator di Indonesia," ujarnya.

Menurut dia, ada 4 sumber pendapatan di luar segmen komunikasi data yaitu mobilisasi, mobile payment, mobile e-commerce dan mobile advertising. "Kalau mobilisasi itu trend dimana device software dan service mulai mengadopsi fasilitas-fasilitas yang ada di smartphone. Contohnya kamera yang bisa kirim sms atau ponsel yang bisa nonton TV. Selain itu juga, nantinya pada 2013 akan banyak ponsel non operating system (OS) yang bisa mengakses social network," tuturnya.

Dev juga mengatakan seiring dengan meningkatkan penggunaan mobile internet, maka akan mendorong perangkat-perangkat nirkable. "Pada 2013, wireless dongle diperkirakan akan tumbuh 47,5% CAGR, sementara smartphone akan tumbuh sekitar 16,1% CAGR dan tablet akan tumbuh mencapai 11,6% CAGR," ujarnya.

Sementara itu, Partner Frost and Sullivan, Nitin Bhat mengungkapkan bahwa secara global, pengapalan smartphone akan tumbuh dan diproyeksikan akan mencapai 1 miliar unit pada 2016. Asia Pasifik, kata Bhat, akan menjadi wilayah dengan pertumbuhan tercepat dalam pengapalan smartphone yang mencapai 37,6% dalam periode yang sama.

"Di 2015, Asia Pasifik akan menjadi wilayah terbesar untuk mobile payment dengan Jepang dan Korea Selatan yang masih tertinggi. Akan tetapi layanan mobile payment di Jepang sebagian besar didorong oleh operator dimana keterlibatan institusi keuangan masih bersifat parsial," tandasnya.