Setelah Jual Matahari, Saham Multipolar Dalam Pengawasan BEI

HARGA SAHAM MELESAT 100%

Rabu, 06/02/2013

NERACA

Jakarta–Melesatnya harga saham PT Multipolar Tbk (MLPL) sebesar 100% menjadi Rp 440 per lembar saham pasca transaksi penjualan saham PT Putra Prima Tbk (MPPA) kepada Temasek senilai Rp 2,9 triliun, langsung masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia.

Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (5/2). Disebutkan, harga saham Multipolar dinilai meningkat di luar kewajaran atau unusual market activity(UMA). Oleh karena itu, BEI meminta investor untuk memperhatikan jawaban dari perusahaan atas permintaan konfirmasi bursa.

Selain itu, investor juga diminta untuk mencermati kinerja Multipolar serta keterbukaan informasinya. Sementara untuk manajemen Multipolar diminta untuk mengkaji kembali rencana aksi korporasinya jika belum mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Picu Spekulan

Sebelumnya, pengamat pasar modal Satrio Hutomo pernah bilang, informasi transaksi penjualan saham Matahari oleh Multipolar sebagai pemegang saham pengendali kepada Temasek, dinilai secara eksplisit tidak jelas. “Bentuknya seperti perjanjian biasa, namun dikemas dengan kata-kata baru. Kalau bentuknya right tidak dapat 20%. Karena ketentuan right hanya sebesar 10%, “katanya.

Dia menjelaskan, ketidakjelasan ini, dapat memicu spekulasi saham. Karena bagi yang awam dan tidak mencermati pemberitaan tersebut, tentu akan tertarik. Namun, secara teknikal, dia menilai jika saham Multipolar berada di level 1.600 itu memiliki profil risiko yang tinggi. Karena itu, investor dan trader harus hati-hati. “Ini ada yang aneh,”ungkapnya.

Satrio menambahkan, dengan informasi yang tidak jelas tersebut, pelaku pasar perlu mencermati keterangan yang disampaikan perusahan, apakah itu bentuknya right atau Repurchase Agreement (Repo). Namun, lepas dari itu, jika perusahaan menyalahi ketentuan yang ada, itu artinya perusahaan mengambil kelengahan dari pihak Otoritas Jasa Keungan (OJK).

Hal senada juga disampaikan analis Trust Securities, Reza Priyambada, dengan adanya pembelian saham oleh Temasek, bisa jadi terjadinya spekulan saham. Karena secara psikologis investor dan trader akan melihat siapa yang masuk dan seperti apa transaksi yang terjadi, apakah di atas harga pasar atau justru sebaliknya. “Saat ini konsolidasi, di level 1.500 atau 1.490. Jika masih dalam level yang terjaga investor bisa masuk,”jelasnya.

Sebagai informasi, PT Multipolar Tbk sebagai pemegang saham pengendali lebih memilih perusahaan ternama asal Singapura Temasek untuk menjadi mitranya melalui penjualan saham Matahari Putra Prima sebesar 26,1% atau senilai Rp 2,9 triliun.

Kata Presiden Direktur PT Multipolar Tbk, Edy Handoko, alasan penjualan saham Matahari ke Temasek dimaksudkan untuk pengembangan usaha dan termasuk penambahan gerai. Selain itu, kehadiran Temasek juga menjadi branck mark sebagai mitra yang berbobot“Diharapkan dengan hadirnya Temasek akan memungkinkan ekspansi toko dan Hypermart lebih banyak lagi di Jawa dan luar Jawa, “katanya.

Tambah Gerai

Ditahun 2013 ini, PT Multipolar Tbk menganggarkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk menambah 20 gerai baru hypermart di beberapa wilayah di Indonesia, diantaranya Jakarta, Sulawesi (Bau-Bau, Palopo), Kalimantan, Sumatera (Palembang), Pekanbaru, Dumai. Penambahan gerai baru tersebut untuk mendukung ekspansi perusahaan di luar pulau Jawa.

Karta Eddy Handoko, pihaknya akan menginvestasikan sekitar Rp 50-60 miliar untuk satu gerai baru. Tahun lalu, Multipolar telah menambah 17 toko baru di wilayah Kupang dan Kendari, “Tahun ini kita akan nambah sekitar 20 gerai. Ini toko-toko baru. Satu toko baru sekitar Rp 50-60 miliar. Kebanyakan di luar kota karena pertumbuhan ritel dan konsumer adanya di luar kota,”ungkapnya.

Sementara itu, dia menyebutkan, sumber dana untuk memenuhi kebutuhan investasi gerai baru diperoleh perseroan dari kas internal. kombinasi modal kerja dan supplier, serta pinjaman perbankan. Porsinya kas 50%, supplier 20-25%, bank 10% dan pakai lokal yang mempunyai jaringan network nasional.

Nantinya, dengan adanya penambahan gerai tersebut bisa berkontribusi sebesar 25% dan omset ditargetkan bisa menembus Rp 2,5 triliun di tahun 2013 setelah 20 gerai. Pada tahun 2012, omset perseroan mencapai Rp 12 triliun. (bani)