Kemenperin Fokus Hilirisasi Industri Hasil Hutan

Jumat, 01/02/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan memfokuskan pengembangan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dengan meningkatkan hilirisasi industri hasil hutan dan perkebunan seperti produk sawit, karet maupun perkayuan.

“Indonesia merupakan salah satu produsen pulp dan kertas terkemuka di dunia dengan keunggulan pada bahan baku kayu berdaun lebar yang menghasilkan pulp serat pendek dengan produksi 6,52 juta ton dan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri pulp serat pendek. Untuk ekspor pulp pada periode Januari sampai dengan Oktober 2012 mencapai US$3,3 miliar,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kemenperin, Benny Wahyudi pada acara revitalisasi dan penumbuhan industri hasil hutan di Jakarta, Kamis (31/1).

Untuk industri furniture, menurut Benny, merupakan salah satu industri berbasis kayu atau rotan yang memiliki nilai tambah paling tinggi dan menyerap banyak tenaga kerja serta memberikan kontribusi yang cukup penting terhadap perekonomian, baik dalam bentuk kontribusi pada PDB maupun dalam perolehan devisa (ekspor).

“Negara utama tujuan ekspor furniture Indonesia adalah Amerika Serikat, Prancis, Jepang, Inggris dan Belanda. Berdasarkan bahan baku, data ekspor furniture kayu cukup berfluktuasi dan pada 2009 ekspornya mencapai US$1,15 Miliar dan 2010 naik menjadi US$1,4 Miliar, 2011 turun lagi menjadi US$1,2 Miliar,” paparnya.

Pada ekspor rotan olahan, lanjut Benny, cenderung menurun dan pada 2009 kinerja ekspornya menyentuh US$224 juta. Sedangkan pada 2010, kinerja ekspor rotan hanya US$212 juta dan 2011 turun menjadi US$168 juta.

“Kondisi yang cukup fluktuatif ini perlu mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun pelaku industri furniture. Namun, dengan adanya kebijakan larangan ekspor bahan baku rotan maka ekspor barang jadi rotan mulai membaik, dimana pada tahun lalu nilai ekspornya mencapai US$181 juta,” ujarnya.

Benny menambahkan, pihaknya akan meningkatkan program hilirisasi industri hasil hutan dan perkebunan untuk meningkatkan niali tambah produk yang dihasilkan. “Hilirisasi merupakan salah satu cara agar produk dari dalam negeri mampu bersaing di pasar ekspor,” tambahnya.

Perkuat Hilirisasi

Senada dengan Benny, Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Primer, Megananda Daryono menambahkan bahwa kementerian BUMN mendorong perusahaan milik negara yang bergerak pada industri kehutanan untuk mengubah kultur bisnis dengan memperkuat hilirisasi produk kerja agar dapat meningkatkan kinerja perseroan.

"Perseroan Terbatas (PT) Inhutani I-V dan termasuk Perum Perhutani, kami arahkan mengubah kultur bisnis, dan lebih terbuka agar mampu meningkatkan kinerja perusahaan," katanya.

Ia menjelaskan arah BUMN arah hilirisasi meliputi industri kayu dan kehutanan terpadu yang mengolah hasil hutan yaitu kayu dan non-kayu. Caranya adalah dengan membangun pabrik plywood, industri furniture, pabrik gondorukem, dan terpentin, serta derivatifnya.

Menurut Megananda, selama ini dalam berbisnis BUMN Kehutanan belum terbuka atau masih masih secara tradisional atau lebih banyak menjual kayu gelondongan. "Beberapa dari BUMN Kehutanan sudah memasuki industri hilir, namun belum digarap secara maksimal," katanya menandaskan.

Untuk itu, kata Megananda, sudah saatnya BUMN kehutanan masuk pada industri yang lebih terbuka dan mengarah pada industri hilirisasi hasil-hasil hutan. Menurut data Kedeputian BUMN Bidang Usaha Industri Primer, total investasi yang dibutuhkan BUMN kehutuanan mencapai Rp31,4 triliun hingga tahun 2014.

Investasi tersebut diperkirakan dapat menyerap tenaga kerja hingga 14 ribu orang ditambah masyarakat sekitar hutan kurang lebih empat juta orang yang terkonsentrasi di Pulau Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.

Selain hilirisasi industri manufaktur, Megananda juga menjelaskan bahwa potensi BUMN Kehutahan juga dapat dikerjasamakan dengan BUMN pangan dengan memanfaatkan lahan-lahan hutan untuk dijadikan sawah dan ladang yang ditanami tanaman pangan.

Topik Terkait

ekspor pulp non kayu