Tingkatkan Pasar, Perlu Insentif Dorong Kinerja Produk Syariah

NERACA

Jakarta- Potensi yang cukup besar bagi perkembangan pasar modal syariah ternyata tidak cukup kuat menarik pertumbuhan produk syariah di pasar. Di samping jumlah efek yang masih terbatas, perlu adanya insentif atau keuntungan yang dinilai dapat mendorong pertumbuhan pasar modal syariah ke depan. “Harus ada keuntungan yang membedakan, seperti pajak yang dapat diberikan untuk efek syariah dibanding konvensional.” jelas Direktur Panin Asset Management, Ridwan Soetedja di Jakarta, Rabu (30/1).

Menurut dia, perkembangan pasar modal syariah masih akan bertumbuh seiring dengan pertumbuhan pasar saham secara umum, yaitu dengan terjadinya kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami pertumbuhan sekitar 11%. Namun, salah satu kendala bagi pertumbuhan produk-produk syariah sendiri, yaitu masih terbatasnya jumlah saham dan instrumen yang masuk dalam daftar syariah.

Meskipun demikian, pihaknya optimistis menargetkan total dana kelola untuk produk syariah, khususnya reksa dana syariah saham, yaitu sebesar Rp150 miliar dari dana kelola yang telah diperoleh saat ini sekitar Rp102 miliar. Pasalnya, sejak diluncurkan pada bulan Juli 2012, return dari produk reksa dana syariah saham mampu mengalami peningkatan sebesar 5%.

Untuk produk reksa dana syariah berimbang, lanjut dia, diharapkan dapat mencapai Rp100 miliar di tahun 2013, dari perolehan dana kelola saat ini yang mencapai Rp50 miliar. Sementara untuk target total dana kelola secara keseluruhan, pihaknya memproyeksikan dapat mengalami peningkatan sebesar 30% dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp10.5 triliun. “Dari total dana kelola tersebut sebesar 85% dari reksadana saham dan campuran, selebihnya pendapatan tetap dan produk lainnya.” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pengamat Pasar Modal Syariah, Imam MS. Untuk mendorong pengembangan pasar modal syariah, khususnya saham, perlu adanya penambahan jumlah saham emiten yang bisa masuk dalam kategori syariah. "Semakin banyak jumlah emiten dan bisa termasuk dalam daftar efek syariah, serta peningkatan instrumen investasi berbasis syariah akan mendorong pertumbuhan pasar modal syariah." jelasnya.

Oleh karena itu, dari sisi regulator, menurut dia, perlu adanya insentif yang dapat diberikan oleh regulator kepada saham-saham emiten yang termasuk dalam daftar efek syariah tersebut. Selain itu, juga perlu diupayakan untuk melakukan sosialisasi secara intensif, baik kepada emiten maupun investor di pasar modal.

Prospek Saham Syariah

Sementara untuk prospek saham syariah di tahun ini, lanjut dia, tidak jauh berbeda dengan tantangan yang akan dihadapi pasar modal dan investasi secara umum. Kondisi global yang belum pasti dan sejauh mana pemerintah menjaga kestabilan ekonomi, baik dari nilai inflasi dan suku bunga masih akan membayangi kinerja saham.

Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Frederica Widyasari Dewi sebelumnya mengatakan, saham syariah akan bertumbuh lebih baik di tahun ini. Hal tersebut dilihat besarnya permintaan investor terhadap saham syariah memicu porsi saham syariah meningkat tajam. Bahkan untuk mengakomodasi pasar syariah, kata Frederica, diharapkan ke depan bank kustodiannya juga ada yang syariah.

Selain itu, permintaan saham syariah di daerah terus meningkat tajam. Pihaknya mencatat, kapitalisasi saham syariah telah mencapai 70% dari jumlah keseluruhan di BEI. Saham syariah saat ini mencatat transaksi harian sebesar Rp3,1 triliun per hari dari transaksi keseluruhan BEI yang mencapai Rp5,1 triliun per hari.

Untuk itu pihaknya mendukung setiap perkembangan produk syariah di pasar modal dan termasuk layanan online trading berbasis syariah, “Layanan online trading syariah merupakan kebutuhan bagi investor yang peduli tentang kesyariahan investasi. Selain itu, dengan masuknya investasi syariah lebih memudahkan investor syariah,” jelasnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Perlu Memadukan

Perlu Memadukan "Land Banking" Dengan Skema ABCG NERACA Semarang - Pakar perumahan Asnawi Manaf memandang perlu memadukan program "Land Banking"…

Gaet Pasar Milenial - BTN Syariah Luncurkan Produk KPR Hits

NERACA Jakarta - Menyambut hari ulang tahun unit usaha syariah Bank BTN ke 14 yang jatuh 14 Februari 2019, anak…

Tingkatkan Pangsa Pasar - Kimia Farma Bakal Akuisisi Phapros

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnis, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan membeli 47.901.860 lembar atau 56,77 dari total saham…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Fajar Surya Wisesa Melesat 136,1%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,405 triliun atau naik 136,1% dibanding periode…

Lagi, Comforta Raih Top Brand Award

Di awal tahun 2019 ini, Comforta Spring Bed kembali meraih penghargaan Top Brand Award. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin,…

BPD Bank Kalsel Rencanakan IPO di 2020

Bila tidak ada aral melintang, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Selatan atau Bank Kalsel rencanakan melakukan penawaran umum saham perdana…