Pengusaha Jamin Pasokan Gula Untuk IKM

NERACA

Jakarta - Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) menyatakan akan menjamin pasokan gula untuk Industri Kecil Menengah (IKM). Pasalnya AGRI memasok untuk IKM dalam negeri sebesar 300.000 ton.

"Pelaku usaha industri gula rafinasi akan mensuplai kebutuhan bahan baku bagi IKM pangan di Indonesia. Selama ini, IKM pangan setiap tahunnya membutuhkan 300.000 ton untuk menghasilkan produk yang berkualitas," kata Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Suryo Alam, dalam acara penandatanganan nota kesepahaman antara AGRI dengan Koperasi Unit Desa Wenang, akhir pekan kemarin.

Hal ini dilakukan oleg AGRi, melihat IKM pangan cukup kesulitan dalam mendapatkan gula rafinasi. Padahal usaha IKM tersebut telah berjalan berpuluh-puluh tahun akan tetapi kesulitannya yaitu pasokan gula yang kurang. "Dengan kami memasok 300 ribu ton gla rafinasi ke IKM pangan, kami berharap agar pasokan gula rafinasi ini dapat membantu kelangsungan IKM di dalam negeri," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan dia, bahwa sebenarnya tidak ada batasan kuota untuk memasok gula rafinasi ke IKM, namun semua itu tergantung dari kebutuhannya. "Nanti mekanismenya B to B. Kalau ada kendala, AGRI akan turun tangan dan memfasilitasi,"tambahnya. Suryo mengaku dengan adanya pasokan gula tersebut maka akan memacu upaya peningkatan kualitas produk IKM pangan, di pasar domestik maupun ekspor. Terutama setelah selama ini terjadi kendala akses gula rafinasi bagi IKM.

Sedangkan Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil Menengah (IKM), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Euis Saedah mengatakan, IKM memegang peranan penting dalam tatanan perekonomian nasional. "Jumlah unit IKM mencapai 96% dari total industri. Dilihat dari karakteristik ekonomi sosial di Indonesia, IKM merupakan kekuatan dalam mewujudkan pembangunan nasional," ujarnya.

Euis menambahkan, jumlah IKM pangan hampir mendominasi dari jumlah keseluruhan IKM di Indonesia. "Sebanyak 1,5 juta unit dari 3,8 juta unit total IKM nasional adalah industri pangan olahan. Selain itu, pertumbuhan industri pangan rata-rata 16% per tahun," ucapnya.

Sebelumnya Suryo mengaku bahwa porsi gula rafinasi lebih banyak diperuntukan untuk industri besar dengan komposisi 75% untuk industri besar dan 25% untuk IKM. Maka dari itu, banyak industri kecil yang mengeluh karena pasokan untuk IKM masih minim. "Mereka mendapatkan langsung dari distributor dengan harga lebih mahal serta belum tentu terjamin kualitas dan pasokannya," katanya.

Potong Jalur Distribusi

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku gula rafinasi kepada IKM khususnya di wilayah Jawa Tengah, AGRI bersama beberapa koperasi telah sepakat untuk bekerja sama. Yaitu dengan menyalurkannya secara langsung sehingga memotong dua hingga tiga jalur distribusi yang selama ini memasok gula kristal rafinasi kepada IKM.

Kemitraan ini, menurut Suryo, penting sebagai langkah awal baru untuk memberikan jaminan pasokan gula kristal rafinasi ke IKM. "Keuntungan dengan memotong jalur distribusi adalah harga jauh lebih murah sampai Rp 1.200-2.000 per kilogramnya karena singkatnya jalur distribusi serta terjaminnya ketersediaan bahan baku," paparnya.

Gula rafinasi, kata dia, sudah memiliki standardisasi SNI, ISO serta sertifikat halal sehingga kalau untuk memproduksi produk makanan dan minuman tidak perlu menggunakan pengawet karena sudah gula murni. Langkah ini nantinya diperluas ke seluruh daerah di Indonesia seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Lampung, Yogyakarta sampai akhir tahun. Sebelumnya, AGRI telah memasok kebutuhan gula rafinasi kepada 4.000 koperasi di Jabar, 200 koperasi di Jateng, 20 koperasi di Lampung serta 300 koperasi di Banten.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Industri Kecil Menengah Argo (AIKMA) Bekasi, Jawa Barat, Suyono mengatakan, IKM pangan pengguna gula rafinasi bergantung pada kualitas. Pasalnya menurutnya, hal itu sangat mempengaruhi kualitas produk. "Pernah ada ekspor Dodol Garut ke Timur Tengah diretur, karena kertas pembungkusnya lengket ke dodol. Itu karena menggunakan gula lokal," kata Suryono.

Dia menjelaskan bahwa gula rafinasi merupakan bahan baku vital bagi industri makanan dan minuman olahan di Jawa Barat. Saat ini, setidaknya ada 40.000 anggota koperasi di 26 kabupaten/kota di Jawa Barat yang membutuhkan gula rafinasi dalam jumlah yang tidak sedikit. "Setidaknya kami butuh 7.200 ton gula rafinasi untuk IKM di Jawa Barat," jelas Suryono.

Selama ini, saat membeli gula rafinasi, anggota koperasi dan IKM menjangkaunya dari distributor tingkat 3 atau 4, sehingga harganya lebih tinggi. Dengan adanya kemitraan dengan AGRI, maka harga gula rafinasi yang dibeli lebih murah Rp 800 sampai Rp 1.000 per kilogram.

BERITA TERKAIT

Polri Menang Praperadilan Lawan Pengusaha Muljono Tedjokusumo

Polri Menang Praperadilan Lawan Pengusaha Muljono Tedjokusumo NERACA Cibinong, Jabar - Hakim tunggal pada Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Taryan…

Utang untuk Kegiatan Produktif

Berita tentang semakin membengkaknya utang negara membuat rakyat khawatir dan resah. Belakangan ini berbagai pendapat mengenai permasalahan ini santer diperbincangkan.…

KPPU: Pentingnya Competition Compliance untuk Asosiasi

KPPU: Pentingnya Competition Compliance untuk Asosiasi NERACA Jakarta – Untuk ketiga kalinya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyelenggarakan executive forum…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Laboratorium Pengujian di Era Disrupsi Teknologi

NERACA Jakarta -  Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), Imam Haryono mengatakan saat ini, pemerintah Indonesia…

Terkait Kemajuan Digital - RI Dapat Topang Asia Jadi Garda Depan Transformasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Implementasi industri 4.0 di kawasan Asia dinilai dapat membangkitkan kontribusi sektor manufaktur dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi…

Ketahanan Pangan Harus Jadi Fokus Pembenahan

NERACA Jakarta – Salah satu hal yang layak untuk diprioritaskan dalam program para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden…