Pasar Modal Butuh Langkah Strategis Menarik Capital Inflow - Tingkatkan Daya Saing

NERACA

Jakarta- Meski kondisi fundamental dinilai mampu menjadi "magnet" untuk menampung aliran dana asing (capital inflow), perlu ada beberapa langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan capital inflow tersebut di pasar modal. "Selain perlu market cap yang besar untuk menarik inflow, juga diperlukan kondisi-kondisi yang nyaman." jelas Kepala Analis PT Trust Securities, Reza Priyambada kepada Neraca di Jakarta, Kamis (17/1).

Reza mengatakan, sejauh ini tren inflow yang masuk ke pasar modal masih cukup baik. Kemungkinan akan masuknya inflow pada tren penurunan hanya bersifat sementara, yaitu saat reli pasar saham sudah masuk overbought. "Setelah mereka menilai reli pada pasar saham sudah masuk area overbought, mereka mengalihkan ke pasar-pasar saham yang mungkin masih dinilai murah." jelasnya.

Jika kondisi pasar dalam posisi oversold, lanjut Reza, inflow akan kembali mengalami pertumbuhan. Karena itu, diperlukan kondisi yang nyaman untuk menarik investor untuk melakukan transaksi.

Salah satu kondisi yang dapat mendukung hal tersebut, menurut Reza terkait kebijakan pemerintah untuk menjaga fundamental perekonomian Indonesia, antara lain mengurangi defisit perdagangan, dan menekan inflasi. Pasalnya, kenaikan inflasi akan terjadi menyusul adanya rencana pemerintah untuk menaikkan upah minimum regional (UMR) dan kenaikan tarif dasar listrik (TDL).

Jumlah Emiten

Selain fundamental perekonomian, dari pihak otoritas bursa efek, lanjut Reza, perlu mengupayakan adanya pertambahan jumlah emiten yang memiliki nilai kapitalisasi pasar yang cuku besar. Namun, harus diakui hal tersebut bukan hal mudah.

Sebelum calon emiten melaksanakan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) di lantai bursa, ada sejumlah pertimbangan. Salah satunya yaitu mengenai kondisi pasar saham. "Pertimbangan emiten melihat kondisi pasar saat IPO, karena berkaitan dengan penyerapannya." ujarnya.

Di samping kondisi pasar, pencatatan saham oleh emiten terkait kebutuhan pendanaan. Artinya, apabila kas internal dan pinjaman bank dinilai cukup oleh perusahaan untuk digunakan sebagai modal kerja dan pengembangan maka sudah tentu mereka tidak membutuhkan tambahan dana melalui pasar modal.

Reza menambahkan, selain beberapa hal yang menyangkut kebijakan ekonomi, juga perlu didukung dengan kestabilan hukum dan politik sehingga tidak terjadi demo dan perilaku anarkhis.

Kepala Riset MNC Sekuritas mengatakan, pertumbuhan inflow di tahun ini tidak akan jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Di samping kondisi global yang belum pasti, kinerja emiten dalam satu tahun terakhir juga mempengaruhi hal tersebut. “Kelihatannya tidak akan jauh beda dengan tahun lalu, saat ini masih menunggu laporan keuangan full year 2012.” ujarnya.

Sepanjang tahun 2012 tercatat, dana asing yang masuk tersebut hanya sebesar Rp15,44 triliun. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan pada tahun 2011 yang dapat mencapai Rp 25,67 triliun.

Salah satu langkah strategis untuk menarik inflow, menurut Edwin, yaitu perlu adanya pertambahan jumlah emiten yang meramaikan pasar modal. Pastinya, dengan kondisi dan reputasi yang baik.

Likuiditas Pasar

Hal senada juga disampaikan Kepala Analis Pasar Saham PT Danareksa Sekuritas, Chandra Pasaribu. Dia mengatakan, inflow akan sangat bergantung pada besaran likuiditas pasar yang ada dan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO). “Tahun lalu ada IPO dan right issue. Itu bisa menarik capital inflow. Mungkin inflownya naik, tapi arahnya cenderung turun,”ungkapnya.

Oleh karena itu, Chandra menilai, perlu emiten-emiten baru dengan nilai kapitalisasi besar sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar. Menurutnya, selama ini permasalahan di pasar modal yaitu karena nilai kapitalisasi pasar yang dicatatkan emiten masih terbilang kecil. “Perlu nama-nama baru dengan market cap besar dan memiliki reputasi yang cukup baik. Itu akan dapat menarik inflow. Karena asing tentu tidak mau jadi single buyer sehingga market size jadi hal yang cukup penting.” jelasnya.

Terkait aliran dana asing yang mengalami penurunan di tahun 2012, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito sebelumnya menyampaikan, hal tersebut terlihat dari nilai bersih transaksi saham yang dilakukan oleh investor asing di bursa tanah air, di mana nilainya terus mengalami kemerosotan. “Hal ini masih disebabkan sentimen negatif dari bursa Amerika Serikat dan Eropa sepanjang 2012.” ujarnya.

Di tengah ketidakpastian global, lanjut Ito, dollar AS saat ini masih menjadi aset yang paling aman (safe haven) bagi investor asing. Sementara, sepanjang tahun 2013, pihaknya mencatat terjadi kenaikan nilai rata-rata transaksi harian saham sebesar 11,86%. Hal tersebut didukung aktifnya transaksi investor asing, “Sebenarnya kami tidak tahu apakah itu karena perdagangan lebih awal atau karena sentimen global. Tapi, kami melihat karena adanya kenaikan likuiditas,” jelasnya.

Namun yang pasti, menurut Ito, peningkatan rata-rata transaksi itu lebih dikarenakan adanya kenaikan likuiditas saham. Menurutnya, harapan terhadap nilai transaksi harian itu juga akan didukung pertumbuhan ekonomi, krisis global yang sudah mereda dan akan didorong penambahan emiten.

(lia)

BERITA TERKAIT

Peringkat Daya Saing Indonesia Diurutan ke 45

    NERACA   Jakarta - Indeks Daya Saing Global atau Global Competitiveness Index 4.0 dengan metodologi baru edisi 2018…

Mulai Buahkan Hasil, Skema KPBU Juga Butuh Insentif

  NERACA   Jakarta - Proyek Infrastruktur yang dibiayai dengan Skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dinilai sudah membuahkan…

Pergerakan Modal, Akuisisi dan Merger

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Ketika kekuasaan bersatu dan bekerjasama dengan pengendali modal global membangun perekonomian…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Verena Multifinance Patok Rights Issue Rp140

PT Verena Multifinance Tbk (VRNA) menetapkan harga pelaksanaan penambahan modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right…

Mandiri Kaji Terbitkan Obligasi US$ 1 Miliar

Perkuat modal guna memacu pertumbuhan penyaluran kredit, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berencana menerbitkan instrumen utang senilai US$ 1 miliar.…

Realisasi Kontrak Baru PTPP Capai 66,22%

NERACA Jakarta - Sampai dengan September 2018, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) berhasil mengantongi total kontrak baru sebesar Rp32,45 triliun.…