Penggagas Liberalisme Perdagangan Pun Jatuh ke Lubang Sendiri - Lakukan Diversifikasi Bisnis

Beberapa negara maju berlindung dengan aturan World Trade Organization (WTO) untuk mempertahankan pasar domestiknya dengan berbagai alasan, mulai dari tuduhan dumping, memberlakukan aturan non-tarif bahkan hingga alasan tidak ramah lingkungan. Salah satunya negara yang memiliki julukan Paman Sam, kerap sekali menghambat produk Indonesia untuk masuk ke pasar mereka.

Ketua Komite Tetap Pengamanan Perdagangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Ratna Sari Loppies pun mengakui, apa yang dilakukan oleh AS adalah suatu langkah yang diterapkan oleh negara maju saat ini. Padahal, mereka juga yang menggagas liberalisasi perdagangan, sehingga ibarat jatuh ke lubang sendiri. “Pada akhirnya, liberalisasi yang mereka gagaskan malah membuat negara super power pun ambruk, karena pasarnya dibanjiri oleh impor,” ujarnya kepada Neraca, Rabu (16/1).

Oleh sebab itu, AS mencari alasan terhadap produk Indonesia hingga mengancam akan dilaporkan ke WTO. Menurut Ratna, Pemerintah Indonesia tentunya dapat mengajukan keberatan di WTO (body settlement), suatu body yang mengurusi sengketa antar anggota, dengan memberikan bukti-bukti kuat guna menyanggah tuduhan tersebut.

Memang, yang perlu dicermati setelah perdagangan dunia di liberalisasi, kecenderungannya justru memicu NTM (non tarif measure), ternyata pasar bebas tidak seperti yang diharapkan semua negara. “Saat ini, WTO kesulitan sedang mencari jalam keluar yang terbaik bagi semua,” terangnya. Namun, walaupun begitu bukan berarti menjadi hambatan bagi pengusaha untuk melakukan ekspor tujuan AS.

Ratna mengatakan, peluang usaha di AS sebelum krisis sangat baik karena daya beli mereka sangat baik, terbuktiIndonesia mengalami surplus perdagangan mencapai US$16 miliar. Selain itu, AS membidik investasi infrastruktur di Indonesia, AS juga sebagai pasar potensial eksporkomoditi Indonesia. Maka, pengusaha Indonesia sangat berharap investasi dari AS. “Yang pasti Indonesia termasuk yang diperhitungkan oleh AS,” pungkas Ratna.

Diversifikasi Bisnis

Sementara, Wakil Ketua Kadin Bidang Peningkatan Produksi Dalam Negeri Handito Joewono mengatakan, ada 5 langkah dan 1 faktor pendorong sebuah usahadapat menembus suatu pasar ekspor.Langkah yang pertama harus diambil sebuah pelaku industri ialah perluasan pasar. "Jadi sebuah industri jangan fokus di pasar tertentu saja, suplai harus disesuaikan dengan permintaan yang ada," ungkapnya.

Kedua, sebuah industri harus berani melakukan diversifikasi bisnis. Ketiga, pengelolaan perusahaan atau corporate governance.Handito mengatakan, seorang pioneer sebuah industri memiliki peran sangat penting untuk mengembangan usaha. "Ada pengelolaan perusahaan yang baik. Jadi perusahaan kecil sampai menengah itu tergantung pada sikap pendirinya. Enterpreneurshipperlu dikembangkan ke direksi, manajer, karyawan. Kalau perusahaan tidak punya, maka perusahaan jalan begitu saja. Jalan ya jalan saja," paparnya.

Kemudian keempat adalah pengembangan teknologi. Menurut Handito, teknologi merupakan faktor yang cukup penting dalam mengembangkan usaha. Jika sebuah industri terkendala dalam tahap ini, diharapkan pemerintah dapat membantu dengan pemberian insentif. Harapan dia, mudah-mudahan pemerintah memberikan insentif teknologinya.

Contohnya, Korea Selatan negara paling besar yang memberikan insentif teknologi terhadap industri. “Tidak heran kemajuan industrinya luar biasa," lanjutnya. Langkah kelima adalah sebuah perusahaan perlu menjaga aset dan mengelolanya dengan baik. Jadi tak hanya mengelola pendapatan saja. Handito menjelaskan, aset suatu perusahaan itu terbagi menjadi 2, yaitu tangible asset (aset yang dapat disentuh) dalam bentuk mesin bangunan dan intangible asset (asset yang tak dapat disentuh), yaitu brand (merek).

Namun, semua langkah itu harus didorong oleh sebuah inovasi, karena merupakan sebuah kewajiban untuk menerapkan suatu inovasi terhadap setiap industri. Jika tidak, daya saing akan semakin melemah. "Inovasi ternyata buat industri zaman sekarang itu wajib. Itu bisa inovasi produk, proses, manajemen. Yang penting membuat sesuatu yang baru, yang kreatif dan juga diimplementasikan,” tuturnya.

BERITA TERKAIT

BEI Suspensi Perdagangan Saham SURE

Setelah masuk dalam kategori saham unusual market activity (UMA) atau pergerakan harga saham di luar kebiasaan, kini PT Bursa Efek…

Mengurangi Tekanan Rupiah, Surplus Perdagangan Perlu Dijaga

        NERACA   Jakarta - Ekonom Universitas Indonesia Berly Martawardaya meminta pemerintah terus meningkatkan surplus neraca perdagangan…

LPDB KUMKM Ajak Universitas Jember Kerjasama Kembangkan Bisnis Startup

LPDB KUMKM Ajak Universitas Jember Kerjasama Kembangkan Bisnis Startup NERACA Jember - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM mengajak Universitas…

BERITA LAINNYA DI

REI Akan Terus Mendukung Program Sejuta Rumah

  NERACA Bogor - Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) akan tetap komit berjuang bersama pemerintah dalam merealisasikan target Program Sejuta…

Kemenpar Dorong Industri Kreatif Lewat Kustomfest 2018

Hasil karya anak bangsa tersaji dalam Indonesian Kustom Kulture Festival (Kustomfest) 2018 resmi digelar Sabtu, (6/10). Sebanyak 155 motor dan…

Bali Masih Jadi Wajah Pariwisata RI

Maklum adalah kata pertama yang muncul saat kaki mendaratkan kaki ke Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Maklum dengan antrean keluar…