Pengaruhi Kinerja, Pelaku Pasar Minta Iuran OJK Dikaji Ulang

NERACA

Jakarta- Direktur Utama PT OCBC Sekuritas Indonesia David Partono mengatakan ketentuan mengenai iuran OJK tentu akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.“Dalam jangka pendek ini pasti ada pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (15/1).

Menurut dia, dengan adanya iuran tersebut tentu perusahaan perlu menaikkan pendapatan. Salah satunya terkait biaya yang akan dikenakan ke konsumen. Karena itu, perusahaan sekuritas khawatir hal tersebut akan berpengaruh terhadap minat konsumen karena dinilai lebih mahal. “Meskipun nantinya biaya dinaikkan, hal tersebut pastinya akan dibebankan ke konsumen terakhir.” Jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Presiden Direktur Bank OCBC NISP, Parwati Surjaudaja. Dia meminta kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk kembali mereview ketentuan terkait iuran yang akan diberlakukan kepada pelaku industri keuangan, perbankan, asuransi, maupun perusahaan sekuritas.

Meskipun memberikan efek positif, lanjut dia, pihak otoritas harus secara jelas nilai tambah apa yang nantinya akan diberikan dengan adanya auran tersebut, “Selama ini kan tidak ada iuran-iuran, kita maunya di-review lagi. Harusnya ada nilai tambah.” ujarnya.

Penolakan Keras

Sebelumnya, iuran yang akan diberlakukan OJK terhadap industri keuangan telah menuai banyak komentar. Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Airlangga Hartarto misalnya. Pihaknya merasa keberatan dengan diberlakukannya iuran oleh OJK kepada pelaku pasar, utamanya emiten. Hal tersebut menurutnya akan berpengaruh terhadap besaran dividen. “Dengan adanya tambahan dana, dapat mengurangi dividen.” ujarnya.

Airlangga mengatakan, dengan diberlakukannya iuran tersebut dapat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan karena harus mengeluarkan biaya lain di samping pajak yang harus diberikan kepada pihak BEI. Karena itu, dirinya menyakini, adanya pemberlakuan iuran oleh OJK bisa jadi bertambahnya faktor yang membuat emiten enggan melantai di bursa. “Adanya iuran yang diberlakukan OJK, menjadikan biaya yang diperlukan untuk go public menjadi lebih mahal.” ujarnya

Pandangan yang sama juga disampaikan pengamat pasar modal dari Trust Securitas, Reza Priyambada. Menurut dia, pungutan yang dilakukan BEI dan OJK akan membebankan keuangan emiten itu sendiri. Pasalnya dengan biaya pencatatan saja emiten sudah merasa terbebani, apalagi dengan beban operasional OJK. “Jelas, biaya yang dikeluarkan emiten dan anggota bursa dengan pungutan-pungutan tersebut akan membebankan keuangan,”tuturnya.

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana memanggil asosiasi-asosiasi industri jasa keuangan terkait penolakan besaran iuran kepada otoritas jasa keuangan (OJK) yang akan dikenakan kepada industri. Pasalnya, beberapa perwakilan industri merasa keberatan dengan besaran iuran yang ditetapkan oleh OJK.

Pihaknya berharap iuran OJK yang dipungut dari industri keuangan, tidak menimbulkan persoalan. Salah satunya yaitu dengan memunculkan anggapan bahwa kelebihan dana yang diperoleh OJK akan dikembalikan ke APBN. “Jangan ada gejolak di pasar, ini bisa menurunkan kewibawaan OJK di mata market.” ujar Anggota DPR Komisi XI, Arif Budimanta. (lia)

BERITA TERKAIT

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Pemprov Jabar Minta Jasa Sarana Pertajam Rencana Bisnis

Pemprov Jabar Minta Jasa Sarana Pertajam Rencana Bisnis NERACA Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) sebagai pemegang saham…

Presiden Minta PKH Tak Digunakan untuk Konsumtif

      NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mengarahkan warga penerima…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…