Langganan Disuspen, Prospek GBTO Belum Menyakinkan - BEI Kembali Perdagangkan

NERACA

Jakarta – Bisnis industri pertambangan masih memiliki prospek yang cerah di 2013, namun bisnis yang mempunyai peluang positif ini tentunya tidak akan berjalan baik jika perusahaan selalu sering dijatuhkan sanksi oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi inilah yang dialami PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) yang langganan bulak-balik disuspensi BEI dengan berbagai alasan, mulai dari harga saham yang bergerak tidak wajar dan terakhir soal penyampaian laporan keuangan.

Cukup lama disuspensi sekitar 1,5 bulan, kini PT Bursa Efek Indonesia akan memperdagangkan kembali saham perseroan pada awal pekan kemarin. Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Disebutkan, BEI akan mencabut penghentian sementara perdagangan efek PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) pada perdagangan saham Senin (14/1) awak pekan di pasar reguler dan pasar tunai.

Pencabutan penghentian sementara perdagangan efek (suspensi) itu dilakukan sejak sesi pertama perdagangan efek. Dengan demikian, sejak 14 Januari 2013, perdagangan efek PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) dapat diperdagangkan di semua pasar.

Otoritas bursa mencabut suspensi tersebut dengan mempertimbangkan penerbitan kembali laporan keuangan interim auditan per 30 September 2012 yang disampaikan ke bursa pada 8 Januari 2013. Pada revisi laporan keuangan kuartal ketiga 2012 ini, manajemen GTBO mencatatkan penjualan sebesar Rp804,40 miliar hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp164,84 miliar. Laba perseroan mencapai Rp956,47 miliar hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp86,89 miliar.

Perseroan harus mengkoreksi laporan keuangan dan imbasnya, laba bersih yang semula telah dicatatkan naik 1.281% (30 September 2012) menjadi Rp1,2 triliun, harus diralat. Dan konon keuntungan tersebut akan tergerus hingga senilai Rp711,15 (59,2%).

Menurut pengamat pasar modal Yanuar Rizki pernah bilang, kalau satu emiten mengeluarkan informasi yang berubah-ubah dan berpengaruh pada harga sahamnya, maka yang bersangkutan harus diinvestigasi oleh Bapepan dan BEI. “Harus ada penindakan,”katanya.

Sementara pengamat pasar modal Usman Hidayat juga mengatakan, soal penurunan laba bersih ini dipastikan bakal menciutkan harga GTBO yang dimiliki. “Isu pemangkasan laba ini akan menimbulkan panic selling yang membuat harganya jatuh,” kata Usman Hidayat, pengamat pasar modal, akhir pekan lalu.

Bahkan penurunannya bisa lebih dalam dari persentase pemangkasan laba bersih. Sebab yang memicu bukan hanya faktor fundamental, tapi juga sentimen negatif.

Catatkan Laba Rp 956,47 Miliar

Sekedar informasi, perseroan menyampaikan laporan keuangan kuartal ketiga 2012 pada 19 Desember 2012 dengan mencatatkan pendapatan mencapai Rp1,51 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp96,32 miliar. Laba perseroan mencapai Rp956,47 miliar hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp86,89 miliar.

Adapun pada pendapatan tersebut, perseroan memasukkan penjualan batu bara dengan hak prioritas sebesar Rp711,15 miliar. Oleh karena itu, pendapatan perseroan melonjak tinggi. Hal itu pun dipertanyakan oleh otoritas bursa. Akhirnya perseroan merevisi laporan keuangannya dengan memisahkan penjualan batu bara dengan hak prioritas ke pendapatan lainnya pada revisi laporan keuangan yang disampaikan 8 Desember 2013.

Sekadar mengingatkan hiruk-pikuk yang terjadi pada saham perusahaan pertambangan batu bara ini terjadi ketika ada pesanan dari sebuah perusahaan di Timur Tengah. jumlahnya mencapai 10 juta ton untuk masa pengiriman selama tiga tahun hingga 2016.

Persoalan muncul karena harga yang dipasang kelewat murah, hanya US$ 25 per ton atau 37,5% lebih murah dari harga pasar. Cara transaksinya juga tergolong aneh, sebab pembeli dipersilahkan menggali sendiri batu bara yang dipesannya, di lahan yang dikuasai perseroan yang terletak di Pulau Bunyu, Kalimantan Timur.

Selain itu, pembeli juga diwajibkan membayar di muka. Perinciannya, sebesar US$75 juta mesti dibayar 30 Juni 2012, kemudian sisanya yang US$175 juta mesti dilunasi dua kali sebelum 30 Juni 2013 dan 30 Juni 2014. (bani)

BERITA TERKAIT

Penjelasan Belum Memuaskan - BEI Bakal Kembali Panggil Manajemen SOCI

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali meminta manajemen PT Soechi Lines Tbk (SOCI) meminta penjelasan terkait dengan…

KIK EBA Danareksa BTN - Pefindo Kembali Tegaskan Peringkat AAA

NERACA Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) kembali menegaskan peringkat idAAA bagi KIK EBA Danareksa BTN 04-KPR BTN seri…

APP Sinar Mas Kembali Raih Penghargaan dari Kemenperin - Terapkan Prinsip Industri Hijau

APP Sinar Mas Kembali Raih Penghargaan dari Kemenperin Terapkan Prinsip Industri Hijau NERACA Jakarta – Dua unit industri Asia Pulp…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Optimis Target 7000 Investor Tercapai

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Surakarta optimistis mampu meraih target sebanyak 7.000 investor hingga akhir tahun ini seiring dengan berbagai…

Intikeramik Bidik Rights Issue Rp 463,8 Miliar

Cari modal untuk mendanai ekspansi bisnisnya, PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) akan menawarkan sebanyak 3,86 miliar saham baru seri…

Adira Bagikan Hasil Sukuk Rp 7,77 Miliar

NERACA Jakarta - Perusahaan pembiayaan kendaraan, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) membagikan hasil sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Adira Finance…