Lembaga Bimbingan Belajar Jadi Incaran - Mutu Pola Didik Sekolah Tak Jaminan

Bagi orangtua pastinya menginginkan anak mereka bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas dari sekolah agar suatu saat sang anak dapat mewujudkan cita-citanya. Peningkatan mutu pendidikan akan membawa dampak yang besar terhadap tercapainya pendidikan nasional bahkan mampu untuk bersaing secara internasional. Alasan tersebut, yang akhirnya memicu Pemerintah menetapkan beberapa sekolah di Indonesia sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) atau Rintisan Sekolah Internasional (RSI) dengan menambah kurikulum internasional.

Hal ini tentu menuntut biaya yang cukup besar, baik dari operasional sekolah maupun individu siswa, sehingga biaya yang dikeluarkan siswa cukup tinggi, bahkan di beberapa sekolah, biaya per bulan mencapai jutaan rupiah. Fasilitas penunjang yang diperlukan juga harus dipenuhi, seperti laptop untuk tiap siswa, buku pelajaran standar nasional dan standar internasional, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, RSBI dinilai hanya mampu melayani bagi kalangan menengah atas.

Namun, apakah dengan biaya yang begitu mahal jadi jaminan mutu pendidikan bertaraf internasional lebih baik? Sudah tepat kah untuk dipahami dan dimengerti oleh siswa, sehingga dapat menetaskan manusia yang pintar tidak hanya secara intelektual, tetapi juga memiliki berkarakter dan berbudaya? Alhasil, karena carut marut kebijakan pendidikan kita ini membuat masyarakat pemakai jasa pendidikan resah dan akhirnya pengeluaran biaya masyarakat untuk Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) demikian besar.

Sementara, pihak LBB berhasil memanfaatkan situasi kegundahan masyarakat dan menjadikan persoalan pendidikan sebagai peluang bisnis dan ladang duit. Akhirnya, fenomena praktek komersialisasi pendidikan malah tumbuh subur di negeri ini. Komersialisai pendidikan menjadi salah satu persoalan pendidikan di Indonesia saat ini. Paradigma komersialisasi yang meniscayakan pendidikan menjadi semakin mahal (high cost) dan hamburan uang selalu dilekatkan dengan pendidikan yang baik.

Menjamurnya LBB di Indonesia menjadi satu fenomena menarik bagi dunia pendidikan. Ketidakpuasan terhadap kualitas pembelajaran di sekolah, seperti kemampuan guru yang terbatas, kurangnya fasilitas belajar yang memadai, serta tuntutan kurikulum yang tidak realistis diyakini sebagai penyebab tumbuh suburnya berbagai LBB tersebut. Mengapa LBB menjadi incaran?

Simbol Ketidakpercayaan

Tingginya minat siswa-siswi sekolah formal mengikuti LBB merupakan simbol ketidakpercayaan siswa dan orangtua siswa terhadap proses pembelajaran di sekolah. Masyarakat pun menganggap bahwa LBB memiliki metode dan fasilitas pengajaran yang lebih baik dibanding sekolah. Hal itu jelas sangat disayangkan karena beban biaya pendidikan antara lain melalui biaya sumbangan pendidikan yang ditanggung orangtua siswa semakin tinggi, sementara peningkatan mutu yang didengung-dengungkan pihak sekolah tidak dapat dibuktikan hasilnya.

Di sekolah hingga LBB, kegiatan pembelajaran mengembangkan konsep drilling (melatih/mengulang-ulang jawaban soal) dan mengandalkan memori (hafalan). Hal ini dilakukan karena mereka menghadapi ujian yang berupa paper and pensil test. Alhasil, kegiatan di lembaga-lembaga pendidikan kita pun berorientasi pada hafalan yakni melatih dan mengulang-ulang jawaban soal-soal. Di LBB lah tempat utama latihan menjawab soal-soal tersebut.

LBB bukan barang baru bagi dunia pendidikan di negara kita. Sejak sekitar akhir 1970-an, LBB sudah ada di kota besar seperti Jakarta. Tetapi, waktu itu LBB sebatas ajang melatih siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang akan mengikuti tes masuk ke perguruan tinggi. Salah satu LBB yang dikenal pada zaman itu adalah Siky Mulyono. Pada 1990-an, keberadaan LBB pun semakin menjamur.

Sasaran mereka tidak hanya menjaring lulusan SMA yang akan mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri (PTN), tetapi mulai menarik pelajar kelas III SMA guna menyiapkan mereka mengikuti ujian nasional (UN). Malahan LBB juga membuka bimbingan bagi siswa kelas X dan kelas XI dengan sasaran agar peserta mendapat nilai ulangan harian bagus dan naik kelas dengan nilai memuaskan.

Alasan siswa masuk LBB bermacam-macam. Umumnya peserta LBB mengaku, selain karena pembelajaran di kelas masih kurang, LBB tempat berlatih menjawab soal secara cepat yang setiap bulan memberi siswa kesempatan try out (uji coba), hingga menginginkan masuk PTN favorit. Ikut LBB artinya siswa punya kesempatan belajar lebih lama, tetapi lebih lelah dan orangtua harus mengeluarkan uang ekstra.

Belajar sendiri atau berkelompok dengan teman-teman relatif tak perlu biaya ekstra besar, tetapi memerlukan disiplin diri yang tinggi. Jadi, perlukah LBB untuk masa depan kita? Semua kembali kepada kondisi setiap siswa. Ada baiknya, sebelum memutuskan ikut LBB, tanyakan kepada diri sendiri kelebihan dan kekurangannya. Karena pendidikan adalah proses panjang dan bertahap yang membutuhkan individu-individu yang mampu menganalisis, berpikir kritis, berwawasan, dan berkarakter.

BERITA TERKAIT

Sektor Pangan - Kasus Beras Turun Mutu Akibat Tata Kelola Distribusi Tak Optimal

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…

Salurkan Dana Bantuan Pasca Gempa - XL Axiata Bangun Gedung Sekolah di Lombok Utara

Belum berakhir PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) membantu pemulihan wilayah Lombok pasca gempa tahun lalu. Kini XL Axiata kembali…

Kekurangan Kolagen Tak Cuma Berdampak Pada Kulit

Kolagen merupakan struktur protein utama tubuh. Pada mamalia, protein tubuhnya tersusun atas 25-35 persen kolagen. Kolagen banyak ditemukan pada jaringan…

BERITA LAINNYA DI

Industri Daur Ulang di Sektor Otomotif Terus Dipacu

Kementerian Perindustrian mendorong implementasi industri daur ulang atau recycle industry untuk sektor otomotif. Konsep tersebut dinilai mampu mendongkrak daya saing…

Keuntungan Naik, Volvo Pertahankan Pusat Ekspor di China

Volvo Cars akan mempertahankan China sebagai lokasi pusat ekspor, setelah mencetak kenaikan keuntungan operasional sebesar 0,9 persen pada 2018, kata…

Amazon Ikut Tanam Modal Teknologi Swakemudi

Perusahaan e-commerce raksasa Amerika Serikat (AS), Amazon, mengikuti tren teknologi global di bidang mobil otonom (swakemudi) dengan menanamkan investasi 530…