Analis : Berpeluang Positif, Tiga Saham Infrastruktur Layak Beli

NERACA

Jakarta-Menguatnya sektor industri dasar, infrastruktur berhasil memboyong beberapa kinerja saham di sektor tersebut cenderung ke arah tren positif di tahun 2013. Wijaya karya misalnya, yang tercatat selama 52 minggu mampu berada di harga 1.650 dan harga terendahnya adalah 600. "Angka tersebut mencerminkan adanya peluang positif yang dapat diraih WIKA untuk mencapai harga tertingginya," jelas analis saham Lucky Bayu Purnomo di Jakarta, Selasa (8/1).

Menurut Lucky, peluang positif tersebut di dukung dengan menguatnya sektor basic industry, infrastructure yang memiliki kaitan erat terkait dengan bisnis utama WIKA itu sendiri. Karena itu, WIKA mendapatkan sentimen positif.

Saat ini WIKA diperdagangkan dengan Price Earning (PE) sebesar 16,5 kali dan EV/EBITDA sebesar 8,5 kali sehingga menambah confident rekomendasi beli untuk saham ini.

Lucky mencatat, meskipun secara valuasi harga WIKA cenderung tinggi. Namun, saat ini harga WIKA belum mahal. Selain WIKA, saham yang juga bergerak di sektor konstruksi, ADHI juga menunjukkan harga tertingginya selama 52 Minggu sebesar 2.100, dan harga terendahnya 580. "Sehingga pada saat ADHI ditutup di harga 1.750 maka Tamoak saham ADHI ingin memberikan prestasi yang cukup baik dengan memberikan sinyal harga menutupan mendekati harga tertingginya." jelasnya.

Dengan demikian, Lucky menilai, secara sektoral, saham ADHI cenderung menguat di dorong dengan kinerja saham saham sejenis pada sektor yang sama. Didasarkan pada perkembangan kedua saham tersebut, lanjut Lucky dapat memberikan angin segar bagi saham WSKT yang baru saja melantai di bursa.

Meskipun saat ini belum terbaca secara jelas bagai mana sifat dari saham ini, namun sentimen positif lah yang dapat mendorong saham WSKT untuk menguat di kemudian hari. Hal tersebut seiring dengan tumbuhnya proyek proyek infrastruktur di Indonesia sebagai negara berkembang.

Prospek Pertambangan

Dia menambahkan, terkait prospek saham komoditas seperti pertambangan, menurut Lucky dalam kondisi pasar fluktuatif sebaiknya memilih saham berkapitalisasi cukup besar di industrinya, seperti ITMG, ADRO, PTBA, BYAN.

Perkembangan sektor pertambangan, batu bara ke depan, lanjut Lucky dipengaruhi oleh pergerakan harga batu bara di Newcastle dan Rotterdam sebagai barometer harga batu bara secara umum.

Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan, jika harga batu bara Newcastle mengalami kenaikan, bukan mustahil membuat harga saham berbasis thermal coal ini menarik untuk "dilirik".

Beberapa saham yang direkomendasikannya, antara lain ITMG, PTBA, HRUM, ADRO dan INDY. Namun, tidak demikian dengan kinerja saham komoditas yang tercatat secara fundamental tidak cukup bagus, saham BUMI misalnya. Karena sangat besarnya DER BUMI yang mencapai 14.28 kali dengan kerugian bersih di kuartal ketiga 2012 yang mencapai USD 632.49 juta atau setara Rp6,3 triliun, dia merekomendasikan untuk menjual (sell) saham tersebut karena profil risiko yang sangat tinggi. (lia)

BERITA TERKAIT

Hipmi: Investor Tidak Lagi Wait and See - DAMPAK POSITIF PERTEMUAN JOKOWI-PRABOWO

Jakarta-Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia mengatakan, pertemuan Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto menimbulkan konfiden yang…

Membangun Persatuan Bangsa Melalui Gerakan Konten Positif di Medsos

  Oleh : Sintya Azharoh, Mahasiswi Universitas Paramadina   Perkembangan tekonologi informasi telah banyak mempengaruhi semua aspek kehidupan masyarakat. Termasuk…

MKDA Private Placement 215 Juta Saham

NERACA Jakarta – Emiten pertambangan emas PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) bakal perkuat modal dengan aksi korporasi penambahan modal…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Catatkan Penjualan Lahan 25,3 Hektar - DMAS Masih Mengandalkan Kawasan Industri

NERACA Jakarta – Kejar target penjualan, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih fokus mengembangkan kawasan industri. Apalagi, perseroan menerima permintaan lahan…

Targetkan Pembiayaan Rp 1 Triliun - Astra Finacial Tawarkan Promo Bunga 0%

NERACA Jakarta – Proyeksi pasar otomotif dalam negeri yang masih lesu, menjadi tantangan bagi pelaku industri otomotif untuk terus menggenjot…

Perkenalkan Fortofolio Bisnis - Astra Tampil di 1st Pacific Expo Selandia Baru

NERACA Jakarta – Menunjukkan eksistensinya di dunia internasional, PT Astra Internasional Tbk (ASII) menjadi satu dari lebih dari 100 perusahaan…