Alasan Risiko Keamanan, WIKA Batasi Proyek Luar Negeri

NERACA

Jakarta – Belajar dari pengalaman proyek di Libya yang ditinggal begitu saja, lantaran keamanan mengancam, menjadi alasan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) untuk membatasi pasar proyek di luar negeri.

Corporate Secretary WIKA, Natal Agrawan Pardede mengatakan, pihaknya akan membatasi proyek di luar negeri karena pertimbangan minimnya jaminan keamanan dan risiko lainnya, “Kita lihat risiko, di Timur Tengah, risiko luar negeri lebih tinggi. Kalau ada masalah, seperti di Libya, tarik 200 orang aja susah,”katanya di Jakarta, Senin (7/1).

Oleh karena itu, dirinya kedepan dalam menggarap proyek pasar luar negeri akan lebih mengirimkan pekerja desainer. Selain itu,perseroan juga akan lebih fokus garap proyek Enginering Procurement and Contruction (EPC).

Kedepan dalam menggarap proyek luar negeri, kata Natal, pihaknya akan masuk bersama kumpulan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya melalui bendera Indonesia Incorporated seperti di Irak dan Myanmar.

WIKA sendiri bersama Indonesia Incorporated telah memiliki kantor perwakilan di Myanmar dan Irak namun hingga saat masih belum beroperasi."Di Irak sudah punya kantor tapi belum dapat kerjaan, Pertamina di sana akan ekspor Irak. Dari uang itu akan dapat pendanaan untuk mendanai proyek. WIKA akan men-support Pertamina bangun infrastruktur," tambahnya.

Natal juga menuturkan, kelanjutan proyek di Libya, perseroan diminta untuk melanjutkan proyek mal yang tertunda. Hal ini beralasan, karena membaiknya kondisi di negara yang pernah dipimpin oleh Muammar Gaddafi itu, “Mereka mengundang kita untuk kerja kembali. Itu proyek baru berjalan 10%. Wika Gedung sudah ke sana,”paparnya.

Meskipun masuk kembali ke Libya, WIKA akan mengevaluasi ulang nilai proyek karena terjadi perubahan harga bahan baku pasca kisruh. Pihak WIKA pun telah mengajukan surat pemberitahuan untuk penjaminan keamanan kepada Kementerian Luar Negeri Indonesia sebelum secara resmi kembali mengerjakan proyek di Libya."Kita masuk dengan syarat keamanan terjamin. Kita minta arahan pemerintah dari Kemenlu," sebutnya.

Seperti diketahui, WIKA menggandeng perusahaan lokal Libya, Solar Sahara Investment dalam mengerjakan mal senilai US$ 11,6 juta atau setara Rp 104,4 miliar. Proyek kerjasama dengan mitra Libya itu mempekerjakan sekitar 500 orang. Dari jumlah itu, 300 di antara pekerjanya warga negara Libya.

Tunda IPO

Kemudian menyinggung soal IPO anak usaha PT Wika Beton dan Wika Realty, kata Natal, pihaknya belum berencana menggelar aksi korporasi tersebut dalam waktu dekat. Alasannya, jelang pemilu pasar kurang kondusif.

Alasan lain, lanjut Natal, Wika Beton memiliki pendanaan cukup besar. Oleh karena itu pihaknya belum akan melakukan penawaran perdana saham Wika Beton. Sementara itu, kalau Wika Realty, Natal mengatakan, pihaknya ingin membesarkannya terlebih dahulu, “Wika realty size belum cukup besar. Kami ingin meningkatkan jumlah proyek dan land bank,”paparnya.

Dia menambahkan, rencana penawaran perdana saham dilakukan setelah 2014. Menurut Natal, penawaran perdana saham ank usaha tak terlalu rumit. Hal itu karena tak perlu ke DPR. (bani)

BERITA TERKAIT

Perkuat Jaringan Data - XL Rampungkan Proyek Jaringan Kabel Laut

NERACA Jakarta – Dalam rangka mengoptimalkan pelayanan, PT XL Axiata Tbk (EXCL) bersama dengan Vocus Group dan Alcatel Submarine Networks…

Optimalkan Pasar Dalam Negeri - ULTJ Pasang Konservatif Target Ekspor

NERACA Jakarta –Kejar pertumbuhan penjualan lebih besar lagi, PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) akan mengoptimalkan pasar dalam negeri…

TKN: Prabowo Kalah Debat, Tidak Perlu Cari Alasan

TKN: Prabowo Kalah Debat, Tidak Perlu Cari Alasan NERACA Jakarta - Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - KH Maruf…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

PPRO Berikan Kran Air Siap Minum di Semarang

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) pada lingkungan, PT PP Properti Tbk (PPRO) bersama…

Tawarkan IPO Rp 178 -198 Persaham - Interfood Bidik Kapasitas Produksi 10.600 Ton

NERACA Jakarta –Perusahaan produsen cokelat, PT Wahana Interfood Nusantara menawarkan harga penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO)…

Mandom Targetkan Penjualan Tumbuh 10%

Sepanjang tahun 2019, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) membidik pertumbuhan penjualan sebesar 5% hingga 10%. Hal itu ditopang pertumbuhan penjualan…