Pelaku Usaha Distro Tertekan Kenaikan TDL

NERACA

Bandung - Sejumlah kalangan pelaku usaha distro di Kota Kembang merasa keberatan dengan naiknya tarif dasar listrik (TDL). Pasalnya mereka terbebani ongkos produksi mencapai 15%, belum lagi ditambah banyaknya produk pakaian impor yang harganya cukup bersaing di dalam negeri.

Pengusaha Distro asal Bandung, Ricky (38) mengungkapkan kalau saat ini persaingan penjualan pakaian distro sudah sangat ketat sekali ditambah lagi dengan kenaikan TDL dan banjirnya produk pakaian impor di tanah air. Lebih jauh lagi Ricky memaparkan, usaha distro rawan sekali dengan pembajakan, karena lemahnya pengawasan serta biaya yang cukup mahal untuk mengurus kekayaan Hak Cipta dan Intelektual (HaKI).

"Untuk mengurus HaKI,prosesnya tidak mudah serta memerlukan biaya yang cukup besar,"papar Ricky di sela sela acara,The Launching of ASEAN Tex and Streetwear 2013 kepada Neraca di Bandung, Senin (7/1).

Di tempat yang sama, Toerangga Putra, penyelenggara ASEAN Tex and Streetwear 2013 mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk industri tekstile ini,karena industri tekstile sangat berperan dari hulu hingga hilirnya, serta menyerap pekerja yang cukup banyak, kurang lebih mencapai 1,5 juta orang. "Industri tekstile ini sangat potensial sekali,sehingga,pemerintah harus mendukung dengan sepenuh hati," terang Toerangga.

Sebelumnya,Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ernovian G Ismy mengatakan, 2013 merupakan tahun sulit bagi industri pertekstilan. Industri akan terbebani kenaikan upah minimum provinsi (UMP) yang tinggi, pemberlakuan tarif listrik yang baru, serta penyesuaian harga gas. “Kalau tarif listrik naik tahun depan, kami akan melakukan penghematan dengan memangkas karyawan,” ujar Ernovian.

Seperti diberitakan, pemerintah akhirnya memastikan kenaikan tarif tenaga listrik mulai 1 Januari 2013. Kebijakan itu diterapkan bagi semua golongan pengguna listrik dengan daya di atas 900 volt ampere (VA). Kenaikan dilakukan bertahap,setiap tiga bulan sekali, hingga secara kumulatif mencapai 15%. Ernovian memperkirakan kenaikan tarif tenaga listrik akan menyebabkan pertumbuhan industri tekstil tahun depan turun drastis.

Dia membandingkan, jika tahun 2011 pertumbuhan industri tekstil Indonesia bisa sebesar 13,4%, maka 2013 hanya akan mencapai 5%. “Turunnya akan banyak. Itu syukur sekali kalau masih bertumbuh 5%,” ucapnya.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan dan Distribusi Logistik Natsir Mansyur mengatakan, rencana pemerintah menaikkan tarif listrik akan memaksa pengusaha melakukan penghematan. Meski begitu, kenaikan biaya produksi tetap tak bisa dihindari. “Tentu ini (kenaikan tarif listrik) sangat membebani. Kita belum selesai masalah buruh, kemudian harga gas juga naik. Bagi saya ini ancaman buat usaha ke depan,” ujarnya.

Dia menambahkan, Kadin saat ini belum mengambil sikap atas rencana kenaikan tarif listrik. Dia khawatir produk- produk nasional akan menurun daya saingnya di pasar global. “Produk kita bisa saja tidak akan siap bersaing menghadapi ASEAN Community di 2015,” katanya.

Mediasi Pengusaha

Di pihak lain, Kementerian Perindustrian akan memediasi pengusaha yang merasa keberatan dengan rencana kenaikan tarif listrik. Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat berkeyakinan kenaikan tarif tenaga listrik secara bertahap hingga 15% masih bisa ditoleransi oleh dunia usaha. “Kita akan memediasi bagaimana supaya pengusaha juga bisa menerima kenaikan ini,”kata mantan Ketua Umum Kadin Indonesia ini.

Dia mengungkapkan, pelaku industri meminta kenaikan tarif listrik tidak seluruhnya dibebankan pada industri yang memiliki daya di atas 900 VA, tetapi juga pada sektor rumah tangga di bawah 900 VA. “Jadi yang kelas menengah langganan 900 VA juga dikenai, tapi sedikit,” ujarnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik berharap kalangan pengusaha dapat memahami rencana kenaikan tarif listrik dan bersama-sama pemerintah serta komponen masyarakat lain menjaga keberlanjutan ekonomi nasional. ”Saya sudah bertemu dengan Apindo, saya sudah jelaskan waktu itu. Dia kan mengusulkan agar yang 450 VA dan 900 VA itu juga dinaikkan, jangan lah itu,” katanya.

Jero Wacik mengatakan, kenaikan tarif listrik sudah berdasarkan strata usaha yang disusun oleh kalangan pengusaha. Ada strata usaha tertentu yang naik banyak, tetapi ada pula yang kenaikannya sedikit. “Ya DPR kan sudah setuju dan saya sudah mengundang mereka (pengusaha), pengusaha sudah dibikin stratanya. Misalkan perusahaan spa naiknya banyak, perusahaan garmen yang berat, misalnya dikecilkan,” katanya.

Ekonom Unika Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko, mengatakan rencana kenaikan tarif listrik yang memberatkan pengusaha bisa diimbangi dengan memberikan insentif bagi industri menengah dan kecil. Menurutnya,pemerintah harus lebih memberdayakan sektor kecil dengan memberikan kebijakan yang berorientasi pada usaha skala kecil dan menengah. Saat ini,k ebijakan pemerintah di sektor ini masih bersifat parsial.

“Kalau perusahaan besar memang tak ada masalah dengan kenaikan tarif listrik ini, tetapi yang lebih banyak dirugikan adalah sektor usaha menengah ke bawah sehingga perlu ada kebijakan yang mendorong dan memberdayakan usaha di sektor ini,” ucapnya.

Dia menuturkan, sektor industri khususnya usaha kecil dan menengah merupakan penopang perekonomian. Sektor ini penting diselamatkan karena salah satu penopang ekonomi di sektor konsumsi.

BERITA TERKAIT

Kadin Berharap Pemerintah Susun Regulasi Lebih Pro Dunia Usaha - Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri Indonesia berharap pemerintah membuat kebijakan dan regulasi bidang kelautan dan perikanan pro dunia…

LPDB Ajak KUMKM Babel Kembangkan Usaha

LPDB Ajak KUMKM Babel Kembangkan Usaha NERACA Pangkal Pinang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah…

Pertamina EP dan Chemindo Inti Usaha Jalin Kerjasama - Pemanfaatan CO2

        NERACA   Jakarta - PT Pertamina EP dan PT Chemindo Inti Usaha bersepakat menjalin kerja sama…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kementan Salurkan 1.225 Sapi Indukan ke Peternak

NERACA Jakarta – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan menyalurkan sapi indukan jenis Brahman Cross sebanyak 1.225…

Jerman Dukung Penuh Sawit Berkelanjutan di Indonesia

NERACA Jakarta – Pemerintah Jerman mendukung pembangunan kelapa sawit berkelanjutan yang mengacu kepada mekanisme Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang…

Kemenperin Rancang Insentif, Indeks dan Inovasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Pemerintah telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 untuk kesiapan memasuki era revolusi industri 4.0. Peta jalan…