Indonesia Segera Kebanjiran Investasi dari Korsel

NERACA

Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan diperkirakan bisa menyelesaikan perjanjian kerja sama perdagangan sebelum pertemuan tingkat tinggi APEC Oktober tahun ini di Bali. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan penyelesaian perundingan perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif dengan Korea Selatan adalah salah satu fokus Kementerian Perdagangan pada tahun ini. “Saya kira CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) Korsel sebelum APEC dapat ditandatangani,” katanya di Jakarta Senin (7/1).

Gita mengatakan perjanjian ekonomi tersebut akan menguntungkan Indonesia dalam bentuk aliran penanaman modal asing dari Korsel. Keterbatasan lahan, jelasnya, menyulitkan perusahaan negara ginseng meningkatkan kapasitas produksi secara domestik hingga harus membangun pusat produksi baru di luar negeri. “Kita untung dari investasi langsung yang masuk. Mereka investasi di sektor yang bernilai tambah seperti baja dan petrokimia,” kata Mendag.

Data BKPM menunjukkan nilai realisasi investasi Korsel di Indonesia pada Januari-September 2012 sudah melampaui US$1,23 miliar. Realisasi tersebut sudah lebih tinggi dari nilai investasi seluruh 2011 yang US$1,22 miliar dan 2010 yang US$0,33 miliar. Adapun nilai ekspor Indonesia ke Korsel pada Januari-November 202 mencapai US$6,14 miliar atau sekitar 4,36% dari total ekspor pada periode yang sama, sedangkan nilai impor non migas dari Korsel sebesar US$7,62 miliar atau mencapai 5,55% total impor non migas Indonesia.

Belum lama ini, Indonesia dan Korea memasuki babak baru kerja sama perdagangan yang ditandai dengan digelarnya perundingan Putaran Pertama Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) di Jakarta. Perundingan itu dipimpin oleh Sahala Lumban Gaol selaku Ketua Tim Perundung Indonesia untuk IK-CEPA dan Ketua Tim Perunding Korea untuk IK-CEPA, Kim Young-Moo. Perundingan Putaran Pertama IK-CEPA merupakan tindak lanjut rekomendasi hasil Joint Study Group (JSG) yang disepakati pada 21 Oktober 2011 serta pertemuan bilateral antara kedua negara, kata Kementerian Perdagangan RI dalam keterangannya.

Pertemuan bilateral pemimpin kedua negara, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Republik Korea Lee Myung-bak, digelar disela Nuclear Security Summit 28 Maret 2012 di Seoul, yang telah menyepakati untuk dimulainya perundungan IK-CEPA 2012. JSG telah menyimpulkan bahwa dengan mempertimbangkan peningkatan produktivitas dari beberapa sektor utama dalam kerangka CEPA termasuk trade in goods, trade in services, investment dan economic cooperation, maka Indonesia akan memperoleh peningkatan kesejahteraan sebesar 10,6 miliar dolar AS dengan pertumbuhan PDB 4,37 %.

Perundingan IK-CEPA merupakan langkah strategis bagi kedua negara untuk meningkatkan hubungan ekonomi, perdagangan dan investasi melalui suatu Persetujuan Ekonomi Komprehensif. Perundingan Pertama IK-CEPA telah membahas dan bertukar pendapat mengenai beberapa bagian dari Term of References (TOR) Perundingan IK-CEPA yang meliputi Introduction, Principles dan Scope and Coverage. Pertemuan sepakat untuk melanjutkan beberapa bagian TOR lainnya secara intersession.

Sekedar Informasi Total Perdagangan Indonesia-Korea Selatan pada tahun 2011 mencapai 29,4 miliar dolar AS dengan nilai ekspor sebesar 16,4 miliar dolar AS dan impor 12,9 miliar dolar AS, atau naik 44,8 persen dibanding total perdagangan pada tahun 2010 sebesar 20,3 miliar dolar AS.

Selama periode Januari-April 2012, total perdagangan kedua negara berjumlah sebesar 9,8 miliar dolar AS atau naik 12,17 persen dari periode sama tahun 2011 sebesar US$ 8,8 miliar. Tren total perdagangan kedua negara selama lima tahun terakhir (2007-2011) positif sebesar 25,11 persen. Neraca perdagangan Indonesia dengan Korea sejak tahun 2007 hingga 2011 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami surplus dalam perdagangan.

Neraca perdagangan tahun 2011 surplus bagi Indonesia sebesar 3,4 miliar dolar AS, turun 29,1 persen dibandingkan dengan 2010 yang tercatat surplus 4,9 miliar dolar AS. Sementara, untuk periode Januari-April 2012, Indonesia mengalami surplus sebesar 2,4 miliar dolar AS, naik 90,84 persen dibandingkan periode yang sama 2011 yang surplus 1,2 miliar dolar AS.

BERITA TERKAIT

Berbagai Kebijakan Disiapkan Tarik Investasi Manufaktur

NERACA Jakarta – Pemerintah terus berupaya mendorong peningkatan investasi di industri manufaktur, karena sektor tersebut berperan penting dalam menopang pertumbuhan…

Stasiun Cisauk jadi Daya Tarik Investasi Properti

  NERACA Jakarta - Keberadaan Stasiun Cisauk, Kabupaten Tangerang ini, setiap harinya melayani sekitar 6.200 penumpang dengan 132 perjalanan KRL…

Indonesia 2045, Antara Lumbung Pangan Dunia dan Krisis Pangan

Oleh : Abdul Aziz, Mahasiswa Fisipol di PTN Jakarta   Masa kampanye yang tinggal beberapa minggu lagi membuat intensitas kampanye…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dunia Usaha - Making Indonesia 4.0 Disebut Pemicu Ekspor Industri Manufaktur

NERACA Jakarta – Industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai ekspor nasional. Oleh karena itu, pemerintah semakin menggenjot…

Kebijakan Harus Fokus Pada Capaian Ketahanan Pangan

  NERACA Jakarta – Berbagai program terkait kebijakan pangan sudah disampaikan oleh dua pasang calon presiden dan calon wakil presiden,…

Penguatan Industri Hulu Jadi Salah Satu Prioritas Utama

NERACA Jakarta – Pemerintah menyiapkan langkah strategis perekonomian 2020-2024 yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor manufaktur. Ada…