Masa Depan BUMI Masih ‘Suram’ - Komoditas Tambang dan Kepercayaan Pasar Belum Pulih

NERACA

Jakarta- Harga komoditas tambang yang belum pulih dari keterpurukan menggerus kinerja saham di sektor tersebut hingga akhir tahun 2012. Proyeksinya, sektor ini pun masih akan ‘kelabu’ untuk beberapa bulan ke depan di tahun ini.

Lantas, bagaimana dengan prospek kinerja saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di tahun 2013 yang mencatatkan net loss sebesar US$632.49 juta atau rugi hampir Rp6,3 triliun di kuartal ketiga 2012, dan sejauh mana kepercayaan masyarakat? Berikut pemaparan beberapa analis pasar saham, “Mining, untuk beberapa bulan ke depan masih cenderung melemah, dan kepercayaan masyarakat terhadap masa depan BUMI saat ini juga lemah,”kata analis saham yang juga CEO PT Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo kepada Neraca di Jakarta akhir pekan kemarin.

Kondisi tersebut, menurut Lucky memicu terjadinya pelemahan saham BUMI. Spot harga batu bara di Newcastle dan Rotterdam yang menjadi barometer harga batu bara secara umum pun masih belum pulih.

Selain itu, melambatnya pertumbuhan ekonomi global, khususnya Cina sebagai buyer batu bara terbesar di dunia juga menjadi salah satu faktor yang mengganjal komoditas tambang untuk menanjak.

Di samping pengaruh kondisi komoditas global, Lucky menilai, pelemahan saham BUMI juga dipengaruhi adanya sentimen negatif dari perseteruan bersama Nathaniel Rothschild yang hingga saat ini belum berujung. Para pelaku pasar memberikan asumsi, masih ada beberapa data yang belum akurat, akibat belum selesainya kesepakatan di antara kedua belah pihak.

Kondisi itupun diperparah dengan adanya beberapa Direksi BUMI yang mengundurkan diri sehingga mengakibatkan melemahnya kepercayaan pasar terhadap masa depan BUMI.

Lucky mengatakan, sejauh ini membeli saham saham batu bara yang tidak memiliki kapitalisasi besar cenderung akan memiliki profil risiko yang tinggi. Karena itu, Lucky menyarankan agar para investor dan trader harus menerapkan sistem cut loss pada level tertentu untuk saham BUMI. Namun sebaliknya, bisa mulai mengakumulasi saham saham pertambangan yang memiliki kapitalisasi cukup besar, seperti ITMG, ADRO, PTBA, BYAN.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang. Dia mengatakan hingga kuartal pertama 2012, prospek kinerja saham di sektor pertambangan masih akan terkoreksi dikarenakan belum adanya tanda-tanda perbaikan harga komoditas global. Bahkan untuk saham BUMI yang notabene salah satu pemain besar di sektor pertambangan diperkirakan dapat terpuruk. “Di kuartal pertama 2013, kinerjanya akan lebih buruk ketimbang kuartal ketiga 2012 karena benchmark harganya jauh lebih rendah, terutama untuk komoditas coal dan CPO (Crude Palm Oil, red).” jelasnya.

Cut Loss BUMI

Menyoroti laporan keuangan emiten tersebut pada kuartal ketiga 2012, di mana perseroan mengalami net loss sebesar US$632.49 juta atau mencatatkan rugi hampir Rp 6,3 triliun, kata Edwin, hasilnya sangat mengkhawatirkan.

Angka tersebut menunjukkan terjadinya penurunan net profit yang sangat signifikan, mencapai -460.29%. Padahal pada kuartal ketiga tahun lalu, perseroan masih mencatatkan laba (profit) sebesar US$175.54 juta.

Bukan hanya itu, Debt to Equity Ratio (DER) BUMI pada kuartal ketiga 2012 mencapai US$6.689 miliar atau setara 14.28 kali dibandingkan sebelumnya sebesar 4.69 kali sebagai dampak naiknya long-term liabilities 20.59% menjadi US$4.269 miliar dari sebelumnya US$3.54 miliar, sedangkan total equity turun -65.16% pada kuartal ketiga 2012 menjadi US$468.159 juta dari sebelumnya sebesar US$1.343 miliar. “Rekomendasi saya sell dengan target price Rp310.” ujarnya.

Sementara menurut Lucky, pihak trader dan investor dapat menerapkan sistem cut loss pada saham BUMI di level Rp600. Dengan alasan, harga terendah BUMI selama 52 minggu yang lalu adalah sebesar Rp540. Karena itu, angka Rp600 merupakan angka psikologis pasar sehingga angka tersebut dapat dijadikan angka antisipasi. “Jika harga saham BUMI di kemudian hari melemah, maka potensi harga Bumi akan menuju 540, namun jika menguat di atas 600 maka potensi harga saham BUMI akan menguat.” jelasnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Sikapi Rekomendasi Credit Suisse - Dirut BEI Masih Optimis Pasar Tumbuh Positif

NERACA Jakarta – Di saat banyaknya pelaku pasar menuai kekhawatiran dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China terus…

Tingkatkan Pangsa Pasar - Kimia Farma Bakal Akuisisi Phapros

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnis, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan membeli 47.901.860 lembar atau 56,77 dari total saham…

Gaet Pasar Milenial - BTN Syariah Luncurkan Produk KPR Hits

NERACA Jakarta - Menyambut hari ulang tahun unit usaha syariah Bank BTN ke 14 yang jatuh 14 Februari 2019, anak…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Adira Finance Terkoreksi 28,81%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) mencatatkan laba bersih Rp1,815 triliun atau turun 28,81% dibanding periode…

Optimisme Ekonomi Tumbuh Positif - Pendapatan Emiten Diperkirakan Tumbuh 9%

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan keyakinan masih positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri menjadi alasan bagi BNP Paribas IP bila pasar saham…

MNC Sekuritas Kantungi Mandat Tiga IPO

Keyakinan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bila tahun politik tidak mempengaruhi minat perusahaan untuk go publik, dirasakan betul oleh PT…