Pasar Mobil 2013 Ditaksir Susut

NERACA

Jakarta - Efisiensi dan penurunan produksi menjadi alternatif kebijakan yang mungkin diambil prinsipal mobil nasional pada tahun ini sebagai respon atas potensi penyusutan pasar domestik, yang diperkirakan hanya mencapai kisaran 900.000 unit.

Johnny Darmawan, Presiden Direktur Toyota Astra Motor, melihat sangat sulit bagi para agen tunggal pemegang merek (ATPM) untuk mengulang kisah sukses penjualan 2012, yang menembus 1,1 juta unit, pada tahun ini.

Sebab, banyak faktor eksternal dan internal yang sifatnya menghambat pertumbuhan industri otomotif nasional sehingga membuat pelaku ubersikap konservatif. “Pasar mobil nasional pada tahun ini paling tinggi itu sama dengan tahun lalu. Tapi perkiraan saya akan turun ke kisaran 900.000 sampai 1 juta unit. Toyota sendiri kan market share-nya 36%, bisa diestimasi dari situ,” ujarnya di Jakarta, Kamis (3/1).

Menurut Johnny, yang juga Ketua III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), perlambatan usaha sudah mulai terlihat pada kuartal IV/2012, di mana pasokan yang tinggi tidak seimbang dengan permintaan yang turun.

Ada beberapa faktor yang disinyalir menyebabkan permintaan mobil menyusut, antara lain kondisi makroekonomi global yang memburuk akibat krisis kawasan Eropa dan pelamahan ekonomi Amerika Serikat, serta penurunan harga-harga komoditas dunia.

Selain itu, lanjut Johnny, muncul sejumlah kebijakan yang menghambat dari dalam negeri, seperti kenaikan upah minimum secara signifikan, kenaikan tarif dasar listrik setiap kuartal, serta kenaikan batas minimal uang muka pembiayaan syariah.

“Banyak aturan-aturan yang belum jelas, seperti aturan mengenai LCGC (mobil murah dan ramah lingkungan) yang belum keluar sampai sekarang. Juga faktor politik yang mulai panas pada 2013,” katanya.

Untuk mempertahankan kesinambungan usaha, Johnny Darmawan melihat ada beberapa strategi bisnis yang kemungkinan diambil oleh para ATPM. Mulai dari aktif melakukan kampanye atau promosi, hingga yang terburuk melakukan efisiensi atau menguangi produksi. “Karena cost meningkat, sementara volume (penjualan) turun.

Diperkirakan Naik

Namun pihak Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperkirakan jumlah penjualan mobil tahun depan naik tipis sebesar 5% dari target satu juta unit . Hal ini dikarenakan Indonesia masih dihantui ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Demikian disampaikan Ketua Umum Gaikindo, Sudirman Maman Rusdi.

Sudirman mengaku, target tersebut adalah target pesimistis. Pasalnya masih banyak tanda tanya mengenai kondisi perekonomian dunia dan dalam negeri. Penjualan mobil diperkirakan mencapai 1.050.000 unit di tahun 2013. “Gaikindo masih menunggu kejelasan peraturan Low Carbon Emission, kebijakan menyangkut BBM, uang muka, kenaikan tarif dasar listrik. Itu semua saling terkait. Tetapi mudah-mudahan stabilitas politik sama seperti saat ini dan kondisi makro ekonomi membaik,” jelasnya.

Dia mengatakan, kenaikan TDL tersebut akan berdampak pada inustri otomotif terutama industri komponennya. “Industri perakitan akan terkena dampaknya, tapi yang lebih besar di industri komponen,” kata dia.

Sudirman melanjutkan, Gaikindo akan melakukan kalkulasi kenaikan biaya terhadap dampak kenaikan TDL sekitar 15% tahun depan. Meskipun banyak ketidakpastian, namun Sudirman berharap dengan banyaknya model baru akan dapat mendorong penjualan. “Semakin banyaknya produk baru yang dirilis produsen, justru masyarakat akan diuntungkan dengan semakin banyaknya pilihan,” ujar dia.

Dia mengatakan, ada potensi pasar sebesar 45 juta orang kelas menengah di Indonesia saat ini. Hal ini menandakan bahwa permintaan jauh lebih besar daripada suplai, karena saat ini produksi mobil Indonesia baru akan mencapai 1 juta unit per tahun.

Sementara itu, Sekjen Gaikindo Juwono Andrianto mengungkapkan kendaraan dengan segmen sedan akan menjadi pilihan konsumen setelah kendaraan roda empat dengan segmen SUV dan city cars. Ditargetkan ada pertumbuhan 10%.

Lebih jauh lagi Juwono memprediksi kendaraan roda empat dengan segment 4×2 akan mendominasi pada 2013 dengan pertumbuhan sebesar 10%. Namun, dengan beberapa skenario perubahan indikator ekonomi, penjualan kendaraan roda empat akan sedikit terhambat. “Kita melihatnya segmen 4×2 akan mendominasi ditambah dengan adanya model baru yang dikeluarkan oleh beberapa merk perusahaan mobil pada 2013,″ kata Juwono.

Dia menambahkan, kendaraan dengan segmen sedan akan menjadi pilihan konsumen setelah kendaraan roda empat dengan segmen SUV dan city cars. Untuk itu, dirinya berharap pertumbuhan penjualaan kendaraan roda empat akan baik pada 2013.

“Apalagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ditahun ini diprediksi baik. Bahkan, secara normal kita prediksi pertumbuhanya sebesar 10%. Kalau optimis bisa 15%. Tapi, saya rasa dengan ada dampak BBM akan memengaruhi pertumbuhan penjualan itu,” ucapnya.

Namun, ia belum berharap terlalu tinggi disebabkan harga BBM akan memengaruhi penjualan dan daya beli masyarakat Indonesia, sehingga Gaikindo hanya mematok angka 10%. Data pertumbuhan kendaraan roda empat sendiri pada 2008-2012, sedan sebesar -8%, 4×2 H/B 41%, 4×2 MPV 101%, 4×2 SUV + 4×4 91%. Segmen 4×2 tetap mendominasi dalam data ini.

BERITA TERKAIT

Volkswagen Segera Mampu Produksi 15 Juta Mobil Listrik

Volkswagen mengumumkan akan memiliki kapasitas untuk membangun hingga 15 juta mobil listrik selama beberapa tahun ke depan, berdasarkan laporan Reuters…

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil NERACA Jakarta - Pasar properti nasional pada tahun 2019 mendatang diprediksi bakal…

Azuz Zenfone Max Pro M2 dan Zenfone Max M2 Masuk Pasar Indonesia

Asus secara resmi memperkenalkan Zenfone Max Pro M2 untuk pasar Indonesia. Penerus Zenfone Max Pro M1 ini menjanjikan performa lebih…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Indonesia Latih Petani Hortikultura Timor-Leste

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia memberikan pelatihan teknis hortikultura kepada petani Timor Leste di desa Oesilo, Oecussi untuk membangun ekonomi…

Pungutan Ekspor Sawit Dihentikan, Program Jalan Terus

NERACA Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tetap menjalankan programnya, meski pemerintah menghentikan sementara dana pungutan ekspor…

Menperin: IKM Makanan dan Tenun Kian Prospektif

NERACA Jakarta – Industri kecil dan menengah (IKM) di Provinsi Riau masih menjadi sektor andalan dalam menunjang roda perekonomian masyarakat…