BPOM Temukan 48 Kosmetik Berbahaya

NERACA

Jakarta - Masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati dalam membeli produk kosmetik, pasalnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 48 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya.

"Berdasarkan hasil pengawasan Badan POM di seluruh Indonesia dari Januari hingga Oktober 2012 telah ditemukan 48 kosmetika yang mengandung bahan berbahaya. Untuk itu, Badan POM mengeluarkan peringatan publik agar masyarakat tidak menggunakan kosmetika yang dapat membahayakan kesehatan," kata Kepala BPOM, Lucky S. Slamet pada acara konferensi pers di Jakarta, Kamis (27/12).

Namun demikian, hasil temuan kosmetika mengandung bahan berbahaya yang telah ditemukan oleh Badan POM dalam 5 tahun terakhir mengalami penurunan dari 3,19 menjadi 0,42% temuan dari jumlah produk yang dilakukan sampling.

"Pada 2008 jumlah temuan 3,19% dari produk yang disampling, 2009 jumlah temuan 1,49%, 2010 jumlah temuan 0,86%, 2011 jumlah temuan 0,70% dan tahun ini jumlah temuan mencapai 0,42%. Bahan berbahaya yang diidentifikasi terkandung dalam kosmetika tahun ini menunjukkan tren yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu penggunaan bahan berbahaya pada bahan pemutih kulit dan pewarna," paparnya.

Ke depan, kata Lucky, BPOM akan menarik produk-produk yang mengandung bahan berbahaya dari peredaran lalu akan dimusnahkan. Tak hanya itu, bagi produsen yang telah terbukti menggunakan bahan-bahan berbahaya pada produk kosmetik akan diproses secara hukum. Dalam 5 tahun terakhir, lanjut dia, ada sekitar 219 kasus peredaran bahan-bahan berbahaya yang telah diajukan ke pengadilan dengan sanksi putusan pengadilan yaitu paling tinggi adalah penjara selama 2 tahun 1 bulan.

Untuk itu, tambah dia, Badan POM berkomitmen untuk terus melakukan koordinasi lintas sektor antara lain dengan Pemerintah daerah, dinas kesehatan, dinas perindustrian, dinas perdagangan dan pihak kepolisian serta asosiasi dalam pengawasan dan penanganan kasus kosmetika yang mengandung bahan berbahaya. "Kepada pelaku usaha yang melakukan produksi atau mengedarkan kosmetika mengandung bahan berbahaya harus menghentikan praktek-praktek tersebut," tegasnya.

Lucky menambahkan kosmetik yang mengandung merkuri dan hidrokinon memang banyak berasal dari China. Namun angkanya hanya setengah dari total impor kosmetik China ke Indonesia. "Secara umum obat impor, contoh obat tradisional yang impor itu cuma 20%. Dari 20% itu, 50% dari China yang tidak memenuhi ketentuan. Kami secara rutin memberikan input surat keterangan impor," papar Lucky.

Lucky menyebutkan produk berbahaya yang telah ada di pasaran tidak melalui jalur semestinya. Sehingg Badan POM sangat membutuhkan bantuan kerjasama dengan pihak lainnya. "Badan POM tidak bisa single player, jadi kita berkoordinasi dengan yang terkait lainnya," ujar Lucky.

Lucky mengatakan bahaya kosmetik yang mengandung zat merkuri bisa merusak sistem syaraf, dan hidrokinon bisa membuat kulit terbakar. "Kalau hidrokinon mempercepat kulit putih, tapi itu sebenarnya terbakar hingga merah-merah," tutup Lucky.

Bahan Berbahaya

Sekedar informasi, kosmetik berbahaya dengan kandungan pewarna berbahaya yang beredar di pasaran, salah satunya dicampur dengan pewarna tekstil. Kosmetik berbahaya ini dicampur dengan bahan pewarna merah K.10 (Rhodamin B) dan merah K.3 (CI Pigment Red 53). Zat pewarna sintesis yang menempel pada sebagia komsetik ini bisa mengakibatkan iritasi pada saluran nafas dan merupakan zat karnosigen. Adapaun Rhodamin B dapat menyebabkan kerusakan hati.

Selain bahan pewarna tekstil yang berbahaya ada pula pemutih kulit yang dicampur bahan kimia lain. Antara lain, merkuri. Bahan ini adalah zat yang pertama digunakan sebagai skin bleaching dalam bentuk garam merkuri. Mono benzon juga dilarang untuk kosmetik. Adapun hidroquinon mamiliki efek samping pemakaian jangka pendek yaitu dermatitis kontak alergi, perubahan warna kukuk serta hiperpigmentasi, asam azaleat yang bisa menyebabkan gatal, eritema ringan, bersisik dan rasa terbakar.

Terdapat pula asam kojik yang dimanfaatkan sebagai pencerah kulit dengan efek samping eritema pada wajah. Sedangkan bahan lain yang digunakan adalah hijau yang mengandung senyawa polifenol dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat.

BERITA TERKAIT

Tak Dapat Insentif Pajak, Pengusaha Daur Ulang Plastik Terancam Bangkrut

NERACA Jakarta - Para pengusaha daur ulang plastik yang tergabung dalam Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) mengeluhkan tidak adanya…

Kelompok Tani Hutan Tetap Panen di Tengah Wabah Corona

NERACA Bogor- Meski wabah virus Corona tengah merebak, Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BDLHK) Bogor, bersama para penyuluh kehutanan,…

Pemerintah Jaga Produktivitas Industri Mamin

NERACA Jakarta - Industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor manufaktur andalan yang selama ini memberikan kontribusi signfikan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pertamina Menggandeng UNPAD, Produksi Hand Sanitizer

NERACA Bandung - PT Pertamina (Persero) mendukung berbagai pihak untuk memproduksi produk pencegahan penyebaran virus Covid-19. Salah satunya dengan Fakultas…

Mencegah Corona, Panen Tetap Harus Mengikuti Prosedur

NERACA Indramayu – Pandemi covid-19 tidak menjadi halangan bagi petani untuk panen. Di Desa  Nunuk, Kecamatan Lelea, Indramayu, para petani…

Covid-19 Tak Mempengaruhi Akses Pengiriman Logistik Perikanan

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meminta akses pengiriman sarana produksi dan logistik di Bidang Kelautan…