Manfaatkan Peluang dan Eksistensi Bisnis di Sektor Power Plant

Langkanya ketersedian energi listrik di Indonesia dapat di lihat dari rasio yang rendah dari electricity reserve margin dan current electrification sebesar 65%, hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk memenuhi ketersedian listrik. Terlebih seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang positif memicu kebutuhan energi listrik makin besar. Merespon hal tersebut, PT Exploitasi Energi Tbk (CNKO) yang bergerak di bisnis tambang mencoba masuki peluang bisnis energi yang dinilai menjanjikan.

Bagaimana strategi perseroan masuki bisnis energi kedepan, selain pertambangan. Neraca mewancarai Presiden Direktur PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk Henry Halomoan Sitanggang. Berikut petikan wawancaranya.

Tahun depan harga komoditas diperkirakan masih bakal melorot, termasuk batu bara bagaimana bapak menyikapinya ? Isu krisis ekonomi global masih jadi sentimen bagi harga komoditas dan termasuk batubara. Namun harusnya globalisasi sejak eropa krisis, market harus mereposisikan diri. Dunia luas tidak hanya eropa dan Amerika, ada Afrika dan Afrika Selatan. Ini harus di pikirkan, karena selama ini kita melihat hanya tradisional market dan memang indeks di bentuk karena tradisional market. Kita akan jual di lokal market dan kalau harga komoditas besok turun, saya pikir akan tetap stabil dan masih ada kecenderungan naik dikit, karena lebih kebutuhan konsumsi energi lokal dan bukan industri. Kemudian strategi apa yang dilakukan perseroan untuk mensiasati hal tersebut, adakah mencari lini bisnis baru ? Ini agak unik kalau di bisnis kami. Kita tahun depan naikkan volume dan ini bertolak belakang dengan ekspor batu bara. Banyak orang turunin produksi, kita naikkan produksi. Dengan naikkan volume itu, memang harga pasti ada koreksi tapi bisa dicover dengan volume yang naik. Dari sini, kami punya pelajaran yang cukup banyak dan kita harus punya bisnis dengan nilai lebih. Karena itu, kita lari ke bisnis power plant dengan pendapatan yang konstan. Itu strategi kita, bisnis power plant tidak hanya energi coal tetapi juga dari hydro. Selanjutnya, sejauh mana bapak melihat persaingan bisnis industri pertambangan dan pasarnya di Indonesia ? Menurut saya, industri batu bara sudah sunset. Alasannya, banyaknya regulasi yang baru muncul sehingga coal atau mining industri di Indonesia kalorinya sudah mulai rendah. Kalau mau ekspor, biaya transportasi sudah besar dan margin turun dan ini harus bicara mengalihkan model bisnis.

Makanya, kami harus lari ke power plant dan problem main ke power plant control ada di PLN dan harus melalui tender. Pasalnya, ini bisnis subsidi. Bila tidak harga kita bakal tinggi dan sedangkan daya beli belum cukup. Oleh karena itu, ini agak unik karena itu bisnis batu bara di bilang sudah sunset. Pertimbangannya, masing-masing negara mulai mengamankan energi, karena energi ini bisnis strategis.

Bicara pasar batubara, sangat berprospek karena industri sudah mulai banyak. Contoh PLN kewalahan suplai listrik ke suatu industri dan industri itu akan bangun power plant sendiri dan hal ini sudah banyak dilakukan.

Bicara regulasi, apakah sudah mendukung industri pertambangan nasional ?

J Kalau regulasi pasti sudah diatur dalam Undang-Undangnya dan juga ada UU lama sebelumnya. Tentu saat bicara UU lama pasti mendukung industri pertambangan, cuma pemerintah bersifat strategi dan kita tidak ekspor tambang mentah. Tetapi mau ada nilai lebih dalam bisnis ini, misalnya medium industri produk ada di kita tapi finising di luar dan kalau perlu finsing di kita.

Kemudian kalau bicara industri, kuncinya suplai listrik atau kita sebut infrastruktur. Harusnya kalau kita industri tambang bisa lihat dari segi positif aturan tersebut dan siap dari awal tentunya sangat mendukung. Artinya regulasi sudah mendukung, karena pemerintah targetnya global pertahankan pertumbuhan ekonomi yang pasti menciptakan lapangan pekerjaan.

T. Kemudian bisnis apa yang bakal dilakukan perseroan tahun depan dan target produksi dan penjuakan batu bara ?

J. Target penjualan batu bara tahun depan 3 juta ton ke PLN. Naik 100% dibandingkan tahun lalu 1,4 juta sampai desember 2012 atau dua kali lipat. Kalau bisnis energi, masih bangun powerplant dengan kapasitas listrik masih 11 mega watt dan ini sedang dibangun. Kontrak baru belum ada dan masih pasok ke PLN. Sementara negara tetangga di Asean masih direncanakan, seperi Malaysia, Vietnam PLTU. Pada saat akuisisi di Indonesia bagian timur, kita bakal lirik ekspansi ke Timor Leste.

BERITA TERKAIT

Danai Infrastruktur Jangka Panjang - OJK Dorong Pemda Manfaatkan Pasar Modal

NERACA Jakarta – Perkenalkan instrumen pasar modal yang dinilai layak untuk mendanai infrastruktur, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong pemerintah daerah…

Dunia Usaha - Perang Dagang AS-China Disebut Beri Peluang Bagi Manufaktur RI

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian tengah fokus menggenjot investasi di lima sektor yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu…

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Pembangunan Jaya Ancol Tumbuh 1,4%

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba tahun 2018 sebesar Rp223 miliar atau tumbuh 1,4% dibandingkan dengan periode yang…

Laba Bersih Indocement Menyusut 38,3%

NERACA Jakarta – Pasar semen dalam negeri sepanjang tahun 2018 mengalami kelebihan pasokan, kondisi ini berdampak pada performance kinerja keuangan…

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…