Semen Indonesia Gelar Ekspansi ke Myanmar

NERACA

Jakarta - PT Semen Gresik yang baru saja berganti nama menjadi PT Semen Indonesia berambisi terus mengembangkan sayapnya. Setelah mengakuisisi perusahaan Semen di Vietnam, Semen Indonesia makin gencar berekspansi dengan mengincar pabrik semen di Myanmar.

Direktur Utama Semen Indonesia Dwi Soetjipto menyatakan keseriusannya ekspansi. Rencana ini akan direalisasikan pada kuartal II tahun depan. Saat ini pihaknya masih fokus pada ekspansi di Vietnam. "Kita tahu memang sesuai kapasitas kira-kira ruang Semen Indonesia investasi di sana kapasitasnya 1 juta ton per tahun," ungkap Dwi di Jakarta, Kamis (20/12).

Dia mengaku, saat ini telah menemui beberapa calon partner lokal dan terus melakukan penjajakan. Namun ekspansi ke Myanmar baru bisa dilakukan setelah pabrik semen di Vietnam terintegrasi dengan Semen Indonesia. "Kita di Vietnam menurunkan tim integrasi melakukan assesment mengenai legal, IT dan sehingga sistem pelaporan keuangan masuk dalam standar semen gresik grup nantinya," tambahnya.

Ekspansinya ke Myanmar diakui tidak akan sebesar ekspansi di Vietnam. "Kalau hitung-hitungan dalam porsi tidak terlalu besar karena beban cash out kita," jelasnya.

Sebelumnya Hingga kuartal III 2012, volume penjualan Semen diproyeksi mencapai 15,6 juta ton. Sekretaris Perusahaan Semen Gresik, Agung Wiharto, mengatakan kenaikan penjualan masih ditopang dari kontribusi penjualan semen di dalam negeri, terutama di sektor properti, infrastruktur dan ritel. Pada September penjualan diproyeksikan bisa mencapai 1,8 juta ton.

Selain itu, periode Januari-Agustus 2012 naik 11,6% menjadi 13,86 juta ton dibanding periode yang sama 2011 sebesar 12,42 juta ton. Sementara pada Agustus, penjualan Semen Gresik naik 5,8% menjadi 1,55 juta ton dibanding realisasi periode yang sama 2011 sebesar 1,5 juta ton.

Lebih lanjut, Agung menambahkan, penurunan ekspor masih dianggap hal wajar, karena produksi semen perseroan lebih banyak dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Ekspor hanya dilakukan apabila pasar domestik tidak menyerap produksi. Selain itu, opsi ekspor juga tidak terlalu diprioritaskan karena akan menambah beban pengangkutan dan menambah biaya.

Sementara itu, kontribusi penjualan domestik Semen Gresik pada delapan bulan pertama 2012 mencapai 13,82 juta ton. Sementara total ekspor hanya 40,46 ribu ton. Penjualan ekspor periode delapan bulan pertama tahun ini turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 43,1%.

Konsumsi Meningkat

Menurut data Asosiasi Semen Indonesia, pada periode Januari-Agustus pertama 2012 konsumsi semen nasional mencapai 34,3 juta ton atau naik 12,6% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 30,5 juta ton.

Sepanjang periode Januari-Agustus ekspor semen turun signifikan 65% menjadi 60,7 ribu ton dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 172,7 ribu ton. Demikian halnya dengan ekspor clinker yang juga turun 83,5% menjadi 100,4 ribu ton dibanding tahun sebelumnya 607,3 ribu ton.

Rudy Hermawan Kepala departemen Litbang dan Jaminan Mutu Sgr juga memaparkan di era globalisasi saat ini adalah hal yang mustahil untuk menghindari persaingan usaha, bersaing secara sehat harus berani dilakukan Semen Gresik (SG). Sebab tak menutup kemungkinan ada pengusaha semen luar negeri membangun pabriknya di Indonesia sebagai negara sedang berkembang. Namun SG siap bersaing dengan luar negeri kalau itu harus terjadi. ”Tak ada masalah kita sudah sangat siap untuk itu,” tegas Rudy.

Demikian juga dengan Indocement awalnya milik Taipan Almarhum Liem Sieo Liong atau Sudono Salim yang kemudian di jual ke pengusaha luar negeri. Apalagi kondisi SG saat ini bisa dikatakan bagus dengan produksi 2,5 juta ton, sementara kebutuhan semen 200 kg per orang per hari. Sesuai dengan perkembangan daerah Jatim adalah konsumen terbesar pengguna SG, menyusul Sumatera, Riau, Maluku, dan Bali termasuk daerah paling kecil pengguna SG.

Kalau memang pengguna SG cukup besar kenapa tak melakukan ekspor. Menurut Agung, jika SG diekspor justeru akan merugi, karena bagi dunia yang sudah maju mereka tidak butuh semen. Contohya seperti Jepang dan Jerman mereka tidak butuh semen. Kerugian paling besar jatuhnya pada soal bea transportasi karena semen sangat berat bebannya. ”Jangankan ke luar negeri di dalam negeri saja untuk daerah tertentu yang sulit transportasinya di kalkulasi tekor apalagi kalau dilaluinya lewat udara,” tegasnya.

Kendati demikian bukan berarti Indonesia tidak pernah ekspor semen ke luar negeri, seperti yang pernah dilakukan semen Padang misalnya pernah ekspor ke Madagaskar, Afrika, kemudian Tonasa pernah ke Taiwan, Malaysia, Singapura.

Jadi intinya karena melayani kebutuhan dalam negeri sudah cukup maka alangkah lebih baiknya kalau fokus ke dalam negeri dengan meningkatkan berbagai sektor terutama mutu atau kualitas selain kuantitas.

Demikian juga soal pembangunan pabrik semen baru di daerah tertentu yang bahan bakunya banyak tersedia, contoh Madura misalnya bahan bakunya banyak tersedia namun pertimbangan lain jangan diabaikan misalnya konsumennya apakah daerah tersebut sedang membangun atau tidak.

Kemudian soal kapasitas produktifitas juga jangan dilupakan, Madura diperkirakan hanya akan mampu 1,5 juta ton, padahal semestinya 2,5 juta ton. Untuk membangun pabrik semen tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena banyak pertimbangan yang harus dialakukan diantarañya konsumennya harus jelas, Irian Jaya punya persediaan bahan baku yang cukup namun pertimbangan konsumennya tidak memungkinkan, makanya tidak perlu membangun pabrik semen di daerah yang tidak memungkinkan secara kalkulasi bisnis.

BERITA TERKAIT

Dewan Kayu Indonesia Bakal Dibentuk Demi Tingkatkan Ekspor

NERACA Jakarta – Sedulur Kayu dan Mebel (Sekabel) Jokowi siap membentuk Dewan Kayu Indonesia atau Indonesia Timber Council (ITC) sebagai…

PASAR OBLIGASI INDONESIA DIPREDIKSI MEMIKAT INVESTOR - Utang Pemerintah Meningkat 10,42% per Maret

Jakarta-Data Kementerian Keuangan mengungkapkan, posisi utang pemerintah per akhir Maret 2019 mencapai Rp4.567 triliun, atau meningkat 10,42% dibanding posisi yang…

Produktivitas Tenaga Kerja Indonesia Masih Rendah

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan isu membanjirnya tenaga kerja asing…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Separuh Pelaku Kreatif Ditargetkan Daftar HKI

NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) menargetkan sebanyak 50 persen dari 8,2 juta unit usaha ekonomi kreatif yang tercatat…

Pasar Besar - Industri Kaca Alat Farmasi dan Kesehatan Tambah Kapasitas Produksi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu pengembangan industri kaca untuk alat-alat farmasi dan kesehatan. Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri…

IKM Itu Penggerak Ekonomi Berbasis Kerakyatan

NERACA Jakarta – Industri kecil dan menengah merupakan salah satu sektor penggerak ekonomi nasional berbasis kerakyatan. Hal ini lantaran para…