Ciptakan Generasi Yang Kreatif - Kurikulum Baru 2013

Seiring dengan perubahan dan tuntutan zaman, ciri maupun model pembelajaran dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan abad 21 telah mengalami pergeseran. Tahun 2013 mendatang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merubah kurikulum pendidikan di Indonesia secara drastis. Dari kurikulum yang sifatnya hanya hafalan semata, menjadi kurikulum yang lebih berbasis pada penguatan penalaran. Rencana ini rupanya sudah digagas sejak 2010.

“Pengembangan kurikulum 2013 difokuskan untuk dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (attitude), ketrampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge) yang terintegrasi,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh.

Kekurangan mendasar pada kurikulum, menurut Nuh terletak pada kreatifitas. Sehingga yang dibutuhkan sekarang adalah modal pengetahuan. Tapi, itu saja tidak cukup. Harus ada unsur produktif, kreatif, inovatif dan afektif.

Sesuai dengan kemajuan teknologi dan informasi di abad 21, model pembelajaran yang cocok diterapkan dalam pendidikan adalah pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk mencari tahu dari berbagai observasi, bukan diberi tahu. Lalu pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah, melatih berfikir analitis, dan pembelajran yang menekan kan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah.

Itu sebabnya perlu merumuskan kurikulum yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba (observation based learning) untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Di samping itu, dibiasakan bagi peserta didik untuk bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning.

Pertanyaannya, pada pengembangan kurikulum 2013 ini, apa saja elemen kurikulum yang berubah? Empat standar dalam kurikulum meliputi standar kompetensi lulusan, proses, isi, dan standar penilaian akan berubah sebagaimana ditunjukkan dalam skema elemen perubahan.

Perubahan yang Diharapkan

Pengembangan kurikulum 2013, selain untuk memberi jawaban terhadap beberapa permasalahan yang melekat pada kurikulum 2006, bertujuan juga untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang diperoleh atau diketahui setelah siswa menerima materi pembelaj­aran.

Melalui pendekatan itu diharapkan siswa memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif. Sedikitnya ada lima entitas, masing-masing peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, manajemen satuan pendidikan, Negara dan bangsa, serta masyarakat umum, yang diharapkan mengalami perubahan.

BERITA TERKAIT

Tawarkan IPO Rp 396-525 Persaham - Hensel Davest Tambah 300 Ribu Agen Baru

NERACA Jakarta – Dalam rangka penetrasi pasar, khususnya mengoptimalkan pasar di Timur Indonesia, PT Hensel Davest Indonesia Tbk sebagai perusahaan…

Lepas 800 Juta Saham Baru - Inocycle Targetkan Penjualan Tumbuh 40%

NERACA Jakarta – Rencanakan go publik, PT Inocycle Technology Group Tbk terus pacu ekspansi bisnis dengan membuka pabrik baru. Dimana…

Groundbreaking Proyek Smelter - PTPP Catat Kontrak Baru Rp10,57 Triliun

NERACA Jakarta – PT PP (Persero) Tbk (PTPP) berhasil membukukan kontrak baru sampai dengan April 2019 sebesar Rp10,57 triliun atau…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Merajut Jaring Literasi Baca Anak

    "Halo, perkenalkan, namaku Ceta. Aku mau ajak teman-teman di sini untuk bermain tebak-tebakan. Mulai dari kelompok perempuan dulu,…

Tips Mengajak Anak Berpuasa

    Memasuki Ramadan, maka umat Islam akan mulai ibadah puasa. Tidak jarang anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan pun…

Pentingnya Peran Peneliti untuk Mitigasi Bencana

  Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sri Sunarti Purwaningsih menilai pentingnya peran peneliti dan…