Sepanjang 2013, Industri Kapal Diproyeksikan Tumbuh 20%

NERACA

Jakarta - Kendati permintaan kapal pada tahun ini belum mencapai target, tetapi Indonesian National Ship Owners Association (INSA) tetap menargetkan pada 2013 industri perkapalan nasional akan tumbuh sebesar 20%. Hal itu dikarenakan meningkatnya kebutuhan kapal pengangkutan baran di pasar domestik.

"Kami memproyeksikan kebutuhan kapal pada 2013 bisa tumbuh sebesar 20%. Ini terjadi karena peningkatan angkutan barang di pasar domestik, baik di sektor off shore (lepas pantai) mapun batubara," ungkap Ketua INSA Carmelia Hartoto di Jakarta, Senin (10/12).

Dia menjelaskan bahwa hingga akhir tahun ini, permintaan kapal baru mencapai 541 unit. Menurut dia, realisasi ini mengalami penurunan hampir 50% padahal target di awal tahun permintaan kapal bisa mencapai 1.000 unit. Total kapal yang berada di dalam negeri, menurut Carmelita, mencapai 12.600 unit.

"Dari semua kapal yang ada, setiap dua tahun sekali ada sekitar 6.000 kapal yang harus diremajakan. Dengan potensi alat angkut perairan di Indonesia, banyak investor asing yang ingin menanamkan modalnya untuk membangun industri galangan kapal," paparnya.

Namun demikian, Carmelita meminta kepada pemerintah untuk menetapkan peraturan penetapan saham perusahaan asing yang tidak boleh melebihi 51%. "Pemerintah diharapkan melindungi industri perkapalan dalam negeri dengan mengenakan asas cabotage," ujarnya.

Pasalnya, menurut dia, negara berpotensi kehilangan devisa sebesar Rp241 triliun per tahun akibat masih banyaknya kapal asing dalam kegiatan ekspor impor yang tidak dikenakan pajak. "Potensi kehilangan devisa karena kapal asing tidak dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10% seperti yang dibebankan pada kapal nasional dalam aktivitas ekspor dan impor," imbuhnya.

Capai Puncak Kejayaan

Sebelumnya Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi mengatakan kinerja industri perkapalan atau doking dalam negeri diyakini akan terus membubung sejalan dengan mulai berlakunya asas cabotage. Diperkirakan, industri ini akan mencapai puncak kejayaan di tahun 2014 karena kian meningkatnya perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan transportasi laut sebagai penopang aktivitas masyarakat.

Dampak positifnya, kebutuhan kapal akan terus meningkat seiring dengan kian besarnya tingkat kebutuhan masyarakat, termasuk untuk memenuhi suplay kebutuhan energi di seluruh penjuru tanah air.

"Sesuai dengan pengalaman di berbagai negara, lompatan ekonomi akan terjadi ketika pendapatan perkapita masnayakat menyentuh level US$5.000 per tahun. Jika pada tahun ini pendapatan perkapita masyarakat mencapai US$4.000 per tahun dan di tahun depan menjadi sebesar US$4.500 per tahun, maka di tahun 2014 pendapatan mereka diprediksi mencapai US$5.000 per tahun. Pada saat inilah akan terjadi lompatan ekonomi. Kebutuhan energi akan meningkat sejalan dengan kian tingginya aktifitas masyarakat," ujar Budi.

Karena kegiatan ekonomi dan kebutuhan energi meningkat, maka kebutuhan armada kapal sebagai penunjang juga akan meningkat. "Saya yakin, pada saat itu, akan terjadi lonjakan permintaan untuk sektor industri perkapalan, baik untuk pembangunan kapal baru ataupun untuk perbaikan kapal atau harkan. Untuk itu, saya mengimbau kepada industri galangan dalam negeri untuk bersiap-siap dengan meningkatkan kapasitas dan kualitas doking mereka," tegasnya.

Pasalnya, ketika industri dalam negeri tidak mampu, pastinya pasar ini akan beralih ke luar dan akan ditangkap oleh negara lain. Karena dengan adanya perjanjian perdagangan bebas dengan berbagai negara, aktivitas perdagangan akan semakin mudah dan persaingan juga akan semakin sengit. "Makanya, industri dalam negeri harus segera menyiapkan diri mulai dari sekarang, jangan sampai kalah dengan negara lain," tuturnya.

Direktur Utama PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) Tjahjono Roesdianto mengatakan, kinerja industri perkapalan dalam negeri di tahun yang mendatang akan semakin kinclong. Namun keberhasilan tersebut harus didukung oleh seluruh pihak, mulai dari kalangan perbankan hingga industri pendukung galangan kapal. "Kalau saat ini, kita masih kalah dengan luar negeri. Karena keberadaan industri pendukung galangan masih sangat minim. Akibatnya, sebagian besar material pembuatan kapal harus impor dari berbagai negara, mungkin sekitar 60% hingga 70% masih harus impor," kata Tjahjono.

Akibatnya, harga lebih mahal dan waktu menyelesaian pembangunannya juga lebih lama. Karena terbentur dengan fluktuasi harga di pasar luar negeri serta kesiapan vendor luar negeri. "Ujung-ujungnya, kita kalah bersaing dengan industri perkapalan luar negeri. Kalau industri pendukung galangan kapal di Indonesia hidup dan banyak, saya yakin ini tidak akan terjadi. Industri galangan dalam negeri akan jaya," tutupnya.

BERITA TERKAIT

Laba Pembangunan Jaya Ancol Tumbuh 1,4%

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba tahun 2018 sebesar Rp223 miliar atau tumbuh 1,4% dibandingkan dengan periode yang…

Kredit Bank DKI Tumbuh 27,9%

      NERACA   Jakarta – Sepanjang 2018, Bank DKI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 27,95 dari semula sebesar Rp27,1…

Kemenperin Ukur Ratusan Industri untuk Siap Masuki Era 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memasuki era industri 4.0. Berdasarkan peta jalan Making…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kemenperin Ukur Ratusan Industri untuk Siap Masuki Era 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memasuki era industri 4.0. Berdasarkan peta jalan Making…

Dunia Usaha Dimintai Dukungan Hadapi Diskriminasi Sawit UE

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia menggandeng dunia usaha asal Uni Eropa untuk ikut membantu proses negosiasi dan diplomasi kepada UE…

Dunia Usaha - Perang Dagang AS-China Disebut Beri Peluang Bagi Manufaktur RI

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian tengah fokus menggenjot investasi di lima sektor yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu…