Proyek Listrik Meningkat, Permintaan Kabel Kian Meroket

NERACA

Jakarta - Dengan maraknya pembangunan proyek kelistrikan yang dilakukan oleh pemerintah, Asosiasi Pabrik Kabel (Apkabel) memperkirakan permintaan kabel pada tahun depan meningkat 20%. Kebutuhan kabel saat ini terus meningkat seiring dengan pembangunan proyek kelistrikan pemerintah dan permintaan kabel transmisi yang biasa digunakan sektor swasta untuk pembangunan perumahan, gedung dan industri.

“Sedangkan proyek kelistrikan dan program tambahan pelanggan sambungan listrik oleh PT PLN (Perseroan) ditargetkan mencapai 2,5 juta pelanggan," kata Ketua Apkabel, Noval Jamallulail di Jakarta, Kamis (6/12).

Dijelaskan Noval, Selain permintaan kabel listrik yang meningkat, permintaan fiber optic pada 2013 berpotensi meningkat karena proyek-proyek yang dibangun pemerintah. "Untuk kabel permintaannya di 2013 bisa bertambah 20%, sedangkan permintaan fiber optic terus bertambah karena mulai direalisasikan proyek telekomunikasi Palapa Ring yang akan menghubungkan 3.000 pulau di Indonesia," paparnya.

Proyek Palapa Ring adalah proyek pembangunan jaringan fiber optic skala nasional yang menjangkau 33 provinsi dan 440 kota di seluruh Indonesia. Palapa Ring merupakan proyek vital untuk mewujudkan Indonesia Connected pada 2014. Pembangunan infrastruktur ini meliputi menggunakan kabel laut sepanjang 35.280 kilometer dan kabel di daratan sepanjang 21.807 kilometer. Total kebutuhan kabel untuk proyek pemerintah tersebut adalah 57.087 kilometer.

Kapasitas produksi kabel nasional dihitung berdasarkan konsumsi tembaga dan aluminium sebagai bahan baku utama pembuatan kabel. Pada 2011, konsumsi aluminium untuk industri kabel sebesar 150.000 ton, naik 30% dibanding 2010. Konsumsi tembaga juga naik 30% menjadi sekitar 350.000 ton di 2011. Tahun ini, konsumsi tembaga dan aluminium diprediksi naik 20% dibanding 2011. Sehingga diprediksi kebutuhan aluminium tahun ini mencapai 180.000 ton dan tembaga lebih dari 400.000 ton.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Industri Material Dasar Logam Ditjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan. Ia memperkirakan industri kabel listrik akan mengalami pertumbuhan sekitar 10%-15% pada tahun depan. Pemicunya, lantaran banyaknya permintaan dari PT PLN (Persero) dan perusahaan sektor industri lainnya. "Mungkin malah bisa lebih dari 15% karena tahun depan itu banyak proyek listrik pemerintah dan swasta," ucapnya.

Penerapan SNI

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Mohamad S. Hidayat telah melakukan penyesuaian sekaligus menyempurnakan ketentuan tentang penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk Kabel menyusul dilakukannya perubahan nomor Harmonize System (HS) Tahun 2012. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 57/M-IND/PER/5/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 50/M-IND/PER/5/2011 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Kabel Secara Wajib.

Sementara untuk mengawasi penerapan SNI Kabel secara wajib itu pemeritah (melalui Direktorat Jenderal Pembina Industri) menunjuk Petugas Pengawas Standar Produk (PPSP). Yakni pegawai negeri sipil di Pusat atau di daerah yang ditugaskan untuk melakukan pengawasan barang dan atau jasa di lokasi produksi dan di luar lokasi kegiatan produksi yang SNI-nya telah diberlakukan secara wajib.

Ditegaskan dalam aturannya, pengawasan sekurang-kurangnya dilakukan 1 (satu) kali dalam setahun. mengatakan kabel yang berasal dari produksi dalam negeri yang tidak memenuhi ketentuan SNI wajib dilarang beredar dan harus dimusnahkan oleh produsen yang bersangkutan.

Sedangkan kabel yang telah beredar di pasar dan berasal dari produksi dalam negeri yang tidak memenuhi ketentuan di atas harus ditarik dari peredaran dan dimusnahkan oleh produsen yang bersangkutan. Sementara, kabel yang berasal dari impor dan tidak memenuhi ketentuan di atas apabila masuk ke kawasan pabean Indonesia dan/atau daerah pabean Indonesia wajib diselesaikan berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

Sedangkan untuk kabel yang telah beredar di pasar dan berasal dari impor yang tidak memenuhi ketentuan di atas harus ditarik dari peredaran dan dimusnahkan. Tatacara penarikan produk dari peredaran dan pemusnahannya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Beberapa ini adalah beberapa produk yang harus menerapkan SNI yaitu Kabel berinsulasi PVC dengan tegangan pengenal sampai dengan 450/750 V-Bagian, Kabel nirselubung untuk perkawatan magun dengan nomor SNI 04-6629.3-2006 yang mencakup nomor HS 8544.11.10.00, HS 8544.11.20.00, HS 8544.11.90.10, HS 8544.19.00.10, HS 8544.19.00.90.

Kabel berinsulasi PVC dengan tegangan pengenal sampai dengan 450/750 V – Bagian 4, dan Kabel berselubung untuk perkawatan magun dengan nomor SNI 04-6629.4-2006 yang mencakup nomor HS 8544.11.10.00, HS 8544.11.20.00, HS 8544.11.90.10, HS 8544.19.00.10, HS 8544.19.00.90.

BERITA TERKAIT

Dampak Faktur Cuaca - SMCB Taksir Permintaan Semen Melambat

NERACA Jakarta — PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) memproyeksikan pertumbuhan penjualan semen pada semester I/2019 ini tumbuh lebih lambat…

Nilai Ekspor Industri Pengolahan Nonmigas Terus Meningkat

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mencatat, selama empat tahun terakhir, ekspor dari industri pengolahan nonmigas terus meningkat. Pada 2015, nilai…

Investasi Hotel di Asia Pasifik Meningkat 15 Persen - Tahun 2019

Investasi Hotel di Asia Pasifik Meningkat 15 Persen Tahun 2019 NERACA Jakarta – Asia Pasifik adalah satu-satunya wilayah yang dinantikan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Lebih dari 4 Ribu Santri Jadi Wirausaha Baru Dibina

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian hingga saat ini membina dan memberikan pelatihan tentang kewirausahaan kepada 4.720 santri. Program strategis yang…

Komoditas Rempah Sasar Peluang Pasar Ekspor Baru

NERACA Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyebutkan komoditas rempah menjadi peluang Indonesia untuk menyasar pasar ekspor baru yang bukan…

Vokasi “Link and Match” SMK dan Industri Lampaui Target

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan sebanyak 2.600 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 750 industri yang akan terlibat dalam program…