Pelaku Usaha Diminta Terapkan Industri Hijau

NERACA

Jakarta - Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian Perindustrian Aryanto Sagala meminta agar para pelaku usaha menerapkan industri hijau. Pasalnya dengan menerapkan industri hijau maka pelaku industri bisa melakukan efisiensi dalam proses produksi serta bisa menggunakan sumber daya yang ramah lingkungan baik dalam penggunaan bahan baku maupun energi serta melakukan pengelolaan lingkungan yang baik. "Kami meminta agar pelaku industri menerapkan konsep industri hijau," ungkap Aryanto di Jakarta, Kamis (6/12).

Aryanto menjelaskan bahwa pada 2020, pelaku industri diharapkan bisa menurunkan emisi sampai 20%. "Pemerintah berharap pelaku industri bisa menaati himbauan tersebut," katanya. Green Industry atau industri hijau, lanjut dia, merupakan strategi untuk mewujudkan ekonomi hijau dan pertumbuhan di sektor industri. "Saat ini ada dua strategi pendekatan untuk mewujudkan industri hijau yaitu menghijaukan industri yang sudah ada dan menciptakan industri hijau baru," katanya.

Menurut dia, ada beberapa hal yang menjadi permasalahan sektor industri Indonesia yaitu tingginya ketergantungan bahan baku impor, ketersediaan bahan baku tidak terbarukan yang menipis, dan ketersediaan sumber energi fosil yang semakin terbatas. Untuk itu, kata Aryanto, diperlukan industri hijau yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. "Hal tersebut untuk menyelaraskan pembangunan industri dengan fungsi lingkungan hidup," katanya.

Arryanto mengatakan saat ini pemerintah telah menyusun rencana induk pengembangan industri hijau serta strategi besar konservasi energi yang sejak 2010 telah diimplementasikan bagi 35 perusahaan industri baja dan 15 industri kertas.

Selain itu, pemerintah juga telah menyusun standar industri hijau, membentuk lembaga sertifikasi industri hijau, memperkuat kapasitas institusional, serta membangun koordinasi antara pemerintah masyarakat dan swasta. "Yang terpenting lagi adalah langkah pemberian penghargaan dan insentif bagi industri hijau, jangan sampai pengusaha terbebani biaya yang terlalu besar untuk beralih menuju industri hijau itu," jelasnya.

Kawasan Hijau

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengembangan dan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Dedi Mulyadi menjelaskan pemerintah tengah membuat model dan standar kawasan industri agar bisa menerapkan kawasan industri hijau guna mewujudkan ekonomi hijau dan memacu pertumbuhan sektor tersebut. Ia mengatakan program industri hijau perlu direalisasikan terlebih dahulu di dalam kawasan industri sebagai wadah berkumpulnya industri. "Namun, penerapan kawasan industri hijau ini terkendala sejumlah hambatan, antara lain belum adanya standardisasi mengenai kawasan industri," ujarnya.

Oleh karena itu, kata Dedi, pemerintah harus segera membuat model dan standar kawasan industri agar bisa segera menerapkan kawasan industri hijau. Namun, untuk membuat kawasan hijau membutuhkan waktu yang cukup lama.

Menurut dia, kawasan industri hijau terdiri dari beberapa kriteria, yakni kadar karbon yang rendah, produk yang dihasilkan bersih, serta mengandung unsur reduce, reuse, dan recycle (3R). Dalam kawasan industri hijau itu, semua limbah harus termanfaatkan dan bisa didaur ulang sehingga tidak ada limbah yang dihasilkan (zero waste). Beberapa negara yang telah menerapkan program kawasan industri hijau, antara lain Korea Selatan, China, Thailand, dan Jerman.

Dedi mengatakan program kawasan industri hijau hanya bisa dilakukan pada kawasan industri baru karena dibutuhkan infrastruktur pendukung, seperti jalan, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dan infrastruktur lainnya. "Kawasan industri yang lama susah untuk penerapan program ini," katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Euis Saedah mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah menyeleksi industri-industri yang nantinya akan mendapatkan penghargaan. Penghargaan tersebut antara lain penghargaan upakarti, penghargan rintisan teknologi, penghargaan desain terbaik Indonesia, penghargaan kreasi prima mutu, penghargaan anugrah cinta karya bangsa dan penghargaan industri hijau. "Nantinya pemerintah akan memberikan penghargaan yang diserahkan kepada 77 penerima dari 6 jenis penghargaan," imbuhnya.

Untuk lebih rincinya, kata Euis, penerima penghargaan upakarti sebanyak 26 penerima diantaranya 9 penerima di jasa pengabdian, 9 penerima di jasa kepeloporan adn 8 penerima di jasa kepedulian. Penerima penghargaan rintisan teknologi sebanyak 6 penerima. Penerima penghargaan desain terbaik Indonesia tahun 2012 sebanyak 11 penerima. Penerima penghargaan kreasi prima mutu sebanyak 7 penerima. Penerima penghargaan anugrah cinta karya bangsa sebanyak 9 penerima dan penerima penghargaan industri hijau sebanyak 19 penerima. "Penyerahan penghargaan rencananya akan diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)," ucapnya.

BERITA TERKAIT

Pemda Diminta Lapor Penggunaan Dana DBHCT

  NERACA   Karawang - Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pemerintah daerah harus melaporkan penggunaan dana…

Dunia Usaha Dimintai Dukungan Hadapi Diskriminasi Sawit UE

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia menggandeng dunia usaha asal Uni Eropa untuk ikut membantu proses negosiasi dan diplomasi kepada UE…

Dunia Usaha - Perang Dagang AS-China Disebut Beri Peluang Bagi Manufaktur RI

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian tengah fokus menggenjot investasi di lima sektor yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kemenperin Ukur Ratusan Industri untuk Siap Masuki Era 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memasuki era industri 4.0. Berdasarkan peta jalan Making…

Dunia Usaha Dimintai Dukungan Hadapi Diskriminasi Sawit UE

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia menggandeng dunia usaha asal Uni Eropa untuk ikut membantu proses negosiasi dan diplomasi kepada UE…

Dunia Usaha - Perang Dagang AS-China Disebut Beri Peluang Bagi Manufaktur RI

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian tengah fokus menggenjot investasi di lima sektor yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu…