Regulasi Mobil Murah Terbit Akhir Desember - Geliat Sektor Otomotif

NERACA

Jakarta - Pemerintah pada akhirnya menegaskan bahwa aturan mobil murah dan ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) akan terbit akhir Desember 2012 sehingga pada awal tahun depan Agen Pemegang Merek (APM) bisa meluncurkan produknya.

"Pada akhir Desember, regulasi LCGC akan keluar dan pada awal 2013, APM bisa memproduksi produknya dan bisa langsung memasarkannya di pasar dalam negeri," ungkap Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Selasa (4/12).

Hidayat berharap dengan dikeluarkannya aturan tentang LCGC ini, maka diharapkan pasar mobil nasional bisa semakin tumbuh. Hingga saat ini, kata dia, sedang masuk dalam tahap pembahasan mengenai LCGC di Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan. "Saat ini, eselon I Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah melakukan pembahasan mengenai regulasi LCGC bersama BKF," ujarnya.

Dengan diterbitkannya aturan LCGC, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yongkie D.Sugiarto memperkirakan proyek mobil murah dan ramah lingkungan atau Low Cost and Green Car (LCGC) memiliki potensi penjualan 150.000 unit per tahun. "Jika harga mobil LCGC sekitar Rp80 juta maka diperkirakan penjualan bisa mencapai 150 ribu unit," ungkap Yongkie.

Menurut dia, jika harga mobil sekitar Rp80 juta per unit maka akan ada tambahan omzet di industri otomotif sebesar Rp12 triliun pertahunnya. "Para prinsipal yang telah eksis di dalam negeri sebenarnya sangat antusias menjajal pasar domestik, bahkan jika perlu menambah investasi khusus untuk pabrik perakitan bagi proyek tersebut,” tambahnya.

Beberapa prinsipal seperti Honda, Toyota, Daihatsu sangat tertarik memasarkan mobil LCGC, namun mereka masih merahasiakan model-model yang akan dikeluarkan selama jaminan bisnis dan aspek regulasinya masih belum jelas. “Hanya Daihatsu dan Toyota yang sudah memamerkan produk LCGC-nya. Prinsipal lain sebenarnya sudah memiliki model LCGC,” paparnya.

Presiden Direktur Astra Daihatsu Motor (ADM) Sudirman M.R mengaku program LCGC merupakan langkah pemerintah dalam merespons Thailand yang telah lebih dahulu menjalankan proyek yang sama. "Industri otomotif Indonesia memiliki kemampuan teknologi dan sumber daya manusia yang sepadan dengan Thailand sehingga para pelaku otomotif di dalam negeri dapat meningkatkan investasinya," paparnya.

Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor (ADM), Joko Trisanyoto menambahkan, produk LCGC menyasar konsumen kalangan menengah yang belum mempunyai kendaraan. "Dengan produk (Toyota) Agya dan (Daihatsu) Ayla, pasar LCGC untuk kalangan menengah yang pertama kali membeli mobil atau ingin mengganti mobilnya dengan harga yang terjangkau. Di Indonesia, potensi pasar LCGC masih sangat besar dan pemerintah memberikan insentif yang menarik," imbuhnya.

Harga Murah

Sementara itu, Pengamat otomotif Suhari Sargo mengatakan harga mobil LCGC bisa lebih murah dibawah Rp100 juta asalkan pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan insentif fiskal. “Agen Pemegang Merek (APM) pastinya berharap agar insentif pajak bagi produk mobil LCGC sudah bisa cepat keluar. Pasalnya jika regulasi tersebut keluar maka harga produk LCGC bisa juah lebih murah,” ungkap Suhari.

Suhari menjelaskan dengan mempercepat keluarnya regulasi LCGC maka konsumen akan semakin banyak tertarik pada produk tersebut karena biayanya yang murah dan ramah lingkungan. “Konsumen kelas menengah membutuhkan mobil dengan harga terjangkau dan hal ini bisa memacu pertumbuhan industri otomotif nasional,” ujarnya.

Seperti diketahui, pemerintah telah mengeluarkan dua insentif berupa pembebasan bea masuk mesin dan peralatan pabrik, yang telah diberlakukan sejak April dan insentif pembebasan bea masuk impor selama dua tahun bagi produsen mobil murah dan ramah lingkungan yang bahan bakunya harus diimpor. Pada rencana beleid insentif, enam tipe kendaraan yang masuk di dalamnya seperti hybrid, low carbon, fuel cell, diesel advanced, compressed natural gas (CNG), dan biofuel.

BERITA TERKAIT

Pasar Otomotif Indonesia Diprediksi Lebih Positif di 2019

NERACA Jakarta – Pengamat otomotif yang juga dosen Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu memprediksi pasar otomotif dalam negeri tahun…

Peluang Usaha Ini Bisa Raup Keuntungan dari Pertumbuhan Otomotif

      NERACA   Jakarta - Dari data Gabungan Agen Tunggal Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan periode Januari…

Sektor Primer - CIPS Nilai Target Swasembada Kedelai 2020 Perlu Dikaji Ulang

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arief Nugraha menilai, target swasembada kedelai pada 2020 yang dicanangkan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dunia Usaha - Otomatisasi dalam Revolusi Industri 4.0 Tidak Bisa Dihindari

NERACA Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai Revolusi Industri 4.0 merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dan harus dijalani.…

Baru 11 Persen Sawah Terima Air dari Bendungan

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah akan terus membangun bendungan untuk pengairan, mengingat baru 11 persen atau sekitar…

Kawasan Industri Kendal Serap 50 Investor dan 5.000 Naker

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada Kawasan Industri Kendal (KIK) yang telah mampu menarik 50 investor dengan target…