Kilau Mutiara di Bibir Pantai Sekotong - Geliat Produksi Balai Budidaya Laut Lombok

Lombok – Mentari belum juga beringsut dari atas ubun-ubun. Sengatan panasnya begitu garang, seperti gelombang raksasa yang siap menggulung setiap jengkal pasir putih yang menghampar di sepanjang bibir Pantai Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Ombak pantai yang tenang, semilir angin laut yang membelai, berikut airnya yang jernih memang membuat Pantai Sekotong semakin mempesona, kendati pesona itu tidak pernah mampu meredam panasnya mentari yang dengan hebatnya berusaha membakar permukaan kulit.

Di tengah sergapan terik mentari itulah, Aprisanto, begitu dia memperkenalkan diri, yang juga seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok tampak begitu cekatan memperagakan teknik budidaya tiram mutiara yang menjadi salah satu andalan di antara sekian banyak budidaya laut yang dilakukan oleh lembaga tempat dia bekerja.

Dengan keringat bercucuran, dengan tutur katanya yang masih medok khas Jawa, Aprisanto yang siang itu dikerubuti puluhan wartawan dari Jakarta, terlihat tampil percaya diri kala menjelaskan teknik budidaya tiram mutiara mulai dari tahapan kerja pemilihan siput, kegiatan pemuasan (yokusei), pelaksanaan operasi, pemeliharaan pasca insersi, hingga cara panen mutiara.

Apris, demikian ia akrab disapa, mengakui potensi pengembangan budidaya mutiara di Lombok sangat prospektif. BBL Lombok sendiri, kata pria 30 tahun kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 26 April 1982, memang lebih fokus memproduksi benih (bahan baku) tiram mutiara sejak 2008. Tahun 2011, BBL yang dipimpin Ujang Komarudin itu mampu memproduksi 2.000 ekor siput sebagai bahan baku mutiara.

Tahun ini, kata pegawai yang fokus di laboratorium pengembangan tiram mutiara ini, produksi benih mutiara sedang bagus-bagusnya. Total produksi sepanjang 2012 diproyeksikan mencapai 12.000 ekor. Adapun pada 2013 mendatang, BBL Lombok menargetkan produksi 20.000 ekor siput mutiara.

Kualitas Terbaik

Tiram mutiara (pearl oyster) merupakan salah satu biota laut penghasil permata hayati yang sangat mahal nilainya dan digemari oleh manusia untuk dijadikan perhiasan terutama oleh kaum hawa. Mutiara sebenarnya terbentuk akibat respons dari tiram untuk menolak rasa sakit secara konsentris akibat masuknya benda asing ke dalam tubuhnya.

BBL Lombok sendiri memang tidak hanya mengembangkan rekayasa teknologi budidaya tiram mutiara saja. Produk lain yang dikembangkan di antaranya budidaya ikan kerapu, kerang abalone, bawal bintang, lobster, dan ikan hias. Namun, seperti yang dijelaskan Apris, budidaya tiram mutiara menjadi andalan lantaran kualitas mutiara budidaya di Lombok merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia.

Kepada awak media yang tengah melakukan kegiatan Press Tour bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu, Apris mengungkapkan, kelebihan mutiara hasil produksi di Pantai Sekotong itu terletak pada pelapisan mutiara yang sangat sempurna. Kalau mutiara hasil produksi di sana berwarna keemasan (gold), maka warnanya kelihatan lebih matang. Kalau warnanya perak (silver), maka warna peraknya lebih transparan. Hal ini, kata Apris, karena perairan di Sekotong sangat subur. Jenis pakan tiram mutiara, plankton di laut atau zoo plankton di perairan tersebut jauh lebih banyak dibanding perairan lainnya.

Sembari tangannya memperagakan cara mengambil mutiara dari cangkangnya, Aprisanto yang lulusan Diploma III Sekolah Tinggi Perikanan Sidoarjo itu bercerita, pada Sabtu (24/11) itu mengatakan, tiram mutiara yang BBL Lombok kembangkan berjenis south sea pearls (SSP) atau dalam bahasa latinnya disebut mutiara jenis pinctada maxima.

Setelah diproduksi di BBL Lombok, perusahaan budidaya mutiara siap menampungnya sebagai bahan baku. Adapun perusahan di sana membeli produk BBL Lombok ini dengan harga per centimeter siput sebesar Rp 2.000, dengan minimal panjang 5 cm. Kendati setiap perusahaan punya laboratorium pengembangan benih sendiri, tapi karena kualitas perairan yang berbeda-beda membuat ketidakpastian produksinya.

Sementara Sarwono, seorang pegawai BBL Lombok yang kebetulan saat itu menjadi pemandu wartawan meninjau budidaya mutiara di tengah laut mengungkapkan, total waktu yang dibutuhkan untuk mendeder mutiara dalam air laut rata-rata 1,5 tahun. Dia mengutarakan, kalau sudah berusia satu setengahn tahun, siput-siput tersebut biasanya siap diisi dengan inti (nukleus) mutiara.

“Kalau sudah besar, siput ini akan dikasih inti. Kalau panjangnya 10 cm, paling akan menghasilkan mutiara 2 gram. Kalau ukuran besar, mutiaranya akan lebih besar juga,” ujar Sarwono sambil memperlihatkan siput-siput mutiara yang terikat rapi di antara jejaring kawat yang dibentuk persegi.

Beberapa Kendala

Kecuali sangat potensial untuk dikembangkan, di mata Aprisanto, pengembangan budidaya tiram mutiara di Lombok saat ini terkendala beberapa hal. Salah satunya, industri mutiara di Lombok saat ini kesulitan bahan baku lantaran faktor alam yang tidak menentu. Karena lokasinya berbeda, terkadang kena penyakit, perubahan pola makan, terkadang membuat satu generasi benih mutiara bisa mati seluruhnya.

Ringkasnya, fluktuasi pembenihan siput mutiara di Lombok sangat tinggi. “Bukan faktor pasaran harga di luar negeri yang terlalu murah, tapi bahan baku yang tidak ada. Apalagi, produksi bahan baku tergantung dari faktor alam,” ujar Apris yang siang itu juga sembari bermain bersama anaknya yang masih balita.

Dijelaskan Apris, selain persoalan bahan baku, budidaya mutiara di Lombok juga terkendala banyaknya pencurian. Dia berkisah, pada Juni 2012 lalu, budidaya tiram mutiara milik BBL Lombok kecurian 1.200 ekor dalam waktu semalam. Wildan, kata Apris, yang kebetulan menjadi penanggungjawab di tengah laut, ketika jam 22.00 WITA diberitahu bahwa ada orang tiga orang penyelam mau mencuri, lantas memerintahkan satpam yang bertugas di sana untuk mengecek.

Nah, si satpam bilang, saat itu kondisi aman. Namun, celakanya, keesokan harinya 1.200 mutiara itu sudah raib digondol maling. Sambil menyelam sedalam 7 meter tanpa peralatan selam, para pencuri itu dengan leluasa mengambil butiran mutiara dan membuang cangkangnya. Total kerugiannya ditaksir sekitar Rp 70 juta. “Pencurian ini sudah ada sindikatnya yang dijual di pasar lelang mutiara Sekar Belle di Mataram,” jelasnya.

Program Inti-Plasma

Di pihak lain, terkait dengan pengembangan budidaya mutiara, Kepala BBL Lombok, Ujang Komarudin, mengaku akan segera mengeksekusi program inti-plasma budidaya tiram mutiara antara BBL yang dia pimpin dan masyarakat sekitar. Masyarakat, sebagai pihak plasma, jelas Ujang, akan dilibatkan dalam proses pendederan. Sementara proses pemijahan yang menggunakan teknologi dan peralatan khusus akan tetap dilaksanakan oleh BBL sebagai pihak inti. Penerapan program inti-plasma ini dia rencanakan efektif berlaku pada 2014.

Toh, sejauh ini, masyarakat lokal di kawasan BBL Lombok, yang mayoritas berprofesi nelayan sudah punya infrastruktur berupa long line di tengah laut yang bisa dimanfaatkan untuk pendederan tiram mutiara. Program inti-plasma itu akan dilaksanakan di dua wilayah sekaligus, yakni Lombok dan Sumbawa. Masing-masing lokasi akan ada dua kelompok, sehingga totalnya bakal tercipta empat kelompok inti-pasma. Karena setiap kelompok akan terdiri dari 5 orang, maka total plasma yang terlibat sekitar 20 orang. “Paling tidak satu kelompok itu ada dua longline. Saya pikir ini adalah langkah tambahan untuk diversifikasi longline itu,” sebut Ujang.

Tentu saja, sambung Ujang, penerapan inti-plasma itu dimaksudkan untuk menggenjot produksi tiram mutiara lokal di wilayah BBL Lombok. Hal ini seiring dengan tekad Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo yang bakal mendorong pengembangan industri mutiara lokal, salah satunya dengan rencana penerbitan Peraturan Menteri (Permen) untuk melakukan standardisasi mutu mutiara impor agar pembudidaya terlindungi. Dengan begitu, industri mutiara lokal akan terlindungi dan pelaku usaha di sektor ini bakal semakin sejahtera.

BERITA TERKAIT

DPR Apresiasi Kinerja Pengembangan Budidaya Laut Oleh KKP

NERACA Batam - Komisi IV DPR RI menyampaikan apresiasinya atas kinerja pengembangan budidaya laut oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)…

KKP Optimistis Produksi Pakan Mandiri Dapat Ditingkatkan

NERACA Jakarta – Salah satu tantangan perikanan budidaya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pakan ikan yang efisien dan berkualitas, namun dengan…

Pemkab Lebak Dorong Petani Tingkatkan Produksi Kedelai

Pemkab Lebak Dorong Petani Tingkatkan Produksi Kedelai NERACA Lebak - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Provinsi Banten, mendorong petani setempat meningkatkan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

INSA Dukung Implementasi Kebijakan B20 untuk Kapal Laut

NERACA Jakarta - Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners Association (INSA) Johnson W. Sutjipto mendukung penuh pemerintah yang mewaijbkan semua…

4 Pilar Utama Bikin Indonesia Hebat - Pemerintah Terus Pacu Industri Nasional Berdaya Saing Global

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan ada empat pilar utama yang akan membawa Indonesia mengalami lompatan jauh dengan…

Manufaktur - Tumbuh 10%, Industri Minuman Didorong Terapkan Standar Hijau

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong sektor manufaktur di Indonesia untuk menerapkan konsep industri hijau. Upaya ini sejalan…