Pengusaha RI Diminta Berinvestasi di Makedonia

NERACA

Jakarta - Kendati krisis ekonomi global yang mendera beberapa negara di dunia termasuk di kawasan Eropa, Makedonia yang merupakan negara kecil pecahan Yugoslavia mengklaim bisa menjadi penghubung pasar untuk kawasan Eropa.

Itu sebabnya, Menteri Luar Negeri Makedonia meminta investor Indonesia untuk berinvestasi di negaranya. Dia menjelaskan, di tengah krisis Eropa, Makedonia bisa menjadi salah satu pilihan strategis bagi investor tanah air untuk menanamkan investasinya. Pasalnya, menurut Poposki, Makedonia bisa menjaga rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (RDB) diangka 29% dengan defisit anggaran yang cukup konservatif yaitu diangka 3%.

"Ini akan menjadi kesempatan yang baik bagi investor Indonesia terlebih pemerintah kami adalah pemerintah yang ramah terhadap dunia bisnis," ungkap Menlu Makedonia Nikola Poposki saat mengunjungan kantor Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, ukuran populasi negara-negara Eropa tidak begitu penting karena pada dasarnya hampir semua negara memproduksi untuk pasar yang sama. "Bukan dari sisi populasinya, tapi yang penting adalah sisi kompetitifnya. Dan kami memiliki kekuatan di sisi tersebut. Apalagi pajak kamu 10% flat untuk seluruh bisnis yang dikerjakan di Makedonia," tambahnya.

Sekedar informasi, hingga saat ini, negara pecahan Yugoslavia tersebut mengandalkan ekspor dalam perekonomiannya. Oleh karena itu, 90% dari total ekspor Makedonia diarahkan khusus untuk pasar Uni Eropa yang secara total penduduknya mencapai 650 juta. Ditambah, negara tersebut mengandalkan sejumlah kesepakatan pasar bebas (Free Trade Agreement/FTA) dengan sejumlah wilayah dan negara, misalnya European Free Trade Area (EFTA), Central European Free Trade Area (CEFTA), dan perjanjian bilateral FTA dengan Turki dan Ukraina.

Sementara dari sisi produk unggulan Makedonia, negara tersebut mengandalkan produk yang salah satunya adalah produk industri baja. Di luar itu, potensi yang mungkin digarap perusahaan Indonesia, kata Poposki, adalah sektor agrikultur, farmasi, dan teknologi informasi.

Menanggapi pemaparan Poposki, Ketua Kadin Suryo Bambang Sulisto mengakui ada potensi besar yang dimiliki negara Makedonia. "Makedonia adalah negara yang tumbuh dengan stabil 3% beberapa tahun terakhir, mungkin lebih. Ini sangat baik jika dilihat dari kondisi Eropa sekarang. Mungkin investor Indonesia bisa melihat Makedonia sebagai hub untuk pasar lain. Saat ini perdagangan kita dengan negara tersebut surplus. Saya lihat kita punya potensi di sana," cetusnya.

Neraca perdagangan Indonesia dengan Makedonia secara bilateral mengalami surplus sebesar US$9,36 juta pada periode Januari sampai dengan Agustus 2012. Nilai ekspor ke Makedonia adalah sebesar US$9,92 juta sementara impor dari Makedonia adalah US$563,6 ribu, menurut data Kementerian Perdagangan.

Tingkatkan Investasi

Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menyatakan bahwa pemerintah akan memfokuskan peningkatan investasi di luar negeri. Sehingga tak ayal sejumlah proyek investasi asal Indonesia dilakukan untuk membuka kesempatan memperluas kerja sama dengan sejumlah negara. "Intinya itu akan tetap menguntungkan Indonesia juga," kata Bayu.

Salah satu rencana konkret dari kebijakan itu adalah dengan memproyeksikan Serbia sebagai titik perdagangan untuk pasar Eropa Tengah. "Di Serbia prospek yang akan kita masuki cukup terbuka dan sinyalnya cukup baik," kata Bayu.

Serbia nantinya akan diproyeksikan sebagai titik utama perdagangan untuk komoditas minyak sawit. Dia mengatakan minyak sawit asal Indonesia nantinya akan dikirim ke Serbia sebelum didistribusikan ke negara sekitarnya. "Jadi nanti arahnya ke sana perdagangan Indonesia," ujarnya.

Langkah serupa juga disebut Bayu telah diterapkan di Cina dan India untuk komoditas minyak sawit. Sejumlah investor asal Indonesia disebutnya akan membangun pabrik pengolahan atau refinery minyak sawit di Cina dan India. "Kami akan mengekspor CPO ke pabrik di sana dan dijual di negara itu dalam bentuk minyak goreng," katanya.

Alasan pemerintah melakukan investasi di luar negeri, disebut Bayu, karena persoalan teknis yang dihadapi di negara yang berbeda. Untuk Cina, dia mengatakan, pembangunan pabrik dilakukan untuk mengantisipasi masalah cuaca yang bisa menurunkan nilai dari minyak sawit. Sedangkan di India, investasi itu dilakukan untuk mengantisipasi penerapan aturan bea masuk barang ke negara itu. "Tapi yang jelas nanti kita juga yang akan diuntungkan," kata Bayu.

Selain itu, Bayu mengatakan, pemerintah Afrika Selatan sudah memberikan fasilitas bagi investor Indonesia untuk menanamkan investasinya. Menurut dia, Indonesia juga akan segera mengekspor kopi setelah adanya gudang kopi di negara itu. "Nanti dari Indonesia akan diekspor kopi dan boks, lalu dikemas di sana," katanya.

Pemberian kemudahan dari pemerintah Afrika Selatan, kata Bayu, karena kebutuhan dari masing-masing negara. Pemerintah Afrika Selatan memberikan kemudahan karena memerlukan lapangan kerja bagi masyarakatnya. "Ivestasi juga membutuhkan kerja sama perdagangan yang lebih luas, jadi saling membutuhkan," tukasnya.

BERITA TERKAIT

Pengusaha Wajib Patuhi Regulasi Kemasan Pangan - POLEMIK PRODUK SUSU KENTAL MANIS

NERACA Jakarta – Anggota Komisi IX DPR Abidin Fikri mengingatkan perusahaan yang mengeluarkan produk makanan dan minuman untuk benar-benar mematuhi…

BI Diminta Kaji Ulang Aturan LTV

      NERACA   Bali - Real Estat Indonesia Provinsi Bali meminta Bank Indonesia mengkaji ulang kebijakan pelonggaran rasio…

Jokowi: RI Bersyukur Ekonomi Tumbuh 5% - PEMDA DIMINTA MEMBUAT KEBIJAKAN SELARAS DENGAN PUSAT

Jakarta-Presiden Jokowi mengatakan, situasi ekonomi dunia sekarang ini masih betul-betul pada posisi yang sangat sulit. Meski demikian, menurut Presiden, Indonesia…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

BPPSDMP Kementan Terus Ikhtiar Cetak Wirausaha Pertanian

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengambil langkah strategis dengan penyediaan sumber daya…

Terkait Industri Otomotif - Presiden Perlu Pimpin Langsung Peralihan ke Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Faisal Basri berpendapat, Presiden Joko Widodo perlu memimpin langsung program peralihan kendaraan konvensional berbahan bakar…

Pemerintah Dorong Industri Farmasi Manfaatkan Bahan Baku dari Alam

NERACA   Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong industri farmasi dalam negeri untuk menciptakan produk obat-obatan berbahan baku dari…