Merayakan Tahun Baru Islam Dengan Unik - Wisata Religi dan Budaya

Biasanya, setiap malam Tahun Baru Islam 1 Muharram diperingati dengan begitu meriah di beberapa daerah. Di pulau Jawa misalnya, banyak kegiatan ritual unik untuk menyambut pergantian tahun kalender Islam yang sayang untuk dilewatkan.

NERACA

Ya, biasanya pada malam 1 Muharram atau malam 1 Suro ini, masyarakat Indonesia melakukan sejumlah tradisi untuk merayakan dan memeriahkan tahun baru Islam ini.Salah satunya adalah warga lereng Gunung Semeru di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, melestarikan ritual larung pendam sesaji untuk menyambut 1 Muharram 1434 Hijriyah.

Puluhan warga mengumpulkan sejumlah sesaji yang berisi tumpeng nasi kuning, hasil pertanian dan seekor kepala sapi, sesaji tersebut lalu diarak beramai-ramai dari balai desa menuju sumber mata air di lereng Gunung Semeru. Ritual tersebut merupakan wujud rasa syukur warga yang berada di lereng gunung tertinggi Pulau Jawa itu karena diberi keselamatan dengan hasil pertanian yang melimpah.

Selain warga Lereng Gunung Semeru, warga di Lereng Gunung Merapi juga memiliki Kegiatan ritual tak kalah hebatnya, acara Labuhan Kepala Kerbau dilakukan oleh masyarakat Lereng Gunung Merapi setiap tahun pada malam hingga dini hari di awal tahun Hijriyah atau 1 Muharram. Upacara ini sendiri diawali dengan menyediakan satu kepala kerbau yang dibalut kain mori, dan sesaji tumpeng gunung dari nasi jagung yang dibuat dengan bentuk menyerupai gunung dan diarak keliling kampung oleh puluhan warga menuju Joglo Merapi.

Kabarnya, tradisi ini sudah dilakukan turun temurun sejak zamannya sinuwun ke-VI Kraton Surakarta. Upacara sedekah gunung adalah sebagai tanda syukur atas dijauhkannya dari wabah dan dilimpahkan hasil panen yang melimpah atau kesejahteraan.

Dan yang ditunggu-tunggu adalah perayaan malam 1 Suro di keraton Yogyakarta dan kraton Surakarta, karena biasanya tepat pada pukul 24.00 diadakan secara serempak di Keraton Yogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa. Di Keraton Surakarta, kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah. Keraton Yogyakarta juga merayakan pergantian tahun itu dengan sangat meriah.

Di Jopgja petugas Keraton mengarak benda pusaka mengelilingi benteng keraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Sebagian masyarakat percaya, bahwa dalam upacara tersebut terdapat banyak berkah.

Nah, selama melakukan ritual malam 1 Suro, siapapun yang mengikuti ritual ini tidak diperkenankan untuk berbicara, seperti halnya orang sedang bertapa. Istilah ini biasa disebut dengan istilah ‘Tapa Mbisu Mubeng Beteng’ atau Tapa Bisu Keliling Benteng. Tidak hanya mengarak benda-benda pusaka keliling kraton saja, namun iringan-iringan kebo bule juga sangat dinantikan, apalagi kalau bukan ritual mengambil tanah bekas tapak tilas kebo bule, ritual itu dipercaya dapat memberikan berkah kepada masyarakat.

Sementara itu, masih dari kawasan Jogjakarta, beberapa orang juga sering mengisi 1 Suro dengan kegiatan ‘Kungkum’ atau berendam di sungai besar, danau atau sumber mata air. Tradisi ini masih kerap dijumpai di Yogyakarta. Untuk itu, mari kita lestarikan budaya Indonesia yang unik ini, karena budaya-budaya ini ternyata mampu menarik minat para wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.

BERITA TERKAIT

Warga Batangtoru: Percayakan Keselamatan Orangutan Kepada Kami, Mereka Keluarga Kami Ratusan Tahun

Warga Batangtoru: Percayakan Keselamatan Orangutan Kepada Kami, Mereka Keluarga Kami Ratusan Tahun NERACA Medan – Masyarakat di sekitar lokasi pembangunan…

Tambah Armada Baru - Armada Berjaya Bidik Pendapatan Tumbuh 200%

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan sahamnya di pasar modal, PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA) langsung tancap gas dalam ekspansi…

Penugasan Khusus dan Relevansi Penghapusan Pajak BUMN

Oleh: Defiyan Cori, Ekonom Konstitusi Polemik mahalnya tiket pesawat dengan menuding mahalnya harga avtur yang dijual oleh BUMN Pertamina bisa…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Wacana Penutupan TN Komodo Resahkan Pelaku Wisata

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Adrianus Garu, mengeluhkan wacana penutupan Taman Nasional (TN) Komodo kepada Wakil…

Pengamat: Infrastruktur Wisata Indonesia Masih 'Jalan Kaki'

Sebagai salah satu bidang yang sedang dan digandrungi banyak pihak, pariwisata rupanya tidak bisa berjalan sendiri. Ada beberapa aspek yang…

Lima Monumen Penting di Taman Wilhelmina

Wilhelmina Park, sebuah taman yang terletak di depan Alun-alun Taman Merdeka Kota Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, merupakan salah…