PPEI Mencetak 48 Ribu UKM Eksportir Daerah

Upaya untuk mengembangkan kinerja usaha kecil dan menengah (UKM) di Tanah Air terus digulirkan pemerintah. Berbagai program sudah berjalan seperti bantuan permodalan, pelatihan SDM, bantuan pendampingan manajemen, dan sebagainya. Bahkan, Pusat Pelatihan Ekspor Impor (PPEI) Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) Kementrian Perdagangan RI memiliki tugas khusus, yaitu menjadikan para UKM di seluruh Indonesia untuk mampu menjadi eksportir.

Menurut Head of Division of Promotion and Cooperation Abdillah Sani, SH, MSi, sejak berdiri sekitar 22 tahun lalu, PPEI sudah mampu melahirkan 48 ribu UKM berkelas eksportir. “Memang, PPEI itu merupakan suatu unit yang bertugas khusus dalam pemberdayaan UKM untuk ekspor atau UKM yang sudah mampu ekspor untuk lebih ditingkatkan kinerja ekspornya”, jelas dia.

Bidikan PPEI tak hanya kalangan UKM. Sebab, lanjut Abdillah, banyak juga para wirausahawan dari kalangan perguruan tinggi (mahasiswa) yang menempuh jalur ekspor setelah “digembleng” di PPEI. “Semua UKM potensial akan kita kembangkan menjadi eksportir”, tandas dia seraya menyebutkan bahwa PPEI memiliki jaringan di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Banjarmasin, Makasar, Mataram, dan sebagainya.

Beberapa produk UKM yang sudah mampu menembus pasar mancanegara diantaranya kerajinan tangan, mebel, makanan ringan, dan ekonomi kreatif.

Abdillah menjelaskan, para UKM di PPEI mendapat pelatihan dan pendampingan untuk menjadi eksportir. Termasuk di dalamnya adalah informasi buyer list dan konsultasi. “Kita memberi ilmu mengenai persiapan ekspor, pengembangan pasar dan bagaimana memasuki pasar suatu negara”, imbuh Abdillah.

Beberapa nama UKM yang telah mampu “naik kelas” menjadi eksportir, diantaranya Sri Winarso, pengusaha bidang kaligrafi dan handycraft dengan bendera Bhinneka Karya Art. “Saya awalnya bergelut di bidang kerajinan kayu. Datang ke Jakarta pada tahun 1978 dengan modal nol. Sempat sewa toko di Aldiron, Blok M. Dulu jualan relief, tapi saya pikir tidak bisa serap banyak tenaga kerja. Makanya saya putuskan untuk pindah ke leather,” kenang Sri Winarso yang asli Wong Solo.

Sri Winarso mengungkapkan, dari bisnisnya itu kebanyakan buyer dari Timur Tengah. Selanjutnya, beberapa negara lain pun menjadi bidikannya seperti Saudi Arabia, Dubai, Turki, Australia, Inggris, Los Angeles, dan Maroko. Omzetnya, sekitar Rp100-200 juta sekali ekspor.

“Awalnya, saya sering melakukan pameran. Karena modal wiraswasta itu bukan uang, tapi mental. Baru pada tahun 1990 saya merapat ke PPEI, kemudian tahun 1994 saya mulai ekspor. Ekspor pertama produk saya ke Kuwait. Sekarang ekspor terbanyak ke Dubai. Sekitar satu kontainer per satu setengah bulan. Karyawan 15 orang. Saya sudah memiliki workshop di Ciledug, Jakarta Selatan”, kata Sri Winarso dengan bangga.

Begitu juga dengan Lina M. Pengusaha UKM yang bergerak di bidang home decoration ini awalnya seorang karyawan perusahaan. Dia keluar karena ingin mencoba bisnis. Bisnis ini diinspirasi dalam setiap perjalanannya ke luar kota bahkan sampai ke luar negeri. “Awalnya saya banyak travelling. Di situ saya menemukan ada demand pada produk Indonesia. Nah, setelah saya temukan produknya, saya bingung cara memasarkannya. Karena itu, awalnya saya masih di pasar lokal. Setelah dapat informasi adanya PPEI, saya pun ikut masuk. Dari situlah, saya langsung bias melakukan ekspor,” ujar Lina.

Utamanya, lanjut Lina, waktu dirinya mendapat kesempatan sebagai peserta dalam Trade Expo Indonesia (TEI) yang diselenggarakan Kemendag. Dari ajang TEI, banyak buyer yang membuka pasarnya ke luar negeri. “Saya baru jualan tahun 2003. Kemudian saya fokus ke Perancis, karena order buyer dari sana cukup besar sampai tidak sempat memikirkan pasar lain. Walaupun tetap ada, seperti ke Australia,” imbuh Lina, yang kini menjadi trainer PPEI.

Pelaku UKM yang memproduksi aneka produk tas, Desy Asta Reviani mengaku, awalnya juga seorang karyawan di kantor konsultan. Dia merasa dirinya tidak akan kaya kalau terus menjadi karyawan.

Tapi Desy juga tidak tahu produk apa yang bisa menjadikannya kaya. “Saya hanya terkonsentrasi, pokoknya produk berbau Indonesia. Nah, saya menemukan tas yang murah, mudah, dan cepat. Saya ikut pameran, tahun 2009 dan langsung dapat omset Rp 50 juta dan orderan Rp 8 juta. Tapi saya malah bingung bagaimana ke depan. Apalagi saingan banyak. Akhirnya saya bertekad dengan mengembangkan ke pasar luar negeri. Saya cari tahu caranya dan itu hanya dari ikut PPEI ini. Di PPE tidak hanya dibekali ekspornya, tapi meningkatkan produk, seperti memilih bahan tas desain, motif dan lainnya. Saya masuk PPEI tahun 2010 hingga sekarang,” papar Desy.

Dalam masa bergabung di PPEI itu, kata Desy, pelaku UKM dibina dan didorong terlibat dalam program-programnya. Seperti kesempatan ikut pameran di luar negeri bahkan ikut pelatihan di luar negeri. “Saya pernah dikirim ikut training TEVO (Trade Evolution Office,red) di Kanada. Semua peserta di bina TEVO. Itu sebanyak saya jadi trainer di PPEI ini dan mulai 2011 saya ikut TEI yang menambah pasar produk saya di luar negeri, seperti Italia, Arab, Amerika, dan Australia,” kata Desy.

BERITA TERKAIT

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…

Bank BTPN Catatkan ESOP 45 Ribu Saham

NERACA Jakarta – Dukung pendalaman industri pasar modal dan juga menggenjot pertumbuhan investor pasar modal, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional…

PNM Dorong UKM Lebih Inovatif dan Kreatif

PNM Dorong UKM Lebih Inovatif dan Kreatif NERACA Jambi - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melakukan pendampingan terhadap pelaku Usaha…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Doa Terkabul, Ibu Dedeh Senang Berjumpa Dengan Jokowi

Doa Terkabul, Ibu Dedeh Senang Berjumpa Dengan Jokowi NERACA Jakarta - Dibalik rangkaian kunjungan kerja di Kabupaten Garut, Jawa Barat…

WOM Finance Cabang Bogor Tangkap Pelaku Tindak Kejahatan

WOM Finance Cabang Bogor Tangkap Pelaku Tindak Kejahatan NERACA Bogor – Pekan lalu, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (“WOM Finance”)…

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0 NERACA Jakarta -Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan meluncurkan indikator penilaian…