Awas, Fish Spa Dapat Tularkan HIV dan Hepatitis C

Beberapa peneliti asal Inggris menyebutkan bahwa fish pedicure yang belakangan ini marak digelar spa dan pusat kebugaran di berbagai belahan dunia, berpotensi menyebarkan berbagai patogen dan infeksi akibat bakteri pada pasien.

NERACA

Mungkin belakangan ini kata fish spa sudah begitu akrab di telinga kita? Ya, akhir-akhir ini terapi menggunakan ikan itu sedang marak di Indonesia. Banyak pusat perawatan kecantikan dan salon-salon kini memberikan perawatan kecantikan menggunakan ikan Garra Rupa.

Tak tanggung-tanggung, banyak kalanganmasyarakat tertarik dan ingin mencoba merasakan perawatan fish spa.Perawatanfish spadilakukan dipercaya dapat membuang sel-sel kulit mati di kaki. Biasanya, kita diminta mencelupkan kedua kaki ke dalam air dimana terdapat ratusan ikan kecil yang akan menggigiti kulit mati di kaki. Hasilnya, setelah 20 menit melakukan terapi, kulit menjadi halus dan bersih karena bagian kulit mati dan kasar telah terangkat dan dimakan ikan.

Namun, perlu Anda ketahui, ternyata terapi ikan juga bisa menyebarkan penularan beberapa penyakit fatal, diantaranya HIV dan Hepatitis C.Fakta itu diutarakan lembaga independen asal Inggris,Health Protection Agency (HPA), menurut mereka spa untuk kaki ini ternyata dapat menyebarkan penyakit seperti HIV dan Hepatitis C. Memang, risiko infeksi bagi pengguna perawatan tergolong rendah, tetapi sebaiknya jangan pernah mengabaikan fakta yang ada.

Penelitian yang dilakukan mendapati bahwa tangki air berisi ratusan atau ribuan ikan tersebut sesungguhnya mengandung mikroorganisme. Akibatnya, masalah bisa timbul akibat bakteri yang dipindahkan oleh ikan-ikan pada air tanki, atau dari satu pengguna ke pengguna lain jika airnya tidak diganti.Saking bahayanya, mereka sampai-sampai mengirimkan surat peringatan yang dipublikasikan di jurnal Emerging Infectious Diseases, sebuah publikasi milik US Centers for Disease Control and Prevention.

Peneliti lain dari Center for Environment, Fishes & Aquaculture Science (CEFAS) menyatakatan, ikan-ikan tersebut bisa jadi sumber berbagai organisme dan penyakit. Beberapa di antaranya bisa menyebabkan infeksi jaringan lunak yang bisa menyebar di kulit manusia. Apalagi banyak di antaranya merupakan infeksi yang tahan terhadap antibiotik.

David Verner-Jeffreys, ketua tim peneliti menyebutkan, di Inggris saja, pada tahun 2011 lalu terdapat lebih dari 280 lokasi ‘spa ikan’ dengan sekitar 15 sampai 20 ribu ekor ikan didatangkan per minggunya dari sejumlah negara-negara Asia. Mereka juga mencatat, pada April 2011 lalu, sebanyak 6.000 ekor ikan diimpor ke sejumlah spa-spa di Inggris dari Indonesia.

Sedangkan George A. O'Toole, professor dari Department of Microbiology and Immunology, Geisel School of Medicine, Dartmouth, Hanover, Amerika Serikat menyebutkan, sangat tidak mungkin melakukan sterilisasi terhadap ikan-ikan Garra Rupa itu. “Airnya saja, meski Anda membuangnya setelah pasien selesai terapi, organisme-organisme itu akan membentuk komunitas di permukaan bak,” tuturnya.

Sehingga, membasuhnya saja tidak cukup, Anda perlu melakukan sterilisasi terhadap bak penampung ikan setiap satu pasien selesai terapi. Jika tidak, mereka akan tetap ada di sana meski airnya telah diganti dengan yang baru.

Akibatnya, praktek pengangkatan kulit mati ataupun kulit yang rusak menggunakan ikan air tawar ini sendiri sudah dilarang di banyak negara bagian di Amerika Serikat. Sayangnya, saat ini terapi tersebut justru sedang marak-maraknya di Inggris dan sejumlah negara lain di dunia.

Masyarakat yang sering menggunakan terapi ini harus hati-hati, pasalnya jika ada pengguna yang terinfeksi dengan virus yang berasal dari darah, seperti HIV atau hepatitis, maka dapat dipastikan akan muncul risiko penyakitnya berpindah kepada orang lain. Orang yang mengidap penyakit diabetes, psoriasis, atau sistem kekebalan yang lemah, menurut HPA, termasuk yang paling rentan untuk tertular. Oleh karena itu, mereka tak disarankan untuk menjalani terapi kecantikan untuk kaki ini.

"Kami mengeluarkan petunjuk ini karena jumlah spa sejenis semakin menjamur. Bila prosedur higienitas yang benar diikuti, risiko infeksi ini sangat rendah. Meski demikian, masih ada risiko transmisi dari sejumlah infeksi, termasuk virus HIV dan hepatitis," tutupnya.

BERITA TERKAIT

Musim Hujan dan Bencana Hidrometeorologi

Di Indonesia hanya terdapat dua musim, musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan biasanya identik dengan bulan berakhiran "ber" seperti…

Azuz Zenfone Max Pro M2 dan Zenfone Max M2 Masuk Pasar Indonesia

Asus secara resmi memperkenalkan Zenfone Max Pro M2 untuk pasar Indonesia. Penerus Zenfone Max Pro M1 ini menjanjikan performa lebih…

Pemkot Denpasar Raih Penghargaan Moveable Children’s Playground - Komitmen Penuhi Fasilitas Ruang Bermain dan Hak Anak

Pemkot Denpasar Raih Penghargaan Moveable Children’s Playground Komitmen Penuhi Fasilitas Ruang Bermain dan Hak Anak NERACA Bandung - Penghargaan Kota…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Kadar Lemak Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

Kelebihan lemak pada tubuh kerap dihubungkan dengan risiko penyakit kardiovaskular atau diabetes. Namun, penelitian teranyar justru menemukan adanya keterkaitan antara…

Cara Alami Tuntaskan Flu

Hujan datang silih berganti. Siang terik bisa mendadak dingin akibat hujan. Tak jarang kondisi itu 'berulah' dan membuat tubuh mudah…

Makanan Alami Pereda Nyeri saat Haid

Nyeri saat haid sering kali tak tertahankan. Beberapa perempuan bahkan mengalami mual, muntah, sakit kepala, hingga diare. Gejala ini dikenal…