Produk Mutiara Akan Terus Dikembangkan

Pasar Ekspor Masih Terbuka

Selasa, 30/10/2012

NERACA

Jakarta – Direktorat Jenderal Pengolahan Prasarana Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bakal terus mengembangkan produksi dan pemasaran produk mutiara khususnya jenis South Sea Perls (SSP) yang mewakili keistimewaan mutiara Indonesia.

Dirjen P2HP KKP Saut Parulian Hutagalung mengatakan, mutiara sebagai satu komoditas non konsumsi, memiliki potensi yang besar dalam perdagangan domestik dan luar negeri. “Produksi mutiara khususnya jenis SSP, tentu akan kita kembangkan,” jelas Saut kepada wartawan, Senin (29/10), dalam acara jumpa pers menyambut Indonesia Pearls Festival (IPF) 2012 atau IPF-2 yang bakal dilaksanakan 31 Oktober-4 November 2012 di Balai Kartini, Jakarta.

Saut juga mengatakan, dari sisi perdagangan ke luar negeri, ekspor Indonesia baru mencapai kurang lebih US$ 31,8 juta sepanjang 2011 lalu. “Masih jauh dari potensi perdagangan mutiara dunia yang mencapai US$ 1,5 miliar. Kita hampir US$ 32 juta. Tentu ada alasan kenapa kurang berkembang dengan baik,” tambahnya.

Lebih jauh Saut menjelaskan, produk mutiara Indonesia sejauh ini memiliki kualitas yang masih kalah dibanding beberapa negara lain. “Selain itu tidak sebaik kualitas SSP dari Australia, Filipina, Myanmar. Padahal kita volumenya luar biasa. Volume kita itu, katakanlah, 50% produksi mutiara dunia itu di Indonesia. Tetapi ekspor kita tidak terlalu besar,” terangnya.

Karena itulah, sambung Saut, KKP kini mendorong peningkatan produk mutiara SSP. “Langkah utama kita, dalam rangka memperkuat mutiara SSP ini. Pertama, bersama Asbumi (Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia) membangun pusat indukan daripada mutiara ini. Mutiara sebagai komoditas perhiasan akan tergantung dari mutiara indukannya. Yang kedua, KKP menyadari bahwa ini perlu ditangani secara khusus. Yang ketiga, kita menyadari harus ada standardisasi. Karena itu, SNI sudah kita buat, kita terbitkan,” tukas Saut.

Di samping itu, kata dia, tentu ada usaha-usaha yang lain. “Menyiapkan promosi dalam negeri. Memperkuat usaha-usaha. Pemda agak sering kurang perhatian. Sehingga keamanan, lokasi, sering digusur. Supaya lingkungan lebih baik,” sambungnya.

Di tempat yang sama, Direktur Pengembangan Produk Non Konsumsi Ditjen P2HP KKP Maman Hermawan mengatakan, pasar mutiara dalam negeri kini dibanjiri produk dari China. “Masuknya produk fresh water dari China. Karena dia murah. Umurnya 6 bulan. Setiap kerang lebih dari satu dalam setahun. Yang penting pakai mutiara. Harganya Rp 60 ribu sudah sama bros,” ungkapnya.

Dia juga menjelaskan, produksi mutiara kerapkali terkena gangguan ekologi. Alasannya, banyak intervensi rumah tangga yang bisa terganggu produksinya. Di samping itu, gangguan lain juga datang dari banyaknya produk luar yang masuk ke pasar lokal. Itu sebabnya, KKP akan memperkuat regulasi untuk menangkal banjir impor. “Kemudian di penguatan regulasi. Sekarang dalam rencana Peraturan Menteri (Permen) pengendalian mutu. Harapannya akhir tahun sudah keluar, awal tahun beroperasi. Kita ada pengendalian,” cetusnya.

Produksi mutiara SSP sepanjang 2011 lalu mencapai 6.300 kilogram atau 53% dari produksi SSP dunia sebanyak 12.000 kg per tahun. Tapi secara umum, produksi mutiara dalam negeri mengalami penurunan beberapa tahun terakhir. “Produksi mutiara ini agak susah diproduksi. Sejak 1997, dari 86 tingal 27 perusahaan. Karena krisis, lingkungan tak cocok dan penjarahan. IPF tujuannya menghidupkan kembali mutiara Indonesia,” paparnya.