Reksa Dana Terproteksi 'Senjata' MI Gali Dana Kelolaan

NERACA

Jakarta- Prospek penerbitan obligasi yang dinilai sangat menjanjikan mendorong Manajer Inestasi (MI) untuk menerbitkan produk reksa dana terproteksi dengan underlying obligasi, baik pemerintah maupun korporasi. Pasalnya, produk reksa dana dengan underlying obligasi ini memiliki indikasi imbal hasil yang cukup tinggi dengan risiko terukur sehingga diharapkan dapat menjadi 'magnet' untuk menarik investor.

Direktur Utama PT Danareksa Investment Management, Zulfa Hendri mengatakan, pihaknya berhasil menghimpun dana sebesar Rp236 miliar dengan kembali menerbitkan dua produk reksa dana baru pada akhir kuartal tahun ini. Kedua reksa dana tersebut, kata Zulfa, merupakan produk reksa dana terproteksi, yaitu Danareksa Proteksi V dan Danareksa Proteksi VII.

Produk reksa dana terproteksi, menurut Zulfa, sejauh ini dapat menarik investor sehingga diproyeksikan memiliki prospek yang sangat menjanjikan untuk memacu dana kelolaan perusahaan. ”Danareksa Proteksi V dan Danareksa Proteksi VII merupakan komitmen kami dalam memenuhi kebutuhan investor untuk berinvestasi pada Reksa Dana Terproteksi dengan jangka waktu investasi selama 2 atau 3 tahun,” jelasnya.

Zulfa mengatakan, tidak hanya menawarkan investasi jangka panjang yang lebih aman, kedua produk reksa dana tersebut menjanjikan imbal hasil yang cukup tinggi dan menguntungkan. Danareksa Proteksi V, kata dia, dengan underlying obligasi korporasi memiliki indikasi imbal hasil yang diharapkan sebesar 6,2% per tahun dan akan jatuh tempo setelah 3 tahun.

Sementara untuk Danareksa Proteksi VII memiliki indikasi imbal hasil yang diharapkan sebesar 5,9% per tahun dengan jangka waktu jatuh tempo yang lebih pendek yaitu 2 tahun. Untuk memasarkan kedua produk baru tersebut, Danareksa menjalin kerjasama dengan beberapa bank sebagai agen penjual yang dapat memudahkan konsumen.

Minim Risiko

Zulfa menambahkan, pemilihan obligasi korporasi berdasarkan rating yang positif merupakan upaya PT Danareksa Investment Management untuk memberikan imbal hasil yang baik dengan risiko yang terukur. ”Rating minimal AA+ dalam pemilihan obligasi korporasi menjadi pertimbangan kami.” ujarnya.

Selain itu, dia menilai fundamental perekonomian Indonesia yang baik, stabilitas politik dan kebijakan fiskal mampu menunjang pertumbuhan usaha, serta laju inflasi dan suku bunga yang stabil diprediksikan akan mendorong terjadinya pertumbuhan investasi tahun ini.

Penerbitan produk reksa dana terproteksi dengan underlying obligasi yang dinilai lebih aman juga diungkapkan oleh Direktur PT Sucorinvest Asset Management, Cristian Hermawan. Dia mengatakan investasi melalui produk reksa dana terproteksi dengan underlaying obligasi ini diharapkan akan mampu meminimalisir kekhwatiran masyarakat untuk berinvestasi.

Bahkan, pihaknya menargetkan dana kelola sebesar Rp150 miliar dengan menerbitkan produk reksa dana terbaru 'Goverment Bond Fund' pada kuartal akhir tahun ini. “Kami memilih government bond karena selama ini masyarakat agak was-was. Diharapkan masyarakat percaya dan bisa mulai mencoba yang namanya reksadana,” jelasnya.

Produk reksa dana ini, lanjut Christian akan ditempatkan pada surat utang negara sebesar 50% dan obligasi korporasi BUMN serta sisanya merupakan dana cash. Menurutnya, surat utang pemerintah memiliki kestabilan dan resiko kecil untuk gagal bayar.

Sementara untuk imbal hasil dari produk terbarunya tersebut, Christian mengungkapkan Sucorinvest Asset management menawarkan imbal hasil (return) kepada investor sebesar 6-7%. Saat ini, Sucorinvest kata dia sudah memiliki 5 produk reksa dana di mana dua produk merupakan produk baru di tahun ini, yaitu reksa dana terproteksi dan reksadana saham. (lia)

Related posts