Diserbu Bijih Timah Ilegal, Laba PT Timah Tbk Anjlok 57%

Kinerja Kuartal III

Senin, 29/10/2012

NERACA

Jakarta –Jelang menutup akhir tahun, kinerja PT Timah Tbk (TINS) belum menunjukkan kinerja yang baik. Pasalnya, laba bersih perseroan di triwulan III-2012 kembali turun tajam 57% dari Rp 860 miliar menjadi Rp 370 miliar akibat susutnya pendapatan perseroan 12%. Laba per saham juga turun dari Rp 171 per lembar menjadi Rp 73 per lembar.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangannya di Jakarta akhir pekan kemarin. Disebutkan, tidak hanya laba yang turun tajam akan tetapi pendapatan perseroan hingga September juga turun hanya mencapai Rp 6,009 triliun dibandingkan periode sebelumnya Rp 8,81 triliun.

Produksi timah perseroan pada triwulan III ini hanya 23.255 mton, atau turun 18% dibandingkan produksi logam tahun lalu 28.532 mton. Sementara produksi bijih terpantau lebih rendah 14% dari 28.165 ton menjadi 24.357 ton. Meski produksi turun, TINS mampu menghasilkan volume penjualan 26.921 mton, lebih tinggi 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 25.266 mton.

Perseroan menjelaskan, membanjirnya bijih timah ilegal di pasaran terutama yang berasal dari Indonesia membuat supply melebihi demand, sehingga prinsip dasar ekonomi berlaku yang mengakibatkan harga timah jatuh.

Akibat banyaknya timah ilegal menjadikan harga rata-rata logam timah yang diterima perseroan pada periode ini turun 24% menjadi US$ 21.523 per mton dari harga rata-rata periode sebelumnya US$ 28.440 per mton. Hingga triwulan III-2012 harga rata-rata logam timah dunia di LME US$ 20.935 per mton, dengan volume persediaan pada awal tahun tercatat 11.795 mton menjadi 12.255 mton pada akhir September 2012.

Sebagai informasi, laba bersih TINS pada semester pertama 2012 merosot 51,23% menjadi Rp 336 miliar dibandingkan periode serupa tahun lalu sebesar Rp 689 miliar. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya pendapatan perseroan sepanjang semester pertama 2012 lantaran volume produksi dan harga jual yang juga menurun.

Pendapatan konsolidasian turun dari Rp 4,830 triliun pada semester pertama 2011 menjadi Rp 4,130 triliun pada semester pertama 2012. Penjualan logam timah TINS pada semester pertama 2012 turun 1,26% sebesar 17.236 mton dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011 sebesar 17.457 mton.

Volume produksi bijih timah sampai dengan akhir Juni 2012 adalah 16.839 ton sn, turun 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 17.701 ton sn. Produksi logam timah sampai dengan akhir Juni 2012 adalah sebesar 14.984 mton atau 19% lebih rendah dari produksi logam pada semester I-2011 sebesar 18.455 mton."Harga jual logam timah yang diterima Perseroan selama pada semester I-2012 adalah sebesar US$ 22.565. Angka ini lebih rendah 24% dibandingkan harga periode yang sama tahun 2011 sebesar US$29.541," kata Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk Agung Nugroho.

Harga logam timah (LME) tertinggi pada semester I-2012 adalah US$ 25.650/mt dan terendah sebesar US$ 18.375/mt dengan harga rata-rata sebesar 21.791/mt. Harga rata-rata ini 25% lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011 sebesar US$ 29.337 / mt. Adapun harga logam timah pada tanggal 27 Juli 2012 adalah US$ 17,700/mt. Kurs pada akhir periode adalah Rp 9.480 per dolar US atau 10% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 8.597 per dolar US. (bani)