Penjualan Alat Berat Diproyeksikan Naik 30%

Dampak Pembangunan Infrastruktur

Kamis, 25/10/2012

NERACA

Jakarta – Hingga akhir tahun ini penjualani alat berat nasional untuk pembangunan infrastruktur diperkirakan naik sampai 30%. Pasalnya alat berat untuk pembangunan infrastruktur berbeda dengan sektor tambang, sehingga tidak terpengaruh sama sekali.

PT Jimac Perkasa menargetkan peningkatan penjualan alat berat Sany sebesar 30% di pasar dalam negeri pada 2013. Untuk 2012 ini, penjualan alat berat Sany diperkirakan mencapai 320 unit. Chairman PT Jimac Perkasa Benny Kurniajaya mengatakan, pada 2011 atau awal diperkenalkan di pasar dalam negeri, alat berat buatan Sany Heavy Industries asal China ini berhasil terjual sebanyak 150 unit.

Produk alat berat seperti mixer truck, concrate pump, hydraulic truck crane, crawler crane, drilling rig, road machinery, dan port machinery banyak diminati perusahaan pertambangan, jasa konstruksi, perkebunan, dan jasa kepelabuhanan. "Kualitas produk yang diakui dunia dan harga yang kompetitif, membuat alat berat Sany banyak diminati konsumen di Indonesia. Didukung pengalaman Jimac di bisnis alat berat, kami optimis penjualan alat berat Sany akan terus meningkat di masa mendatang," kata Benny Kurniajaya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (24/10).

Menurut dia, untuk mendukung upaya meningkatkan penjualan alat berat Sany di Indonesia, Jimac mengoptimalkan layanan purna jual. Jimac juga akan memperluas wilayah pemasaran dengan membuka kantor cabang di Palembang, Medan, Batam, Surabaya, Balikpapan, dan Makassar.

"Sebagai mitra Sany Heavy Industries atau PT Sany Indonesia Machinery di Indonesia, Jimac akan berupaya semaksimal mungkin memuaskan pelanggan. Dalam hal ini, Jimac akan menjadikan produk alat berat Sany sebagai salah satu produk unggulan di Indonesia. Layanan purna jual 24 jam serta garansi perbaikan maupun penggantian suku cadang selama 1 tahun merupakan salah satu nilai tambah yang bisa didapat konsumen alat berat Sany," tutur Benny.

Produk Baru

Untuk memperluas pasar pada 2013, Jimac juga memperkenalkan produk model terbaru Sany, yakni hydraulic truck crane bermesin Cummins tipe B Series berbobot 25-75 ton dan yang bermesin Mercedez Benz OM 502 berbobot 100 ton. Selain itu produk mixer truck yang menggunakan mesin Hino tipe P11C-UH. Produk model terbaru ini sudah menembus pasar Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah serta memasuki pasar Asia. Produk terbaru Sany ini mendapat pengakuan dunia.

"Di Thailand misalnya, produk hydraulic truck crane sudah menjadi pemimpin pasar dan penjualannya sudah mencapai 100 unit hingga September 2012. Capaian di Thailand ini cukup membanggakan dan kita berupaya agar bisa diterima dengan baik juga di Indonesia," ucap Benny.

Lebih jauh dia mengatakan, meski dampak krisis global yang masih membayangi kinerja perekonomian dunia, ternyata tidak mempengaruhi penjualan alat berat Sany. Di Indonesia misalnya, penjualannya menunjukkan peningkatan. Apalagi krisis global tidak mempengaruhi perekonomian Indonesia secara signifikan.

Indonesia sendiri masih bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6 %. Apalagi pemerintah terus menggenjot pembangunan infrastruktur, salah satunya yang termasuk dalam masterplan percepatan dan perluasan ekonomi Indonesia (MP3EI). Kinerja sektor pertambangan dan perkebunan serta jasa kepelabuhanan juga masih potensial untuk terus meningkat.

"Untuk itu, Jimac dan Sany Indonesia siap mendukung penuh pelaksanaan pembangunan infrastruktur, khususnya untuk pelaksanaan MP3EI. Jimac siap memenuhi kebutuhan alat berat yang berkualitas dari Sany dan pelayanan optimal," ujar Benny.

Sementara itu, Beberapa perusahaan-perusahaan dari Negeri Paman Sam (Amerika Serikat) berminat untuk mengembangkan industri di Indonesia, antara lain industri energi terbarukan. Presiden Dewan Bisnis Amerika Serikat-ASEAN, Alexander Feldman mengatakan bahwa Indonesia memilild banyak peluang investasi yang bisa ditawarkan kepada perusahaan-perusahaan besar dari Amerika Serikat (AS).

"Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk menarik perusahaan-perusahaan yang belum melakukan investasi di sini, karena masih banyak peluang bisnis yang bisa dikembangkan dan menjadi bagian untuk mendorong perekonomian Indonesia," kata Feldman.