Realisasi Investasi Tembus Rp 229 Triliun

Sepanjang Januari-September 2012

Selasa, 23/10/2012

NERACA

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) selama Triwulan III (Juli-September) dan periode Januari-September Tahun 2012. Realisasi investasi ini merupakan realisasi penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing, berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) yang diterima BKPM.

Realisasi investasi proyek penanaman modal pada Triwulan III (Juli-September) 2012 adalah sebesar Rp 81,8 triliun, terjadi peningkatan sebesar 25,1% bila dibandingkan dengan capaian periode yang sama pada tahun 2011 (Rp 65,4 triliun). Sementara realisasi investasi PMDN dan PMA periode Januari - September tahun 2012 mencapai Rp. 229,9 triliun atau 81,1% dari target Tahun 2012 (Rp. 283,5 triliun), sedangkan bila dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun 2011 (Rp 181,0 triliun), terdapat peningkatan sebesar 27,0%.

Menurut data BKPM, realisasi investasi PMDN pada periode Triwulan III Tahun 2012 terjadi peningkatan sebesar 32,6% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2011, dari nilai realisasi investasi Rp 19,0 triliun menjadi Rp 25,2 triliun. Adapun realisasi investasi PMA pada periode Triwulan III Tahun 2012 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2011 juga meningkat sebesar 22,0%, dari nilai realisasi investasi Rp 46,4 triliun menjadi Rp 56,6 triliun.

“Upaya pemerataan investasi ke daerah-daerah di luar Jawa dan peningkatan peran perusahaan penanaman modal dalam negeri telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini terlihat dari meningkatnya investasi yang dilakukan oleh pengusaha nasional dan meningkatnya penyebaran kegiatan investasi yang dilakukan oleh perusahaan penanaman modal di luar Jawa. Disamping itu perusahaan penanaman modal juga dapat meningkatkan penyediaan lapangan kerja langsung, yang pada akhirnya menurunkan tingkat pengangguran dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas,” ujar Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Muhamad Chatib Basri, di Jakarta, Senin (22/10).

Realisasi Per Sektor

Dalam hitungan BKPM, realisasi PMDN berdasarkan 5 besar sektor usaha adalah industri mineral non logam Rp 5,9 triliun, industri makanan Rp 4,6 triliun, industri tekstil Rp 2,6 triliun, tanaman pangan dan perkebunan Rp 2,0 triliun, dan konstruksi Rp 1,9 triliun. Realisasi PMDN berdasarkan lokasi proyek 5 besar adalah Jawa Barat Rp 6,7 triliun, Jawa Timur Rp 5,2 triliun, Jawa Tengah Rp 3,3 triliun, Bali Rp. 1,8 triliun dan Kalimantan Timur Rp. 1,6 triliun.

Realisasi PMA berdasarkan sektor usaha 5 besar adalah industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi US$. 1,1 miliar, pertambangan US$. 1,1 miliar, transportasi, gudang dan telekomunikasi US$. 0,8 miliar, industri kertas, barang dari kertas dan percetakan US$. 0,7 miliar, dan industri alat angkutan dan transportasi lainnya US$. 0,5 miliar.

Sedangkan realisasi PMA berdasarkan lokasi proyek 5 besar adalah DKI Jakarta US$. 1,2 miliar, Jawa Barat US$ 1,0 miliar, Kalimantan Timur US$. 0,7 miliar, Sulawesi Tengah US$. 0,6 miliar, dan Riau US$. 0,6 miliar. Realisasi PMA berdasarkan asal negara 5 besar adalah Singapura US$ 1,5 miliar, Inggris US$ 0,7 miliar, Jepang US$ 0,7 miliar, Taiwan US$ 0,6 miliar dan Mauritius US$ 0,6 miliar.

Sebaran lokasi proyek pada Triwulan III Tahun 2012 di luar Jawa sebesar Rp. 38,7 triliun (47,3%). Apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2011 sebesar Rp 24,3 triliun, terjadi peningkatan sebesar 59,3%. Penyerapan tenaga kerja Indonesia oleh proyek penanaman modal dalam tahap pembangunan pada periode Juli – September 2012 adalah sebanyak 271.648 orang, terdiri dari penyerapan dari PMDN sebanyak 144.784 orang, dan PMA sebanyak 126.864 orang.

“Untuk memacu pertumbuhan perekonomian nasional yang berkualitas diperlukan investasi yang dapat menciptakan nilai tambah barang/jasa di dalam negeri, sehingga diperlukan dukungan kebijakan lintas sektor, penyediaan infrastruktur yang memadai, iklim ketenagakerjaan yang kondusif, perbaikan pelayanan penanaman modal (service excellence) baik pelayanan penanaman modal terpadu di tingkat pusat dan daerah. Upaya ini telah direspon dengan baik oleh kalangan dunia usaha baik dari dalam maupun luar negeri,” terang Chatib Basri.