API: Konsumen Lebih Memilih Produk Murah

Perdagangan Tekstil dan Produk Tekstil

Selasa, 23/10/2012

NERACA

Jakarta - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai konsumen di dalam negeri masih memilih harga produk yang murah ketimbang kualitas produk ketika membeli tekstil dan produk tekstil (TPT) di dalam negeri. Ketua Umum API, Ade Sudrajat selama ini, pasar di Indonesia sangat potensial untuk produk TPT. Namun, konsumen lebih memilih produk dengan harga murah dan tidak memperhatikan kualitasnya.

Pasar di dalam negeri, menurut Ade, lebih memburu produk yang berharga murah dari pada produk yang berkualitas.“Imbasnya, produk TPT dari China membanjiri pasar dalam negeri. Hal ini membuat produk TPT dari dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk impor,” papar Ade di Jakarta, Senin (22/10).

Biaya produksi yang semakin tinggi, lanjut Ade, membuat harga jual produk dalam negeri lebih tinggi dari produk impor.“Harga jual produk TPT asal Indonesia lebih mahal dari pada produk impor dan pelaku usaha TPT lebih membidik pasar ekspor. Kondisi tersebut harus disikapi oleh pemerintah agar konsumen lebih menyukai produk asli Indonesia,” ujarnya.

Ade menambahkan, dari sisi kualitas produk dalam negeri lebih bagus dibandingkan produk impor yang beredar di pasaran.“Di beberapa negara tujuan ekspor, produk TPT Indonesia menjadi jaminan kualitas. Pasar ekspor memang lebih bagus, namun di sisi lain pasar dalam negeri harus digarap karena potensi pasarnya masih cukup besar,” tandasnya.

Sementara itu Pembina YLKI, Widjanarka menungkapkan bicara nasionalisme, membeli produk impor adalah sesuatu yang salah karena dapat merusak ekonomi domestik dan penyebab hilangnya lapangan kerja. Namun, ketika dihadapkan dengan masalah kualitas dan harga, yang muncul adalah pragmatisme. Kebanyakan orang lebih memilih sebuah produk hanya karena harganya murah.

Lebih jauh lagi Widjanarka memaparkan, konsumen yang nasionalis cenderung menilai bahwa membeli produk impor adalah sesuatu yang salah, karena itu merusak ekonomi domestik dan penyebab hilangnya lapangan kerja serta tidak patriotik. "Konsumen yang nasionalismenya tinggi cenderung memperhatikan aspek positif dari produk domestik dan mengabaikan kebaikan produk impor," paparnya.

Dia menyebutkan, upaya Korea untuk menanamkan cinta produk negaranya sendiri juga tidak mudah. Sama halnya dengan Jepang dan Malaysia. Namun hal itu terus dilakukan hingga akhirnya mereka memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap produk mereka sendiri.

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Institute Global for Justice (IGJ) Indah Suksmaningsih yang juga Dewan PembinaYLKI memapakan, untuk membangun rasa nasionalisme harus dimulai dari diri kita sendiri."Nasionalisme itu kembali kepada apa yang kita miliki sendiri, kita bukan objek, tapi kita adalah subjek. Jangan segalanya beli dan hanya menjadikan nasionalisme sebagai barang antik. Kita harus berdaulat di negeri kita sendiri," sebutnya.

Tulus Abadi yang juga Pengurus Harian YLKI menambahkan, Indonesia telah terikat dengan berbagai macam perjanjian seperti WTO dan ACFTA. Jadi tak perlu heran lagi kalau produk luar negeri saat ini sudah mendominasi pasar tradisonal dan modern kita. “Masalahnya sekarang, apakah kita lebih memilih buah-buahan impor yang tahan disimpan di dalam kulkas selama tiga bulan atau memilih pisang barangan yang merupakan produksi lokal?” tanyanya.

Dia mengatakan, persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana dengan mutu produk Indonesia? Bagaimana kontinuitas dan harganya? Permasalahan ini sering menjadi perdebatan bagi konsumen dalam menentukan pilihannya.

Di sisi lain, Indah Suksmaningsih mengingatkan agar konsumen lebih teliti dalam membeli produk dalam negeri maupun produk luar negeri. Teliti dengan kualitasnya, masa kadaluarsanya, kandungan produknya serta yang lainnya. Hal-hal seperti ini akan menguatkan konsumen dalam menentukan pilihan.