Tergerus oleh Perkembangan Zaman

Keberadaan Posyandu Kian Menghilang

Sabtu, 27/10/2012

Entah sudah berapa generasi berkualitas yang dilahirkan berkat program pos pelayanan terpadu (Posyandu). Di wadah Posyandu, ibu-ibu mendapatkan informasi bagaimana memberikan makanan berkualitas bagi buah hatinya.

NERACA

Tak hanya itu, di Posyandu lah anak-anak di bawah lima tahun bisa terkontrol berat badan dan kesehatannya.

Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat, Hj. Vita Gamawan Fauzi, di Jakarta mengatakan, berkurangnya keberadaan Posyandu di berbagai wilayah Jakarta, karena kader PKK sudah tidak aktif lagi di wilayah tersebut.

Posyandu yang dilahirkan pada era 1980-an telah menjadi agen transformasi tentang kesehatan ibu dan anak kepada masyarakat semua kalangan, baik miskin maupun kaya, baik di desa maupun di kota.

Saat ini, masihkah posyandu seperti dulu? Di mana ibu-ibu baik muda atau tua begitu semangat menghidupkan Posyandu di RT-RT-nya. Sore hari, saat kentongan di rumah ibu RT dibunyikan, ibu-ibu berduyun-duyun bergegas ke Posyandu.

Tak lupa mereka membawa piring dan gelas untuk tempat makanan dan bubur kacang hijau. Pengurus Posyandu yang tak lain adalah pengurus RT tak kenal letih mengkoordinir agar ibu-ibu membawa anak balitanya ke Posyandu.

Aktivitas di Posyandu begitu guyub. Para pengurus memang tak digaji. Namun, mereka begitu ikhlas bergiliran memasak makanan sehat untuk anak balita di wilayahnya. Mereka juga semangat datang lebih awal untuk menyiapkan timbangan, buku catatan untuk menulis berat badan serta tinggi badan anak-anak balita.

Sebagian besar Posyandu memang dikelola oleh ibu-ibu lanjut usia. Mereka yang telah pensiun dari pekerjaan dan ingin mengabdikan diri bagi masyarakat di wilayahnya. Kondisi ini hampir terjadi di semua wilayah baik desa maupun kota. Posyandu memang sampai saat ini masih relevan meski zaman sudah berganti.

Karena tidak semua orang tua mampu untuk mengontrol kesehatan anaknya setiap bulan. Namun di Posyandu, orang tua akan mengetahui bagaimana perkembangan kesehatan anak setiap bulan yang bisa dilihat dari berat badan dan tinggi badan.

Sayangnya, keberadaan Posyandu saat ini terancam. Kaderisasi Posyandu tak berjalan semulus manfaatnya. Jika saat ini sebagian besar Posyandu digerakkan oleh ibu-ibu lanjut usia, lantas bagaimana nasib Posyandu 10 tahun yang akan datang jika tidak ada kaderisasi? Masihkah ada yang dengan suka rela menggerakkan Posyandu?

Beberapa Posyandu di berbagai wilayah ini digerakkan oleh wanita usia lanjut. Katanya, begitu sulit mencari kader Posyandu dari ibu muda karena mereka sibuk dengan karier. Padahal keberlanjutan Posyandu membutuhkan kader baru.

Jika fakta saat ini seperti di atas, apa yang harus dilakukan? Bagaimanapun persoalan kaderisasi tidak bisa disepelekan. Kualitas kader akan menentukan kehidupan Posyandu di masa depan.

Ada dua jalur yang bisa menggerakkan kaderisasi Posyandu. Pertama, pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan. Banyak hal yang bisa dilakukan dinas untuk melahirkan kader Posyandu. Ibu-ibu muda yang tidak bekerja bisa diberi pelatihan tentang kesehatan ibu dan anak agar mereka memiliki semangat untuk menjadi kader.

Apalagi, saat ini beberapa Puskesmas juga sudah mulai rutin menerjunkan tenaga kesehatannya untuk bergabung dengan tim Posyandu di level desa. Hal ini tentu akan lebih membuat kegiatan Posyandu lebih terarah.

Kedua, para kader Posyandu yang saat ini sudah aktif bisa mengajak para ibu-ibu yang belum aktif untuk peduli dengan kesehatan anak balita di wilayahnya..Jadi, jangan putus asa untuk tetap menghidupkan Posyandu.

Untuk ke depannya Posyandu bukan hanya untuk fasilitas kesehatan tetapi kita akan digabung dengan kegiatan Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana Nasional (BKKBN), dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). "Kita akan tingkatkan keberadaan Posyandu setiap tahunya," tuturnya.