Pasar Kecantikan Kebanjiran Kosmetik Impor

Impor Meningkat 30% di 2012

Rabu, 17/10/2012

NERACA

Jakarta – Pasar kecantikan di Indonesia kebanjiran produk kosmetik impor. Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, tantangan industri komestika dalam negeri adalah membanjirnya produk komestik impor di pasar domestik. Menurut dia, pada 2012 ini penjualan komestik impor akan tembus angka Rp 2,44 triliun dan meningkat 30% dibanding dengan penjualan 2011 yang mencapai Rp 1,8 triliun.

“Kenaikan ini memang dipengaruhi oleh perminataan pasar akan produk premium dan bermerek,” kata Hidayat di acara pameran produk industri dan obat tradisional, di Kementerian Perindustrian, Selasa (16/10).

Namun, kata dia, nilai ekspor komestika terus mencatat kenaikan. Pada 2011, lanjutnya, nilai ekspornya mencapai Rp 3 triliun sedangkan pada 2010 mencapai US$ 700 juta . Kenaikan juga terjadi untuk omzetnya. Pada 2011, omzetnya mencapai Rp 10,4 triliun atau tumbuh 16,9% dibanding 2010 yang hanya Rp 8,9 triliun.

Untuk penjualan tahun ini, lanjutnya, diprediksi tembus 9,76 triliun atau lebih tinggi dibanding 2011 yang hanya Rp 8,5 triliun. Hidayat juga mengingatkan, agar industri komestik untuk fokus memenuhi kebutuhan dalam negeri dibanding ekpor. “Mereka sibuk ekspor, sementara pasar domestiknya juga kemasukan barang impor,” tandasnya.

Pengusaha Mengeluh

Sementara itu, Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Komestika (PPA Komestika) mengeluhkan serbuan produk komestik ilegal yang menguasai pasar dalam negeri. Ketua Umum PPA Kosmetika Putri Kuswisnuwardani mengatakan, saat ini impor ilegal produk komestika sudah mencapai Rp 20 triliun. “Angka itu sepertiganya dari market dalam negeri yang mencapai Rp 60 triliun,” ujarnya.

Putri mengatakan, dengan era globalisasi sekarang produk impor yang masuk mengalami kenaikan empat kali lipat. Namun, kata dia, yang lebih bahaya adalah kenaikan impor ilegal yang jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan impor resmi.

Dia mengaku heran dengan tingginya serbuan produk impor tersebut, apalagi pemerintah sudah mengatur pintu masuk importasi komestik melalui empat pelabuhan saja. “Produk-produk impor ini banyak masuk melalui pelabuhan tikus,” katanya.

Ditanya dari mana asal produk komestika ilegal tersebut, Putri hanya menjawab dari negara tetangga tanpa merinci lebih lanjut. Menurutnya, saat ini impor produk komestik yang resmi banyak masuk dari Malaysia, Thailand dan China.

Menurutnya, penyebaran produk-produk impor banyak ditemukan di daerah luar Jakarta. Karena itu, dia meminta, Kementerian Perdagangan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) bekerja sama dengan Bea Cukai untuk menekan impor ilegal tersebut.

Selain itu, dia mengeluhkan soal bahan baku karena banyak di ekspor dalam bentuk mentah. Alhasil, kata dia, industri komestik dalam negeri kekurangan dan harus impor bahan baku. Ditambah industri pengolahan bahan mentah menjadi bahan setengah jadi juga masih minim. “Saat ini hanya industri pengolahan baru bisa memenuhi 30 % kebutuhan lokal,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Presiden Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Nuning S Barwa mengatakan, jumlah konsumen kelas menengah di Indonesia semakin meningkat sehingga daya belinya juga semakin menguat. Selain perempuan, lanjutnya, saat ini pria juga banyak yang membeli produk kosmetika dan produk perawatan kulit. “Perkembangan pasar lokal cukup bagus. Dulu, pria tidak tertarik membeli produk perawatan kulit yang maskulin, tapi sekarang ketertarikan mereka tinggi,” kata Nuning.

Menurut dia, peluang pasar kosmetika di Indonesia sangat besar, sehingga semakin banyak produk impor yang masuk ke pasar domestik. Karena itu, kata dia, para produsen kosmetika nasional harus bisa memenuhi kebutuhan konsumen yang akan terus meningkat.

Banjirnya produk kosmetika impor di pasar domestik, kata dia, bisa terjadi setelah adanya harmonisasi ASEAN. Jadi, setiap produsen kosmetika yang akan memasarkan produk harus menotifikasikan produknya terlebih dahulu kepada pemerintah di negara ASEAN tempat produk itu akan dipasarkan.

“Harmonisasi ASEAN mengakibatkan prosedur menjadi lebih mudah jadi banyak impor yang masuk. Produsen kosmetika luar negeri itu melihat Indonesia sebagai pasar yang potensial mengingat kondisi perekonomian di Eropa dan Amerika Serikat saat ini sedang lemah,” jelas dia.