BEI Terus Cecar Tukar Guling Saham Grup Bakrie

Mempertanyakan Sumber Dana

Senin, 15/10/2012

NERACA

Jakarta - Setelah melewati beberapa episode, grup Bakrie menilai rencana tukar guling sahamnya di Bumi Plc dengan 29% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dalam pertemuan antar keduanya di Singapura bisa meloloskan sekaligus menyelamatkan perseroan dan pemegang sahamnya. Meskipun demikian, lagi-lagi hal tersebut mengundang tanya besar oleh beberapa pihak.

Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Hoesen mengatakan, pihaknya meminta kepada grup Bakrie untuk mengemukakan informasi terkait proposal rencana grup Bakrie yang akan menukar guling sahamnya di Bumi Plc. “Kami sudah kirim untuk meminta klarifikasi penjelasan kepada PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) mengenai informasi yang beredar di media massa,”katanya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Lebih lanjut Hoesen mengatakan, sejauh ini pihaknya belum meminta penjelasan mengenai dana yang akan digunakan grup Bakrie untuk melakukan buyback 18,7% saham BUMI tersebut.

Sumber Dana

Menurut pengamat pasar modal, Satrio Utomo, langkah grup Bakrie yang akan melakukan tukar guling saham bisa menjadi pertanyaan. Pasalnya, untuk memuluskan rencananya tersebut tentu grup Bakrie perlu mencarikan sumber dana yang dibutuhkan, terlebih dengan melihat posisi utang untuk grup ini dinilai sudah terlalu besar.

Seperti diinformasikan, dalam surat yang disampaikan oleh pihak Long Haul kepada Bumi Plc terdapat proposal yang menyatakan pihak Bakrie mengusulkan untuk buyback seluruh saham BUMI yang dipegang Bumi Plc sebesar 29,2% beserta dengan saham BRAU 84,7%.

Untuk saham BUMI, BNBR mengajukan penukaran saham (share swap) antara 57,3 juta saham Bumi Plc yang dimiliki BNBR dengan Rp2,14 miliar saham BUMI yang dimiliki Bumi Plc (10,3%). Sedangkan sisa 18,9% atau Rp3,92 miliar saham akan dibayar dengan cash senilai US$278.26 juta atau setara dengan Rp680 per saham.

Sementara untuk saham BRAU, pihak Bakrie akan membeli seluruh 84,7% atau 29,57 miliar saham senilai US$946,59 juta dengan menggunakan cash. Jika diakumulasi, total nilai transaksi buyback tersebut sekitar US$1.2 miliar. Rencananya, seluruh transaksi tersebut akan diselesaikan sebelum hari Natal 2012.

Lebih lanjut Satrio mengatakan, banyak hal yang mungkin bisa menyulitkan grup Bakrie untuk melakukan rencana tersebut. Dia menilai, untuk memperoleh persetujuan dari pemegang saham lain di Bumi Plc bukanlah perkara mudah. “Karena saat ini harga saham perusahaan yang listed di London tersebut sudah jatuh lebih dari 70%.” ujarnya.

Mengenai perkembangan terakhir grup Bakrie yang akan membeli semua saham BUMI dan BRAU, juga dikemukakan oleh Kepala Riset Indosurya Securities, Tonny W Setiadi. Rencana tersebut, menurut Tonny akan membuat mereka memiliki utang baru sehingga perlu bagi mereka untuk menjelaskan tentang informasi tersebut. “Dengan tingkat utang yang telah tinggi dan jatuh tempo yang cukup besar dalam waktu dekat, pihak BUMI harus memperjelas rencana ini, sumber pendanaan, jatuh tempo dan sebagainya,” jelasnya.

Manfaat Buyback

Menjawab pertanyaan Bursa Efek Indonesia, Direktur dan Corporate Secretary PT Bakrie & Brothers Tbk, Sri Dharmayanti dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (13/10) menyampaikan, tukar guling saham BUMI yang dilakukan merupakan langkah untuk mengoptimalkan nilai perusahaan dan memberikan manfaat bagi perseroan serta pemegang sahamnya.

Dari informasi yang dikemukakan tersebut, pihak manajemen belum dapat mengemukakan secara detail informasi mengenai hal itu, termasuk juga rencana pembelian saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Hal itu karena masih menunggu proses negosiasi dengan pihak-pihak terkait.“Informasi detil mengenai proposal perseroan kepada Bumi Plc akan kami sampaikan setelah dicapainya kesepakatan definitif,” ujarnya. (lia)