Dehidrasi Dapat Mengganggu Mood dan Ketahanan Fisik

Sabtu, 20/10/2012

NERACA

Kondisi tubuh di mana kehilangan air seimbang dengan asupan air yang cukup disebut dehidrasi. Hal itu terjadi bila asupan air lebih rendah dibandingkan dengan jumlah yang hilang selama aktivitas sehari-hari. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa dehidrasi sedang saja setara dengan kehilangan 2% berat badan secara signifikan mengganggu tidak hanya ketahanan fisik, tetapi juga mood, mental, dan performa kognitif.

Hal ini khususnya berlaku di lingkungan panas. Dehidrasi akut perubahan 4% berat badan menimbulkan efek yang tidak diinginkan pada fungsi jantung-pembuluh darah akibat turunnya volume plasma.

Efek-efek ini termasuk meningkatnya isi sekuncup dan yang diikuti oleh meningkatnya denyut jantung, guna mempertahankan detak jantung yang konstan. Di perifer, dehidrasi menurunkan aliran darah kulit dan keringat, sehingga mengganggu pengaturan suhu dan meningkatkan suhu inti tubuh.

Walaupun demikian kekurangan air hingga tahap ini diperbaiki dengan cepat oleh berkurangnya kehilangan air tubuh dan rangsangan rasa haus. Dalam penjelasannya, Dr.Kavouras mengatakan, “Penelitian The Indonesian Regional Hydration Study (THIRST) oleh Hardinsyah, dkk tahun 2010 pada 1200 subjek mengungkapkan bahwa 71% penduduk Indonesia lebih menyukai minum air putih dibandingkan dengan minuman lainnya,” tuturnya.

Namun hal yang perlu menjadi perhatian kita bersama, sekitar separuh orang dewasa dan remaja mengalami dehidrasi ringan. Dehidrasi ringan kronik yang disebabkan rendahnya asupan air dibandingkan dengan air yang hilang bukan hanya menjadi masalah di Indonesia tetapi merupakan isu global.

Sementara itu, kebutuhan air untuk manusia tergantung pada berat badan, umur, usia, jenis kelamin, lingkungan pekerjaan, dan kondisi fisiologi seperti kehamilan dan menyusui.

“Dalam kondisi normal, kebutuhan air pria dan wanita berbeda. Pria dewasa membutuhkan 2.500 mL dan wanita 2000 mL air per hari, yang termasuk di dalamnya air dari minuman (80%) dan makanan padat (20%),” Dr.Kavouras menjelaskan.

Prof. Ivan Tack, seorang ahli dalam patofisiologi ginjal dari Hospital de Rangeuil, Toulouse, Perancis mengatakan, kesetimbangan air bergantung pada asupan cairan dan terjaganya keseimbangan air tubuh dengan penyesuaian ekskresi ginjal di bawah kontrol hormon-hormon.

Ginjal manusia mengatur kelebihan cairan lebih efisien dibandingkan dengan kekurangan cairan. Sebagai hasilnya, kelebihan hidrasi tidak ditemukan pada individu sehat yang minum cairan dalam jumlah normal, sedangkan dehidrasi ringan sering ditemukan pada individu yang minum sedikit.

Asupan cairan yang rendah tidak mengubah fungsi ginjal secara langsung tetapi dihubungkan dengan meningkatnya risiko batu ginjal dan infeksi saluran kemih. Ginjal bertanggung jawab terhadap pembuangan zat sisa dan toksin yang dihasilkan manusia yang diekskresikan melalui saluran kemih, berkat adanya air.”

Sebuah penelitian Strippoli, 2011 menyatakan bahwa orang yang minum air lebih dari 3,2 liter per hari memiliki risiko Chronic Kidney Disease (CKD) yang rendah. Peningkatan asupan air sekitar 3,3 L/hari memiliki kaitan dengan penurunan risiko CKD hingga 30-50% dibanding dengan asupan air 1,7 L/hari. Hal tersebut karena asupan air yang masuk ke dalam tubuh dapat melindungi ginjal dari risiko kerusakan. Oleh karena itu, pencegahan CKD dapat dilakukan antara lain dengan melakukan kebiasaan mudah, yaitu dengan minum air putih yang berkualitas.