Industri Tekstil Dihimbau Pasok Bahan Baku ke IKM

Jumat, 12/10/2012

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meminta produsen bahan baku tekstil dan produk tekstil (TPT) skala besar untuk memasok pelaku Industri kecil dan menengah (IKM). “Pemerintah mengimbau agar produsen menyuplai bahan baku bagi IKM. Selama ini, bahan baku untuk produk fesyen seperti katun masih diimpor dari beberapa negara,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) IKM Kemenperin, Euis Saedah, di Jakarta, Kamis (11/10).

Untuk bahan baku seperti polyester, menurut Euis, masih mencukupi untuk produsen IKM “Selama ini, pelaku IKM tidak kesulitan memperoleh polyester dan pemerintah tidak akan melarang produsen mengekspor polyester. Ekspor polyester akan menambah devisa bagi negara,” paparnya.

Indonesia, lanjut Euis, sangat kuat dalam memproduksi bahan baku polyester dan serat rayon. “Kami akan membina IKM agar bahan baku mudah diperoleh dan membuat produk yang memiliki nilai tambah,” ujarnya.

Euis menambahkan, IKM memberikan kontribusi yang besar terhadap produk domestik bruto (PDB).“IKM mempunyai andil 34% pada PDB dan hal ini membuktikan bahwa IKM mampu bertahan di saat krisis ekonomi melanda Amerika Serikat dan Eropa,” tandasnya.

Sementara itu,Peneliti utama Badan Pengkajian Iklim dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian Atih Suryati mengungkapkan pemerintah diharapkan meningkatkan rantai pasokan bahan baku industri kecil dan menengah (IKM) pangan untuk meningkatkan program hilirisasi industri.

"Saat ini, industri pangan olahan di dalam negeri, bahan bakunya masih bergantung kepada impor. Padahal, industri pangan olahan merupakan bagian terbesar dalam kelompok IKM, yakni 1,5 juta unit dari 3,8 juta unit total IKM pada 2009," kata peneliti utama Badan Pengkajian Iklim dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian Atih Suryati.

Pertumbuhan Pesat

Kecepatan pertumbuhan IKM, menurut Atih, relatif tinggi dengan rata-rata 16% dari 2005 sampai dengan 2009. Sementara pertumbuhan IKM secara keseluruhan hanya 10%. "Namun sayang, IKM yang berkontribusi tinggi pada pertumbuhan itu bahan bakunya masih impor," ujarnya.

Hilirisasi industri, lanjut Atih, harus berbasis sumber daya alam, meski pertumbuhan industri terus tumbuh atau mencapai 6,2% pada tahun lalu, tapi ketergantungan terhadap bahan bakunya juga terus meningkat. "Struktur ekspor Indonesia masih didominasi oleh bahan mentah, sedangkan impor oleh industri rata-rata mencapai 30% dari biaya produksi dan 70% di antaranya berupa bahan baku," katanya.

Atih menambahkan, bahan baku IKM pangan saat ini masih diperoleh dari usaha pertanian non perkebunan yang dikelola oleh petani kecil dengan luas lahan di bawah satu hektare. Kondisi ini menyebabkan pemasok bahan baku dilakukan oleh pedagang pengumpul dan membuat mata rantai panjang.

"Ke depan, kebijakan IKM pangan harus didasarkan pada potensi sumber daya alam setempat sehingga bersifat unik bagi setiap daerah. Pemerintah diharapkan memberikan disinsentif bea keluar untuk bahan mentah agar ekspor bahan mentah berkurang dan menarik masuknya investor ke dalam negeri," katanya.