Krisis Global Jadi Momen Tarik Investasi

Tingkatkan Pemberian Insentif

Jumat, 12/10/2012

NERACA

Jakarta – Kisis ekonomi global yang sedang di alami beberapa negara bagian di Eropa dan Amerika Serikat merupakan momentum yang tepat bagi pemerintah untuk meningkatkan pemberian insentif untuk menarik minat investasi ke dalam negeri. “Untuk menarik investasi ke Indonesia, pemerintah harus memberikan regulasi yang menarik. Jika tidak, kita akan impor terus dan Indonesia tidak mampu memberikan produk yang memiliki nilai tambah,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, di Jakarta, Kamis (11/10).

Indonesia, menurut Sofjan, memerlukan investasi yang cepat, di tengah gonjang-ganjing perekonomian dunia saat ini. Situasi ekonomi terkini justru menjadi momentum yang paling tepat untuk bisa menarik lebih banyak investor. “Ekonomi dunia sekarang lagi di ambang krisis dan menghadapi ketidakpastian. Tetapi justru itu momentum yang paling tepat untuk menetapkan kebijakan yang mampu menarik investor masuk ke dalam negeri,” paparnya.

Pemberian insentif, lanjut Sofjan, dapat dilihat dari ekspansi yang dilakukan serta produk yang dihasilkan. “Besarnya insentif juga bergantung besarnya investasi, dan juga di mana lokasi mereka berinvestasi, Mungkin untuk Indonesia timur akan mendapatkan insentif tax allowance yang lebih baik dan apakah investasi dari mereka itu termasuk infrastruktur, seperti pelabuhan dan listrik,” ujarnya.

Sofjan mengatakan kebijakan insentif merupakan salah satu dari banyak faktor pendukung yang harus dipenuhi pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan industri. Menurut dia, banyak pekerjaan rumah lain yang belum diselesaikan pemerintah, seperti masalah infrastruktur, ketersediaan energi dan kebijakan-kebijakan yang justru banyak mengganggu kelancaran operasi industri. “Insentif ini hanya salah satu saja dari sekian banyak pekerjaan rumah yang harus pemerintah selesaikan. Kalau semua beres, dan pemerintah tidak mengganggu dunia usaha, industri bisa tumbuh di atas 10%,” tandasnya.

Pusat Investasi

Di tempat berbeda, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mohammad Chatib Basri bertekad menjadikan Indonesia sebagai pusat investasi di Asia Tenggara (ASEAN) dengan melakukan berbagai upaya terobosan untuk menarik investor dan memperbaiki iklim investasi.

"Fokus kami adalah menarik investasi dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Forum Investasi ASEAN yang Indonesia sebagai penggagasnya berusaha meyakinkan investor bahwa ASEAN, khususnya Indonesia, adalah tempat yang tepat untuk berinvestasi," katanya.

Menurut Chatib, salah satu cara memperbaiki iklim investasi dan mendobrak hambatannya adalah dengan cara memberlakukan sistem tracking pada proses perizinan. Dengan adanya sistem tracking ini, setiap investor bisa memantau langsung sampai sejauh mana proses perizinan itu statusnya, ada di meja mana, dan berapa lama lagi akan selesai atau keluar izinnya.

"Ini upaya BKPM memangkas birokrasi dan sekaligus transparansi sehingga investor mendapat kejelasan dan kepastian. Sistim tracking perizinan ini akan diberlakukan tahun ini juga," katanya.

Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara, kata Chatib, akan terus menjadi tempat penanaman investasi. Meski krisis utang terus mendera kawasan di Eropa, kondisi itu diharapkan tidak mengurangi minat investor menanamkan modalnya di kawasan ASEAN.

Insentif utama ASEAN adalah investor akan memasuki pasar dengan 600 juta orang penduduk, dengan pendapatan total 10 negara ASEAN mencapai US$ 1,85 triliun atau hampir Rp16.500 triliun tahun lalu. Apalagi dengan jumlah penduduk yang hampir 250 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara. "Tapi ingat, globalisasi dan perdagangan bebas ASEAN ini jangan diartikan kita adalah pasar asing saja, tetapi kita juga bisa bisa menarik keuntungan dari integrasi perekonomian ASEAN," katanya.

Menurut Chatib, tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa kini banyak pengusaha Indonesia melakukan investasi di negara lain seperti di Kamboja atau perusahaan Indonesia membeli perusahaan asing. "Sesuai Undang-undang, BKPM juga bertugas untuk memfasilitasi investasi nasional di luar negeri. Bagaimana mengamankan investasi Indonesia di luar negeri itu jadi agenda dalam pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN ini. Kita buat kesepakatan-kesepakatannya di Forum Investasi ASEAN," kata Chatib lagi.

Konsumen terbesar

Seperti yang disampaikan Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan sebelumnya bahwa Asia Tenggara bersama-sama dengan China, India, Korea Selatan, dan Jepang bukan hanya menjadi pasar konsumen terbesar di dunia, tetapi juga pusat R&D dunia, pemilik sumber daya alam terbanyak dunia, dan sumber investasi yang paling kaya di dunia.

"Jangan lupa, Indonesia kini sudah menjadi pusat R&D produsen mobil terkemuka. Daihatsu, misalnya, desain modelnya dilakukan R&D Indonesia seperti model Xenia. Setiap bulan Daihatsu menjual 900 unit mobil desain khas Indonesia," kata Chatib memberi contoh.

Seperti pernah disampaikan Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal BKPM Achmad Kurniadi beberapa waktu lalu, nilai investasi asing yang masuk ke ASEAN pada tahun 2010 telah mencapai rekor tertinggi US$ 75,8 miliar.

Sumber dana terbesar berasal dari Uni Eropa (22%), intra-ASEAN (16%), Jepang (11%), dan Amerika Serikat (11%). Pencapaian rekor nilai arus investasi asing yang masuk ke ASEAN tersebut, menurut Kurniadi, ditopang oleh tingginya nilai arus investasi asing yang masuk ke Singapura (35,5 miliar dollar), Indonesia (US$ 13,3 miliar), Malaysia ( US$ 9,1 miliar), dan Vietnam (US$ 8 miliar),

Menurut survei ASEAN-BAC (ASEAN-Business Advisory Council) 2011-2012 yang diumumkan baru-baru ini daya saing investasi Indonesia berada di urutan teratas dari 10 negara anggota ASEAN. Dari 405 responden yang disurvei, 50% responden memilih Indonesia sebagai negara tujuan utama investasi di kawasan ASEAN.

Setelah Indonesia, 46% responden memilih Vietnam sebagai negara tujuan investasi. Singapura, Thailand, dan Malaysia masing-masing di peringkat ke tiga hingga lima. Sedangkan di posisi akhir, ditempati oleh Brunei Darussalam yang hanya dipilih oleh 17% responden. "Tujuan investasi teratas adalah Indonesia, diikuti oleh Vietnam, Singapura, Thailand, dan Malaysia," ungkap analis ASEAN-BAC Marn-Heong Wong dari Universitas Nasional Singapura.

Alfred Pakasi, sebagai CEO di vibizconsulting, menambahkan bahwa bahwa kalau Indonesia ditargetkan menjadi pusat investasi di Asean itu sangat mungkin. Potensi sumber daya yang paling berlimpah di antara negara-negara kelompok Asean dan sekitarnya jelas Indonesia. Dari sisi sumber daya alam maupun manusia, Indonesia memiliki banyak keunggulan. Ini semua merupakan modal besar untuk menjadi pusat investasi. Tetapi belum cukup, masih ada aspek-aspek lain perlu dilengkapi. Seperti Singapura, misalnya, negeri itu sangat terbatas sumber dayanya, tetapi telah menjadi pusat lalu lintas investasi dan perdagangan kawasan. Itu sebabnya perlu ditingkatkan lagi kualitas dan kompetensi sumber daya insan manusia Indonesia sehingga lebih kreatif dan profesional di era perdagangan global. Siapa yang berperan untuk ini? Kita bisa mulai dari diri kita sendiri.