Kemenperin Alokasikan Rp 4,9 M untuk IKM di Yogyakarta

Rabu, 10/10/2012

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian mengalokasikan dana sebesar Rp 4,9 miliar untuk mengembangkan Industri Kecil dan Menegah (IKM) di Yogyakarta,Pasalnya di kota pelajar ini terdapat 78 ribu IKM yang memproduksi,batik , tenun, produk kulit, kayu, rajut, perak, tembaga, kerajinan wayang, herbal, aneka makanan.

Hasbi Assidiq Syamsuddin, Direktur Industri Kecil Menengah III Kementerian Perindustrian, menuturkan dari IKM Yogyakarta sangat potensial dan pasar ekspor mencapai 3% sampai 4%. Oleh karena itu, potensi tersebut akan terus ditingkatkan sehingga menjadi komoditas perdagangan yang memiliki daya saing tinggi.

Lebih jauh lagi Hasbi memaparkan, Yogyakarta merupakan salah satu barometer produk kerajinan yang kaya akan kreativitas dan menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan wisatawan selama ini.Sehingga sangat perlu untuk di tingkatkan lagi. Hasbi menilai produk industri kreatif dari Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki nilai seni tinggi dan ciri khas tersendiri sehingga berpotensi besar untuk dikembangkan ke pasar ekspor. "Desainnya cantik dan menarik serta memiliki nilai seni yang tinggi sehingga potensi ekspornya besar," kata Hasbi usai pembukaan pameran Industri Kreatif Yogyakarta di Jakarta, Selasa (9/10).

Dia mengatakan, 48 IKM yang mengikuti pameran itu memiliki desain kreasi yang luar biasa dengan bahan baku alamiah. Hasbi mencontohkan, lukisan dengan bahan baku pasir yang dijual dengan harga puluhan juta rupiah.

Menurut Hasbi, industri kreatif khususnya IKM relatif tidak perlu modal yang terlalu besar sehingga berpotensi besar untuk dikembangkan lebih besar. Dia merinci, salah satunya produk IKM banyak menggunakan bahan baku dari dalam negeri ada pasir bertasbih yang ditampilkan dalam pameran itu. "Kelebihan industri kreatif itu tidak terlalu terkait dengan krisis dunia karena menggunakan bahan baku yang banyak tersedia," ujarnya.

Kepala bidang Industri logam, Sandang dan Aneka Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Polin M W Napitupulu mengatakan Yogyakarta memiliki tiga potensi produk IKM seperti kayu, batik, dan lurik. Menurut dia, ekspor produks IKM itu menyumbang sebesar 3-4 % dari keseluruhan ekspor produk Yogyakarta. "Tiap tahun sekitar 78 ribu IKM di Yogyakarta itu bisa meningkatkan pendapatan daerah," kata Polin.

Dia mengatakan, untuk produk kerajinan kayu saat ini sedang menurun namun kondisi itu akan bangkit dengan mengintensifkan penjualan di dalam negeri. "Meningkatkan Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), dengan Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan semua produk," ujarnya.

Di tempat berbeda, Drs Sugeng Sanyoto dari Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta mengatakan, batik masih menjadi potensi Industri Kecil Menengah (IKM) unggulan di Kota Yogyakarta. Tercatat ada 108 unit usaha berada di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Mantrijeron, Kecamatan Kraton dan Kecamatan Wirobrajan. Menyusul kerajinan perak di Kecamatan Kotagede, kerajinan kulit di Kecamatan Wirobrajan, cor logam/aluminium di Kecamatan Umbulharjo, bakpia di Kecamatan Ngampilan, kerajinan kayu, kerajinan serat alam/natural dan industri kreatif. "Sebagai Industri Kecil Menengah, Batik mampu menyerap 892 tenaga kerja," paparnya.

Dalam pelatihan yang digelar Subdirektorat PPKB Direktorat Kemahasiswan UGM Bekerja sama dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, animo peserta sangat tinggi. Hal itu telihat dari antusiasme banyak peserta yang mendaftarkan diri meski kuota pendaftaran sudah memenuhi target. Antusiasme pun terlihat manakala berlangsung pada sesi tanya jawab, banyak peserta menanyakan hal-hal berkaitan usaha yang telah mereka jalani dan solusi untuk meningkatkan usaha. "Melalui kegiatan ini saya berharap para pedagang Usaha Kecil dan Menengah dapat mengembangkan usaha menjadi lebih maju dan mandiri dalam hal pengelolaan keuangan," ungkap Ibnu Wahid.