Dirut BEI Kembali Tagih Janji IPO BUMN

Masih Sulit Direalisasikan

Selasa, 09/10/2012

NERACA

Jakarta – Memasuki akhir tahun yang tinggal dua bulan lagi, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menagih janji rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan menawarakan saham BUMN untuk listing di Bursa Efek Indonesia. Pasalnya, hingga saat ini belum ada satupun BUMN mencatatkan sahamnya di pasar modal.

Menurut Direktur Utama BEI, Ito Warsito, penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) BUMN bisa membawa nilai positif terhadap perkembangan pasar modal Indonesia. “Namun sayangnya, IPO BUMN tersebut tampaknya masih akan sulit direalisasikan,”katanya di Jakarta, Senin (8/10).

Dia menuturkan, selama ini rencana BUMN go public selalu disambut positif para pelaku pasar. Akan tetapi masih terganjal di Dewan Perwakilan Daerah (DPR). Selama 21 tahun ini, lanjut Ito baru ada sekitar 18 BUMN dari 140 BUMN yang telah mencatatkan sahamnya di bursa. Padahal, pencatatan saham di bursa akan membawa dampak positif bagi pasar modal dan perusahaan yang bersangkutan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Telkom (Persero) Tbk, dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk. yang mencatatkan kinerja yang baik.

Ito mengakui, dari beberapa BUMN yang meski sudah terdaftar di bursa, masih ada yang belum menjunjukkan kinerjanya secara optimal. “PT Kimia Farma (Persero) Tbk dan PT Indofarma (Persero) Tbk, memang belum bagus, tapi masih banyak juga BUMN yang semakin sukses setelah terdaftar di bursa.” jelasnya.

Dia menambahkan, peran pemerintah untuk mendukung IPO BUMN sangat diperlukan karena dalam realisasinya rencana IPO tersebut kerap terganjal di gedung Dewan. Sementara untuk ukuran berhasil atau tidaknya, menurut dia sangat sederhana, bisa dilihat nilai kapitalisasi pasarnya meningkat atau tidak.

Harga Komoditas Melemah

Selain itu, Ito juga menilai pelemahan harga komoditas dunia memicu calon emiten menurunkan atau mengurangi pelepasan jumlah saham ke public, “Ada beberapa perusahaan menurunkan nilai jumlah sahamnya ketika melakukan IPO terutama perusahaan yang berhubungan dengan industri kelapa sawit,"ungkapnya

Menurut dia, diturunkannya saham yang di lepas ke publik agar dapat terserap seuruhnya. Selain itu, jika perusahaan perlu menambah modal kembali maka dapat melakukan penerbitan saham baru (rights issue). "Jika IPO sudah dilakukan dan masih membutuhkan dana tambahan ekspansi, maka emiten dapat melepas kembali sahamnya ke publik dengan penerbitan saham baru (rights issue)," ujar dia.

Salah satu emiten yang menurunkan jumlah saham yang di lepas ke publik yakni PT Provident Agro Tbk (PALM). Emiten itu mencatatkan saham perdana di BEI Senin dengan menurunkan porsi saham yang dilepas ke publik menjadi 13,4% dari 25%.

Direktur Investment Banking, PT Indo Premier Securities, Moleonoto selaku penjamin emisi PALM mengatakan, penurunan porsi saham yang dilepas ke publik karena manajemen PALM sudah mendapatkan dana yang dibutuhkan untuk ekspansi usaha.

Menurut dia, harga saham yang ditawarkan sebesar Rp450 per lembar saham dinilai sudah cukup untuk menunjang pengembangan usaha perseroan ke depannya. "Untuk pendanaan tambahan, ada dua sampai tiga bank yang sudah menawarkan kepada perseroan untuk memberikan pinjaman dana demi kebutuhan ekspansi selanjutnya," katanya. (lia)