ADB: Indonesia Akan Tumbuh 6,3% di 2012 dan 6,6% di 2013

Kamis, 04/10/2012

NERACA

Jakarta -Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan Indonesia akan mempertahankan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB)-nya sebesar 6,3% pada 2012 dan 6,6% pada 2013 dengan laju inflasi masing-masing 4,4% dan 4,5%, meski terjadi pelemahan permintaan global.

Edimon Ginting, senior country economist untuk Indonesia, Rabu (3/10), mengatakan bahwa kuatnya kontribusi investasi dan belanja pemerintah, didukung oleh naiknya konsumsi swasta memiliki pengaruh kuat dalam mengatasi dampak pelemahan ekspor.

“Kuatnya pertumbuhan ini didukung oleh optimisme konsumen dan bisnis yang tetap kuat, sementara di sisi lain, investasi swasta dan publik mampu mengompensasi pelemahan ekspor,” kata Edimon.

Meski melemah, imbuh dia, kontribusi ekspor pada pertumbuhan diperkirakan pulih secara bertahap mulai September 2012. “Risiko dari ketidakpastian zona Euro dan global tetap ada namun pemerintah sudah siap dengan kebijakan ansitispatif,” kata Edimon.

Risiko

Namun di sisi lain, Indonesia juga menghadapi sejumlah risiko dalam mencapai pertumbuhan itu. “Risikonya antara lain dalah pelarian modal akibat ketidakpastian global, penurunan ekspor yang tajam,” kata dia.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengajak para pengusaha untuk fokus pada sektor domestik ketimbang ekspor. "Pelajaran dari krisis lalu, ekonomi domestik kita tidak terpengaruh oleh krisis global sehingga kita tidak perlu mengikuti strategi ekonomi negara lain. Khususnya mereka fokus pada ekspor. Padahal, sektor domestik kita begitu memerlukan," kata SBY dalam sambutannya di Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin di Jakarta, Selasa (2/10/).

Menurut SBY, dengan kebutuhan domestik yang besar, peluang bisnis untuk menggarap pasar domestik tersebut juga besar.

Dengan terfokus pada pasar domestic, taraf perekonomian dalam negeri diharapkan dapat meningkat mengingat selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik yang besar.

"Dalam 5-10 tahun ke depan, kalau kita bisa melakukan fokus bisnis dan memperbesar konsumsi domestik, kita tidak perlu takut pada ancaman krisis global. Ekonomi Indonesia tetap bisa tumbuh karena konsumsi domestik begitu besar," kata SBY.

Asia Melambat

Laporan ADB tersebut merupakan bagian dari proyeksi yang dikeluarkan Rabu, di mana organisasi itu memproyeksikan pertumbuhan Asia sebesar 6,1% pada 2012 dan pertumbuhan 2013 sebesar 6,7%, turun tajam dari 7,3% pada 2011. Menurut ADB, target tersebut turun drastis menyusul pertumbuhan tajam pada tahun-tahun sebelumnya. Asia, kata ADB, harus menghadapi pertumbuhan moderat selama beberapa periode akibat berlanjutnya penurunan permintaan global.

“Asia harus beradaptasi pada lingkungan pertumbuhan yang moderat, dan negara-negara di kawasan harus berbuat lebih banyak untuk mengurangi ketergantungan mereka pada ekspor, menyeimbangkan kembali sumber-sumber pertumbuhan mereka serta meningkatkan produktivitas dan efisiensi,” kata Changyong Rhee, ekonom kepala di ADB.

Menurut dia, kebijakan seperti itu sangat penting dalam upaya kawasan untuk terus mengentaskan kemiskinan. Penurunan pertumbuhan dua raksasa Asia, China dan India, akibat perlambatan global telah memukul optimisme sebelumnya.

Laporan tersebut mencatat bahwa krisis utang asing yang berkepanjangan di zona Euro dan memburuknya fiskal di Amerika Serikat bisa menyeret kawasan lain di dunia, terutama Asia.

Rhee juga mengatakan bahwa booming industri jasa bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang kuat dan penciptaan lapangan kerja di Asia. Namun, kata dia, potensi sebenarnya dari sektor ini terganggu oleh berbagai hambatan dan birokrasi. “Sejumlah regulasi menghambat kompetisi dan menganggu perkembangan sektor jasa, memengaruhi segalanya, mulai toko di ujung jalan hingga telepon seluler,” kata Rhee.

Menurut dia, hambatan-hambatan itu harus dimusnahkan sehingga semua orang, terutama kaum miskin bisa ikut menikmati peluang pertumbuhan.

Sektor jasa saat ini menyumbang hampir setengah output Asia. Dalam laporan ADB disebutkan bahwa sektor ini menyumbang 2/3 pertumbuhan di India antara 2000 dan 2010 dan lebih dari 40 persen di China. Layanan ini juga merupakan sumber lapangan kerja yang sangat besar, mempekerjakan 34% dari total pekerja di kawasan.