Antisipasi Aksi Tawuran

Sabtu, 06/10/2012

NERACA

Diperlukan sinergi yang jelas dari semua pihak untuk mencari langkah tepat guna meredam dan mengantsisipasi aksi tawuran pelajar yang semakin brutal.

Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Tawuran pelajar menyisakan duka dan kepedihan yang mendalam bagi keluarga korban. Putra yang mereka bangggakan berpulang hanya karena hal yang terkadang sepele. Bukan hanya itu, seringkali korban adalah mereka yang tidak tahu menahu menjadi korban karena menggunakan atribut sekolah yang menjadi musuh pelaku tawuran.

Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama seperti cedera atau bahkan tewas.

Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain.

Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja(juvenile deliquency).Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik.

Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti anggotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.

Aksi tawuran pelajar menunjukkan grafik yang terus meningkat, maka diperlukan sinergi yang jelas dari semua pihak untuk mencari langkah tepat guna meredam dan mengantisipasi aksi tawuran pelajar yang semakin brutal.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah merumuskan sejumlah solusi praktis jangka pendek dalam merespon tawuran antarpelajar yang terus berulang. Solusi praktis ini ini membutuhkan peran aktif dari berbagai pihak, mulai dari siswa sendiri, orang tua, sekolah, hingga aparat keamanan.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, mengajak polisi bersama-sama untuk melakukansweepinganak-anak sekolah yang membawa barang mencurigakan. Kepala sekolah dan guru juga diminta untuk mencermati perilaku dari anak didiknya dengan jeli. Persoalan sosial yang melatarbelakangi kehidupan anak didik perlu diamati dengan saksama untuk melakukan pendampingan yang efektif.

Selain itu, Kemendikbud akan mengurus dispensasi bersama dengan dewan dan komite sekolah untuk lebih sering melakukan pertemuan guna melihat langsung apa yang terjadi di lapangan dalam waktu dekat.

Pihak kepolisian pun kini akan lebih mengintensifkan penanganan aksi tawuran ini. Sebab, pelaku aksi tawuran kini sudah memasuki ranah kriminal, di mana pelaku membawa senjata tajam untuk melukai musuhnya. Selain itu, petugas akan menyiapkan kendaraan khusus bila melihat ada gerombolan pelajar di jalan. Kehadiran kendaraan khusus ini untuk memecah kerumunan pelajar yang selalu menjadi awal mula aksi tawuran terjadi.