Pefindo Garap Peringkat Surat Utang Senilai Rp24,9 Triliun

Rabu, 03/10/2012

NERACA

Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat saat ini sedang memproses pemeringkatan surat utang untuk 23 perusahaan senilai Rp24,9 triliun. "Ada sebanyak 23 perusahan yang sedang proses dan nilainya Rp24,9 triliun, “kata Direktur Utama Pefindo, Ronald Kasim di Jakarta, Selasa (2/10)

Dia mengatakan, pihaknya telah mendapatkan mandat untuk 61 pemeringkatan surat utang senilai Rp56,7 triliun dari periode Januari hingga Agustus 2012. Sementara sampai dengan Agustus 2012, pihaknya mencatat telah menyelesaikan 37 pemeringkatan surat utang dengan nilai Rp46,4 triliun.

Selain pemeringkatan surat utang, lanjut Ronald, perseroan juga telah menerima mandat untuk 69 pemeringkatan perusahaan di mana sebanyak 45 perusahaan untuk pemeringkatan perusahaan yang sudah dilakukan, sedang sebanyak 34 perusahaan sedang dalam proses.

Adapun jasa pemeringkatan yang dalam pipeline berdasarkan sektor usaha antara lain sektor perbankan ada 9 perusahaan dengan nilai Rp13,3 triliun, pembiayaan ada 6 perusahaan dengan nilai Rp5,55 triliun, sektor kimia ada satu perusahaan senilai Rp1,50 triliun.

Kemudian sektor elektrikal senilai Rp1 triliun, sektor pertambangan senilai Rp1 triliun, sektor properti senilai Rp700 miliar, sektor konstruksi senilai Rp600 miliar, sektor ritel senilai Rp500 miliar, sekuritas senilai Rp500 miliar, dan perhotelan senilai Rp300 miliar.

Selain itu, ada 130 perusahaan yang ratingnya berlaku antara lain ada 7 perusahaan mendapatkan rating AAA, 38 perusahaan mendapatkan rating AA, 57 perusahaan mendapatkan rating A, 25 perusahaan mendapatkan rating BBB, dan tiga perusahaan mendapatkan rating BB dan lebih rendah.

Pemeringkatan BUMN

Sementara Direktur PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Salyadi Saputra, perseroan juga sedang berupaya untuk mendapatkan mandat memberikan peringkat terhadap 30 perusahaan badan usaha milik negara (BUMN). “Kami berharap 30 BUMN ini segera akan meminta pemeringkatan kepada Pefindo,” jelasnya.

Menurut Salyadi, dari 140 BUMN yang masih beroperasi, hanya 120 perusahaan yang layak diberi peringkat. Sementara, sampai dengan saat ini, lanjut Salyadi sudah ada sebanyak 31 BUMN yang mendapatkan peringkat dari Pefindo. “Sebanyak 5 BUMN mendapat rating AAA, 12 BUMN mendapat AA, 12 BUMN lainnya mendapat A, dan dua BUMN sisanya mendapat rating BBB.” paparnya.

Dalam menentukan rating BUMN tersebut, Salyadi menjelaskan bahwa yang termasuk dalam penilaian pemberian rating adalah kemampuan bayar utang perusahaan tersebut dan hal itu tentu sangat dipengaruhi oleh pihak di belakang mereka, yaitu pemerintah.

Meskipun demikian, dia mengakui bahwa tidak semua BUMN dapat dibantu pemerintah jika terdapat kesulitan keuangan, sehingga dengan adanya pemeringkatan yang dilakukan Pefindo juga akan membantu mencari faktor-faktor yang menjadikan penilaian bahwa BUMN ini bisa dibantu atau tidak.

Selain 31 BUMN yang sudah diberi peringkat, Pefindo juga sedang menggarap pemeringkatan terhadap 13 BUMN berdasar mandat yang telah diterima dari pemerintah. Jadi, lanjut Salyadi, apabila rencana 30 BUMN dapat dikabulkan pemerintah, jumlah BUMN yang diperingkat oleh Pefindo bisa mencapai hingga 70 BUMN atau sekitar 50% dari jumlah BUMN yang ada.

Salyadi menambahkan, dengan dilakukannya pemeringkatan terhadap BUMN, masyarakat bisa mendapatkan hasil kualitas kinerja BUMN dengan lebih luas. Karena itu, agar hasilnya lebih tepat, Pefindo menyiapkan metodologi rating baru untuk pemeringkatan BUMN yaitu dengan metodologi for Government Related Entities (GRE). (lia)