Penjualan Turun 10%, Bakrie Sumatera Pilih Konsolidasi

Tambah Lahan Baru 500 Hektar

Senin, 01/10/2012

NERACA

Jakarta – Melemahnya harga komoditas yang sangat drastis tahun ini, memberikan dampak signifikan bagi emiten produsen kelapa sawit dan termasuk yang dialami PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Pasalnya, perseroan mencatatkan penurunan penjualan lebih dari 10% pada semester pertama tahun ini.

Direktur Utama UNSP, Bambang Arya Wisena mengatakan, terjadinya penurunan harga yang signifikan secara otomatis menurunkan penjualan dan tentunya akan mengurangi laba perseroan. “Karena itu di tahun ini akan dijadikan perseroan sebagai tahun konsolidasi atau penambahan lahan baru sampai dengan akhir tahun ini,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Penambahan lahan baru, lanjut dia, rencananya baru akan dilakukan tahun depan. Menurut Bambang, saat ini perseroan baru melakukan replanting. Selain itu perseroan juga berencana untuk membangun pabrik karet di tempat tersebut. “Penambahan lahan baru untuk tahun depan sekitar 500 hektar di Sumatera Selatan,” ujarnya.

Meskipun demikian, pihaknya saat ini menjadi lebih berhati-hati karena adanya rencana beberapa negara asia untuk mengurangi volume ekspor, di mana hal itu merupakan salah satu hasil dari pertemuan 3 negara penghasil karet alam terbesar di dunia, yaitu Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

Ketiga negara sepakat akan mengurangi ekspor karet sebanyak 300 ribu ton dan melakukan peremajaan tanaman karet di masing-masing negara. Hal tersebut diklaim untuk mengatasi harga karet alam yang terus mengalami penurunan belakangan ini.

Indonesia misalnya, mengusulkan formula untuk pengurangan ekspor yang didasarkan pada data ekspor 3 tahun yaitu 2009-2011. Diperkirakan dengan usulan tersebut, Indonesia hanya memperoleh 39% dari 300 ribu ton atau sekitar 117 ribu. Sementara Thailand, akan mengurangi sebanyak 48% atau 143 ribu ton, dan Malaysia 13% atau sekitar 40 ribu ton.

Anggaran Belanja Modal

Sebelumnya, Bambang mengatakan untuk menggenjot penjualan produk turunan sawit, pihaknya menyiapkan anggaran belanja senilai US$40 juta tahun ini. “Kami siapkan total capex sebesar US$40 juta tahun ini, US$20 juta untuk oleo dan sisanya untuk perkebunan dan lain-lain,” ujarnya setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Jakarta.

Total dana tersebut diharapkan dari kas internal dan pinjaman bank. Anggaran belanja tahun ini digunakan untuk penyelesaian fasilitas oleokimia yang berlokasi di Kuala Tanjung. Pihaknya berharap produk turunan sawit akan berkontribusi sebesar 42,85% dari total penjualan selama 2012.

Rencananya, pada semester kedua tahun ini, perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Bakrie ini akan segera mengoperasikan sebuah pengilangan (refinery) untuk memproduksi minyak goreng di Kuala Tanjung. Selain itu, sebuah fasilitas pengolahan fatty acid dengan kapasitas 300 ton/hari dan fatty alcohol dengan kapasitas produksi 100 ton/hari juga dalam tahap penyelesaian.

Pada kuartal pertama tahun ini, perseroan mencatatkan terjadinya penurunan laba bersih sebesar 63,66% menjadi Rp84,07 miliar dari Rp231,34 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan laba bersih perseroan terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan usaha sebesar 6,89% menjadi Rp393,87 miliar dari Rp423,02 miliar pada periode yang sama tahun 2011.

Kondisi tersebut disebabkan oleh penjualan bersih yang turun sebesar 11,4% menjadi Rp1,01 triliun pada kuartal pertama 2012 dari periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,14 triliun. Sejalan dengan itu, pada periode yang sama, margin laba bersih perseroan pun ikut tergerus sebesar 60,97% menjadi 21,34% dari periode yang sama 2011 sebesar 54,69%. (bani)